ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Iran, Dian Wirengjurit, membeberkan alasan mendasar mengapa masyarakat Iran sama sekali tidak gentar menghadapi rentetan ancaman militer dari Amerika Serikat di bawah rezim Donald Trump. Menurut dia, terdapat doktrin ideologis dan kultural yang mendalam di sanubari rakyat Iran mengenai konsep kematian dan perjuangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dian menegaskan bahwa strategi gertakan yang kerap dilancarkan oleh Donald Trump tidak akan mempan untuk mengintimidasi negara para mullah tersebut. Bagi warga Iran, gugur di medan laga demi membela kedaulatan negara bukanlah sebuah tragedi yang patut ditangisi, melainkan sebuah kehormatan tertinggi.
“Kematian buat orang Iran, buat warga Iran, bukan hal yang ditakutkan. Apalagi kalau kematian itu dalam perjuangan. Itulah makanya mereka bangga tewas dalam sebuah perjuangan, konkretnya dalam perang, martir,” ujar Dian Wirengjurit dalam sebuah dialog yang disiarkan oleh kanal YouTube tvOneNews, dikutip pada Selasa, 7 Juli 2026.
Menurut Dian, penghormatan terhadap para martir atau pejuang yang gugur di Iran sangatlah masif dan terus dirawat oleh negara. Hal ini terlihat dari visualisasi ruang publik di berbagai sudut kota hingga pedesaan di Iran yang selalu dipenuhi oleh memorabilia para pejuang mereka.
“Foto-foto pahlawan Iran-Irak perang dulu itu semua ada di jalanan. Di mana jalan utama di mana martir itu berasal… sampai detik ini selalu dipasang,” kata Dian menjelaskan bagaimana nilai-nilai perjuangan tersebut diabadikan di tengah masyarakat.
Lebih lanjut, mantan diplomat senior ini mengungkapkan bahwa pemerintah Iran memberikan jaminan sosial yang sangat kuat bagi keluarga yang ditinggalkan oleh para pejuang. Skema jaminan ini menghilangkan kecemasan domestik yang biasanya menghantui para prajurit sebelum berangkat ke medan perang.
“Yang membuat mereka bangga kalau mereka menjadi martir, keluarganya ditanggung pemerintah. Istrinya sampai tidak ada, anak-anaknya sekolahnya ditanggung. Jadi apalagi yang mereka takutkan?” tutur Dubes RI untuk Iran periode 2012-2016 tersebut.
Oleh karena itu, Dian menilai reaksi Donald Trump yang menuduh kesedihan publik Iran atas kematian pemimpin atau jenderal mereka sebagai “tangisan palsu” merupakan bentuk ketidakpahaman total terhadap psikologi massa di sana. Ancaman bom ataupun serangan destruktif dari Washington tidak akan menyurutkan perlawanan, karena struktur pertahanan sipil Iran sudah terlatih, termasuk melalui program wajib militer yang menyentuh hingga ke pelosok desa.
Meskipun kekuatan militer konvensional Amerika Serikat jauh lebih besar, Dian mengingatkan bahwa Iran memiliki kemampuan asimetris yang mematikan di kawasan Timur Tengah. Hubungan geopolitik dan militer Iran dengan jejaring sekutunya di kawasan menjadi kartu as yang membuat penasihat militer AS di Gedung Putih harus berpikir ulang sebelum benar-benar meluncurkan agresi.
“Mungkin Iran tidak bisa membalas langsung ke Washington, ke New York, pusat-pusat ekonomi dunia di sana. Tapi paling tidak mitranya di Timur Tengah hancur lebur juga, itulah Israel,” ucap Dian.
Di akhir pernyataannya, ia meyakini bahwa meski Trump kerap melontarkan retorika perang yang agresif di media sosial, para penasihat militer dan tenaga ahli Amerika Serikat dipastikan akan tetap bersikap realistis demi mencegah kehancuran sekutu terdekat mereka di kawasan tersebut.









