ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Suhu geopolitik di Semenanjung Korea berpeluang memasuki babak baru pasca-sinyal hijau yang dipancarkan oleh pemerintah Seoul. Pemerintah Korea Selatan menyambut positif kesiapan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto untuk melawat ke Pyongyang guna menjembatani dialog yang membeku antara dua negara serumpun tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kantor Presiden Lee Jae-Myung menilai doktrin politik luar negeri bebas-aktif yang konsisten dianut Jakarta menjadi diplomatic leverage yang sangat berharga. Hubungan sejarah dan diplomasi Indonesia yang tetap terjalin hangat baik dengan Seoul maupun Pyongyang dipandang sebagai modalitas kunci untuk memecah kebuntuan (deadlock) geostrategis di kawasan Asia Timur.
”Kalau yang mulia minta saya untuk ke Korea Utara, saya akan berangkat,” tegas Presiden Prabowo Subianto saat menceritakan kembali percakapannya dengan Presiden Lee Jae-myung dalam tatap muka bersama pengusaha di Istana Negara, Jumat, 31 Juli 2026.
Pernyataan tersebut merespons permohonan langsung Presiden Lee saat kunjungan kerja Prabowo ke Korea Selatan sebelumnya. Seoul yang berulang kali menemui tembok tebal dalam membuka saluran komunikasi bilateral secara langsung dengan rezim Pyongyang, kini aktif menjajaki back-channel diplomacy melalui negara ketiga yang memiliki posisi netral serta tidak terikat pada blok geopolitik mana pun.
Bagi Seoul, keterlibatan aktif Jakarta diharapkan mampu membangun confidence-building measures yang selama ini absen di koridor Semenanjung Korea.
Indonesia dinilai memiliki diplomatic weight tersendiri di mata Pyongyang berkat warisan relasi historis yang membentang sejak era pimpinan terdahulu.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada rincian jadwal resmi maupun rancangan kerangka kerja (diplomatic protocol) terkait agenda kunjungan Kepala Negara ke Korea Utara. Kesiapan yang ditegaskan Prabowo sejauh ini memosisikan Indonesia sebagai honest broker yang siap melangkah apabila komitmen formal serta saluran perundingan resmi telah difinalisasi secara tertulis oleh kedua belah pihak.
Langkah diplomasi tingkat tinggi (high-level diplomacy) ini menegaskan ambisi Jakarta untuk memainkan peran proaktif dalam menjaga stabilitas keamanan global.









