Aktivis Madrid Ramadhan Sebut Kesejahteraan Tak Boleh Dibangun di Atas Kesengsaraan Tanah

- Jurnalis

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:46 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar Madrid Ramadhan dalam channel YouTube Dimensia Creative, program Kusieh Bendi, diunggah pada 1 Juli 2026

Tangkapan layar Madrid Ramadhan dalam channel YouTube Dimensia Creative, program Kusieh Bendi, diunggah pada 1 Juli 2026

ARGUMENRAKYAT.COMSUMBAR – Gelombang konflik agraria dan ancaman kerusakan lingkungan di Sumatra Barat serta berbagai daerah di Indonesia memicu sorotan tajam dari kalangan aktivis muda. Maraknya alih fungsi lahan komunal dan proyek pembangunan yang kerap mengabaikan hak-hak masyarakat adat dinilai sebagai ancaman serius bagi identitas kultural serta keberlanjutan masa depan masyarakat lokal.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aktivis yang juga merupakan Paralegal LBH, Madrid Ramadhan menegaskan bahwa arah kebijakan pembangunan nasional maupun daerah harus mengedepankan asas keadilan serta partisipasi masyarakat secara substantif. Ia menilai, model pembangunan yang mengesampingkan suara warga terdampak hanya akan memicu eksploitasi yang merusak tatanan sosial dan ekologi.

“Tidaklah mungkin sebuah kesejahteraan pembangunan itu dibangun di atas kesengsaraan tanah itu sendiri,” katanya dalam tayangan Podcast Kusieh Bendi yang diunggah pada 1 Juli 2026 di channel YouTube Dimensia Creative.

Baca Juga:  Napas Spiritual Minangkabau: Deretan Nama Ulama dengan Kiprah Besar

Menurut Madrid, pola intervensi modal dan korporasi sering kali meninggalkan dampak ekologis yang membahayakan tanpa adanya pertanggungjawaban pemulihan yang memadai. Berbeda halnya dengan aktivitas pengelolaan yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat lokal, di mana kesadaran untuk menjaga dan merehabilitasi lingkungan masih dipegang teguh.

“Kalau tambang rakyat sejatinya rakyat akan tahu bagaimana cara memulihkannya kembali, mereklamasi nya, tanah yang telah dikeruk untuk menghasilkan sebuah emas dan harapan kita seperti itu,” tuturnya.

Madrid juga memberikan catatan soal koorporasi yang dalam dunia pertambangan dengan mengatakan, ”Masalahnya kalau tambang yang dibekingi korporat itu sangat susah sekali karena sudah melakukan kerusakan mereka pergi saja,” ujar Madrid.

Ia juga menyentil fenomena abainya masyarakat urban terhadap isu pertanahan. Madrid mengingatkan bahwa kedaulatan atas tanah di tingkat hulu sangat menentukan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat di wilayah perkotaan.

“Kedaulatan tanah ini yang harus kita pertahankan untuk sebuah kesejahteraan,” tutur alumnus UNP itu.

Baca Juga:  Sepenggal Cerita Mengenang Kepergian Buya Malin Putiah

Lebih jauh, Madrid menyoroti makin tergerusnya pemahaman generasi muda terhadap status dan silsilah tanah ulayat di Ranah Minang. Penguasaan lahan oleh korporasi tanpa musyawarah dinilai merampas identitas kultural masyarakat adat yang bergantung pada keberadaan tanah komunal tersebut.

Sebagai langkah radikal untuk mengurai benang kusut sengketa agraria, ia mendesak pemerintah agar memberikan pengakuan dan pengembalian hak atas tanah adat secara utuh kepada masyarakat.

“Hak komunal harus diberikan kembali secara utuh kepada rakyatnya,” ucap Madrid.

Pria yang sering terlibat dalam advokasi-advokasi di daerah tersebut juga mengajak seluruh pihak, khususnya generasi muda, untuk memandang pengelolaan lingkungan sebagai bentuk tanggung jawab moral antargenerasi, bukan sekadar ruang pengerukan keuntungan ekonomi jangka pendek.

“Kita hidup hari ini adalah meminjam sebuah masa depan anak cucu dan sejatinya bukanlah warisan nenek moyang,” kata Madrid Ramadhan.

Berita Terkait

Dekopin Sumbar dan KNPI Lima Puluh Kota Gelar “Bincang Koperasi”, Wadah Pemuda Kawal Gagasan Ekonomi Presiden Prabowo
Akses Lembah Anai Resmi Dibuka Semua Kendaraan, BPJN Sumbar sebut Perbaikan Jalan Selesai
Respons Sekretaris Komisi B DPRD Kota Paykumbuh Usai Disambangi Pajacombo LAB: Sindiran Keras untuk Kami
Menembus Isolasi Buluh Kasok: Proyek Jalan TMMD Kodim 0306 Dipacu di Tengah Terik Harau
Makin Memanas, Musda MUI Sumbar Disebut Tak Akomodir Pondok Pesantren Besar
KAN Kubang Putiah Sebut Trase Tol Sicincin – Bukittinggi Ancam Akar Sejarah dan Lahan Produktif Nagari
Dua Kasat Polres 50 Kota Resmi Naik Pangkat Menjadi AKP
Selatan Sunset Festival 2026: Gadih Angik Menjelma Jadi Pusat Seni, Budaya, dan UMKM Payakumbuh

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 20:20 WIB

Dekopin Sumbar dan KNPI Lima Puluh Kota Gelar “Bincang Koperasi”, Wadah Pemuda Kawal Gagasan Ekonomi Presiden Prabowo

Kamis, 30 Juli 2026 - 19:46 WIB

Aktivis Madrid Ramadhan Sebut Kesejahteraan Tak Boleh Dibangun di Atas Kesengsaraan Tanah

Selasa, 28 Juli 2026 - 10:23 WIB

Akses Lembah Anai Resmi Dibuka Semua Kendaraan, BPJN Sumbar sebut Perbaikan Jalan Selesai

Senin, 27 Juli 2026 - 21:46 WIB

Respons Sekretaris Komisi B DPRD Kota Paykumbuh Usai Disambangi Pajacombo LAB: Sindiran Keras untuk Kami

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:43 WIB

Menembus Isolasi Buluh Kasok: Proyek Jalan TMMD Kodim 0306 Dipacu di Tengah Terik Harau

Berita Terbaru

Foto: Presiden Prabowo Subianto (Dok. BPMI Setpres/Cahyo)

Nasional

Rapor Merah Survei Kepuasan dan Tangkisan Lembut dari Istana

Jumat, 31 Jul 2026 - 20:37 WIB

Foto: Presiden Prabowo Subianto (Dok. BPMI Setpres/Kris)

Politik

Isu Reshuffle Kabinet Agustus, Mensesneg Buka Suara

Jumat, 31 Jul 2026 - 20:33 WIB