Pengamat Timur Tengah Sebut Iran di Atas Angin dan Mempermainkan Amerika Serikat dalam Eskalasi Konflik

- Jurnalis

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf (Dok. Istimewa)

Foto: Pengamat Timur Tengah, Faisal Assegaf (Dok. Istimewa)

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Kecanggatan diplomasi Washington berbenturan keras dengan kalkulasi politik Teheran. Di tengah dentum serangan militer Paman Sam, dinamika geopolitik justru memperlihatkan manuver Iran yang kian solid mengendalikan panggung perseteruan.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di samping itu, eskalasi perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang kian memanas. Kendati Washington terus melancarkan tekanan militer secara terbuka, kalkulasi geopolitik di kawasan Teluk justru menunjukkan indikasi sebaliknya. Posisi gertakan militer yang dilancarkan pihak Barat dinilai tak lagi efektif meruntuhkan ketahanan domestik maupun manuver diplomasi Teheran.

“Pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Ayatullah Khamenei ya, ya kan sih tidak akan lagi percaya dengan Amerika Serikat. Terus juga sejauh ini juga belum ada dari pihak pemerintah ataupun tim negosiasi, baik Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf ataupun Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, untuk menerima tawaran negosiasi dari Amerika Serikat,” ujar Faisal Assegaf dalam program Breaking News, Kompas TV, Senin 3 Agustus 2026.

Penolakan keras dari jajaran elite politik Teheran tersebut mencerminkan konsolidasi kekuatan internal Iran yang sangat solid. Ketidakpercayaan mendalam terhadap komitmen politik Washington membuat Teheran enggan terjebak dalam perangkap dialog tanpa kepastian. Sebaliknya, hal ini memperlihatkan kebuntuan strategi pembendungan (containment strategy) yang diterapkan oleh Gedung Putih.

”Saya kira sekarang Iran sedang mempermainkan Trump, sedang mempermainkan Amerika Serikat, dan juga sedang mempermalukan Amerika Serikat. Trump berkali-kali mengancam, tapi akhirnya bilang sedang membuka pintu negosiasi atau negosiasi sedang berlangsung. Ini artinya bahwa Trump memang sudah kepayahan, Trump juga sudah frustrasi karena tidak mampu lagi menekan Iran. Iran tidak mampu ditekan dengan serangan, apalagi dengan ancaman,” ujar Pengamat Timur Tengah tersebut.

Baca Juga:  Trump Kembali Sebut Sepakat Damai dengan Iran, Selat Hormuz Kembali Dibuka

Menurut Faisal, retorika keras yang membalut kebijakan luar negeri Gedung Putih justru memperlihatkan kerapuhan konsistensi sikap Amerika Serikat di panggung global. Ketidakmampuan Washington dalam memaksakan kehendak politiknya terhadap Teheran semakin mempertegas pergeseran perimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan.

”Nah, ini akhirnya yang membuat sekarang Iran ada di atas angin, dan nantinya bisa memaksa ya Trump akhirnya mundur dari perang ini sendiri,” tegas Faisal.

Kekuatan posisi tawar Iran di meja diplomasi internasional sejatinya berakar kuat pada dukungan publik domestik yang kian masif. Tingginya sentimen anti-Amerika dan perlawanan terhadap agresi asing tercermin dari temuan-temuan riset opini publik terbaru di dalam negeri Iran.

”Emang hasil survei terbaru di Iran itu survei bulan lalu 75% rakyat Iran (ini survei dilakukan oleh stasiun televisi pemerintah Iran), 75% rakyat Iran percaya bahwa Trump dan Netanyahu harus dibunuh. Artinya ini dua opsi ini adalah untuk menghentikan apa intervensi atau permusuhan yang dilakukan oleh kedua negara,” tutur Faisal mengumbar data.

Baca Juga:  Hubungan Sulit Amerika dan Israel, Ditengah Upaya Damai Konflik Timur Tengah

Sentimen keras tersebut berbanding lurus dengan dukungan rakyat Iran terhadap penguasaan aset-aset strategis kawasan, khususnya jalur pelayaran vital perdagangan minyak dunia (chokepoint) di kawasan Teluk.

”Terus kemudian juga 77% (ini naik dari survei April, survei April 73,7%), sekarang 77% rakyat Iran setuju kalau Selat Hormuz tetap dalam kendali Iran,” lanjut Faisal.

Sementara di ranah militer, pertempuran fisik telah berkobar beberapa waktu lalu. Militer Amerika Serikat menyatakan telah melakukan gelombang serangan berat ke Iran. Langkah itu ditempuh sebagai balasan atas percobaan serangan rudal balistik Iran ke pasukan Amerika pada Selasa (28/07), demikian klaim militer AS.

Centcom mengatakan pihaknya menyasar “puluhan” target Korps Garda Republik Islam (IRGC) sebagai tanggapan atas gempuran Iran ke pangkalan-pangkalan AS di Yordania dan kapal-kapal di Selat Hormuz.

Dampak langsung dari aksi konfrontasi bersenjata ini merembet ke kawasan pemukiman warga sipil. Media pemerintah Iran mengatakan serangan terbaru AS itu telah menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak berusia dua tahun, di Pulau Qeshm. Serangan dilaporkan juga terjadi di wilayah selatan dan barat Iran.

Aksi saling serang terbaru ini terjadi setelah serangan gabungan pertama AS dan Arab Saudi terhadap milisi kelompok penyokong (proxy war) Iran di Irak, mempertegas bahwa ruang konflik tak lagi sebatas perang urat syaraf, tapi konfrontasi terbuka yang mengancam stabilitas geopolitik global.

Berita Terkait

Diplomasi Bola Liar: Korsel Buka Pintu Indonesia jadi Mediator dengan Pyongyang
Gertak Sambal di Jalur Minyak: Ketika Trump Memutar Haluan ke Meja Perundingan
Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak
Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran
Eks Dubes RI untuk Iran Ungkap Alasan Rakyat Iran Tak Takut Ancaman Militer AS
Trump Campur Tangan, FIFA Tangguhkan Hukuman Kartu Merah Striker Amerika Serikat Jelang Laga Kontra Belgia
Berikut Alasan Mengapa Belanda Membawa Tentara Maluku dan Permintaan Maaf PM Belanda, Rob Jetten
Keir Starmer Mengundurkan Diri: Badai Skandal dan Perselisihan Paksa PM Inggris Lepas Jabatan

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Pengamat Timur Tengah Sebut Iran di Atas Angin dan Mempermainkan Amerika Serikat dalam Eskalasi Konflik

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Diplomasi Bola Liar: Korsel Buka Pintu Indonesia jadi Mediator dengan Pyongyang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Gertak Sambal di Jalur Minyak: Ketika Trump Memutar Haluan ke Meja Perundingan

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:13 WIB

Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:04 WIB

Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran

Berita Terbaru

Pemkab Agam Transfer DBH Rp6,1 Miliar ke 92 Nagari. (Foto: Dok. ANTARA)

Daerah

Pemkab Agam Transfer DBH Rp6,1 Miliar ke 92 Nagari

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:35 WIB

UNAND Dorong Pengolahan Gambir Ramah Lingkungan di Pessel. (Foto: Dok. ANTARA)

Daerah

UNAND Dorong Pengolahan Gambir Ramah Lingkungan di Pessel

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:30 WIB

6 Jenis Buah yang Bisa Menurunkan Asam Urat. (Foto: Dok. Sumber Berita)

Kesehatan

6 Jenis Buah yang Bisa Menurunkan Asam Urat

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:25 WIB

7 Hobi yang Baik untuk Mental Anak, Asah Kreativitas. (Foto: Dok. Sumber Berita)

Gaya Hidup

7 Hobi yang Baik untuk Mental Anak, Asah Kreativitas

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:20 WIB

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Pakai Sidik Jari. (Foto: Dok. Sumber Berita)

Digital

Mahasiswa UGM Kembangkan Pembayaran Digital Pakai Sidik Jari

Jumat, 21 Agu 2026 - 13:14 WIB