Rupiah Tembus 18.000! Dr. Anton Permana: 60% Dunia Maya Kita Adalah Bot, Indonesia Dalam Perang Kognitif

- Jurnalis

Selasa, 11 Agustus 2026 - 12:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAYAKUMBUH — “Kita tidak sadar bahwa kita dalam keadaan perang sekarang. Bukan perang fisik dan militer, tapi asymmetric war, hybrid war, dan cognitive warfare.” Dr. H. Anton Permana, SIP, MH membuka diskusi geopolitik di podcast Kusieh Bendi dengan analisis tajam tentang ancaman yang menggerogoti kedaulatan Indonesia — dari perang informasi hingga mentalitas terjajah.

Perang Kognitif: Musuh di Dalam Kepala

Anton menjelaskan bentuk perang modern yang paling berbahaya: cognitive warfare. “Perang ekonomi, perang dagang — sekarang lebih modern lagi, perang cognitive warfare. Perang informasi. Sehingga masyarakat kita: mana pilih tas LV atau Siwuyut? Dia pasti lebih LV dong.”

Ini bukan kebetulan. “60% dunia maya kita semuanya bot dan produksi dari kelompok-kelompok tertentu yang ingin menciptakan kegaduhan dan kebingungan di masyarakat. Mereka ini orang-orang bayaran. Itu enggak natural.”

Rupiah 18.000: Psikologis atau Real?

“Sekarang dolar sudah — secara psikologis — 18,000,” ujar Anton. Ia menyoroti tekanan pada APBN dengan jatuh tempo utang mencapai 800 triliun rupiah. Namun di sisi lain, cadangan devisa Indonesia masih mampu meng-cover kebutuhan.

Baca Juga:  Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?

Yang lebih mengkhawatirkan adalah mentalitas konsumtif terhadap produk luar negeri. “Salah satu kegagalan kolektif kita adalah kita tidak pernah menjadi diri kita sendiri. Kita punya tanah, punya sungai, punya padi, punya sawah, lahan nganggur tidur — kok enggak kita manfaatkan? Ngapain bergantung ke luar?”

Koreksi Arah Kebijakan

Anton mengapresiasi pergeseran kebijakan di era Prabowo yang mulai memperbaiki hal-hal fundamental. “Selama ini kita terlalu liberal. Ketahanan pangan — kenapa enggak bisa? Enggak ada alasan Indonesia yang hanya dua musim masih impor-poran.”

Ia mencatat bahwa Indonesia kini sudah surplus beras 42 juta ton dan tidak perlu impor lagi. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan 37.000 titik distribusi, menurutnya, bertujuan membuat uang beredar di kelas menengah-bawah.

Baca Juga:  MENGUPAS DUNIA TEATER DAN BUDAYA BERSAMA YUSRIL KATIL

“Selama ini hanya dua kelas terjadi di 10 tahun pemerintahan Jokowi — elit dan bawah. Tengah enggak ada, tengah jatuh ke bawah,” kritiknya.

Pesan Fundamental

“Kewajiban dasar — masalah perut, sandang pangan, kesehatan, pendidikan — jangan sampai terabaikan. Kewajiban utama baru infrastruktur dan yang lain-lain.” Anton menekankan bahwa kunci kedaulatan Indonesia ada pada kemampuan memenuhi kebutuhan sendiri, bukan bergantung pada kekuatan asing.


Podcast Kusieh Bendi tayang setiap pekan di YouTube Dimensia Creative, membahas isu-isu strategis dari sudut pandang lokal Sumatera Barat. Ingin brand Anda tampil dalam diskusi berbobot seperti ini? Kami membuka peluang sponsorship — kunjungi dimensiacreative.com/proposal/ atau hubungi 0812-6349-2788.

Kategori: Video

Berita Terkait

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda
Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat
Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri
Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif
Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan
Pejabat Zaman Now: Ngonten untuk Transparansi, Bukan Sekadar Personifikasi Citra
Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan
Ibadah Bukan Tren, Bekal “Pulang Kampung”: Ustaz Afri Eki Rizal soal Haji & Umrah

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif

Minggu, 27 September 2026 - 21:09 WIB

Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB