ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Kecanggatan diplomasi Washington berbenturan keras dengan kalkulasi politik Teheran. Di tengah dentum serangan militer Paman Sam, dinamika geopolitik justru memperlihatkan manuver Iran yang kian solid mengendalikan panggung perseteruan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di samping itu, eskalasi perseteruan antara Amerika Serikat dan Iran memasuki babak baru yang kian memanas. Kendati Washington terus melancarkan tekanan militer secara terbuka, kalkulasi geopolitik di kawasan Teluk justru menunjukkan indikasi sebaliknya. Posisi gertakan militer yang dilancarkan pihak Barat dinilai tak lagi efektif meruntuhkan ketahanan domestik maupun manuver diplomasi Teheran.
“Pernyataan dari Pemimpin Tertinggi Ayatullah Khamenei ya, ya kan sih tidak akan lagi percaya dengan Amerika Serikat. Terus juga sejauh ini juga belum ada dari pihak pemerintah ataupun tim negosiasi, baik Ketua Parlemen Mohammed Bagher Ghalibaf ataupun Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, untuk menerima tawaran negosiasi dari Amerika Serikat,” ujar Faisal Assegaf dalam program Breaking News, Kompas TV, Senin 3 Agustus 2026.
Penolakan keras dari jajaran elite politik Teheran tersebut mencerminkan konsolidasi kekuatan internal Iran yang sangat solid. Ketidakpercayaan mendalam terhadap komitmen politik Washington membuat Teheran enggan terjebak dalam perangkap dialog tanpa kepastian. Sebaliknya, hal ini memperlihatkan kebuntuan strategi pembendungan (containment strategy) yang diterapkan oleh Gedung Putih.
”Saya kira sekarang Iran sedang mempermainkan Trump, sedang mempermainkan Amerika Serikat, dan juga sedang mempermalukan Amerika Serikat. Trump berkali-kali mengancam, tapi akhirnya bilang sedang membuka pintu negosiasi atau negosiasi sedang berlangsung. Ini artinya bahwa Trump memang sudah kepayahan, Trump juga sudah frustrasi karena tidak mampu lagi menekan Iran. Iran tidak mampu ditekan dengan serangan, apalagi dengan ancaman,” ujar Pengamat Timur Tengah tersebut.
Menurut Faisal, retorika keras yang membalut kebijakan luar negeri Gedung Putih justru memperlihatkan kerapuhan konsistensi sikap Amerika Serikat di panggung global. Ketidakmampuan Washington dalam memaksakan kehendak politiknya terhadap Teheran semakin mempertegas pergeseran perimbangan kekuatan (balance of power) di kawasan.
”Nah, ini akhirnya yang membuat sekarang Iran ada di atas angin, dan nantinya bisa memaksa ya Trump akhirnya mundur dari perang ini sendiri,” tegas Faisal.
Kekuatan posisi tawar Iran di meja diplomasi internasional sejatinya berakar kuat pada dukungan publik domestik yang kian masif. Tingginya sentimen anti-Amerika dan perlawanan terhadap agresi asing tercermin dari temuan-temuan riset opini publik terbaru di dalam negeri Iran.
”Emang hasil survei terbaru di Iran itu survei bulan lalu 75% rakyat Iran (ini survei dilakukan oleh stasiun televisi pemerintah Iran), 75% rakyat Iran percaya bahwa Trump dan Netanyahu harus dibunuh. Artinya ini dua opsi ini adalah untuk menghentikan apa intervensi atau permusuhan yang dilakukan oleh kedua negara,” tutur Faisal mengumbar data.
Sentimen keras tersebut berbanding lurus dengan dukungan rakyat Iran terhadap penguasaan aset-aset strategis kawasan, khususnya jalur pelayaran vital perdagangan minyak dunia (chokepoint) di kawasan Teluk.
”Terus kemudian juga 77% (ini naik dari survei April, survei April 73,7%), sekarang 77% rakyat Iran setuju kalau Selat Hormuz tetap dalam kendali Iran,” lanjut Faisal.
Sementara di ranah militer, pertempuran fisik telah berkobar beberapa waktu lalu. Militer Amerika Serikat menyatakan telah melakukan gelombang serangan berat ke Iran. Langkah itu ditempuh sebagai balasan atas percobaan serangan rudal balistik Iran ke pasukan Amerika pada Selasa (28/07), demikian klaim militer AS.
Centcom mengatakan pihaknya menyasar “puluhan” target Korps Garda Republik Islam (IRGC) sebagai tanggapan atas gempuran Iran ke pangkalan-pangkalan AS di Yordania dan kapal-kapal di Selat Hormuz.
Dampak langsung dari aksi konfrontasi bersenjata ini merembet ke kawasan pemukiman warga sipil. Media pemerintah Iran mengatakan serangan terbaru AS itu telah menewaskan tiga orang, termasuk seorang anak berusia dua tahun, di Pulau Qeshm. Serangan dilaporkan juga terjadi di wilayah selatan dan barat Iran.
Aksi saling serang terbaru ini terjadi setelah serangan gabungan pertama AS dan Arab Saudi terhadap milisi kelompok penyokong (proxy war) Iran di Irak, mempertegas bahwa ruang konflik tak lagi sebatas perang urat syaraf, tapi konfrontasi terbuka yang mengancam stabilitas geopolitik global.









