Gertak Sambal di Jalur Minyak: Ketika Trump Memutar Haluan ke Meja Perundingan

- Jurnalis

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Presiden A.S, Donald Trump (Dok. Gage Skidmore via Wikimedia Commons)

Foto: Presiden A.S, Donald Trump (Dok. Gage Skidmore via Wikimedia Commons)

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Dinamika geopolitik di Kawasan Teluk kembali menyajikan ketegangan tinggi. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mendadak mengaku akan menunda rencana serangan baru terhadap Iran setelah mengklaim sejumlah negara di Timur Tengah telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama lima bulan.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Garis demarkasi perundingan kini digeser ke sektor vital. Trump menyebut kesepakatan tersebut akan mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz secara penuh serta penghentian ancaman nuklir Iran. Pernyataan itu disampaikan melalui unggahan di media sosialnya, Sabtu (1/8/2026).

“Atas permintaan ini, saya telah menyetujui, demi kepentingan masa depan dunia dan juga kelangsungan hidup Iran yang sukses dan makmur, untuk membatalkan serangan tersebut, dengan syarat kita dapat segera mencapai kesepakatan,” tulis Trump, seperti dilaporkan Associated Press (APNews).

Trump mengatakan Israel juga bersedia untuk bergabung dengan Amerika Serikat dalam upaya mencapai kesepakatan dengan Teheran. Namun, hingga kini, pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi atas pernyataan tersebut.

Langkah pivoting politik luar negeri ini tergolong amat mendadak. Pengumuman Trump muncul sehari setelah ia menyatakan Amerika Serikat hampir kembali melancarkan operasi militer besar-besaran terhadap Iran untuk memaksa negara itu kembali ke meja perundingan.

Api Sengketa dan Sinyal De-eskalasi Semu
Akar dari kecamuk ini bermula ketika konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meningkat setelah Washington dan Tel Aviv melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Trump menyebut operasi tersebut bertujuan menghancurkan kemampuan rudal Iran, mencegah pengembangan senjata nuklir, serta menghentikan dukungan Teheran terhadap kelompok-kelompok bersenjata sekutunya.

Namun, arah konflik tersebut berubah beberapa kali. Upaya gencatan senjata sebelumnya pada pertengahan Juni juga tidak bertahan lama dan kembali diikuti ketegangan baru.

Baca Juga:  Arsenal Juara Premier League 2025-2026, Akhiri Puasa Gelar 22 Tahun!

Sebelum Trump mengumumkan penundaan serangan, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, dilaporkan telah berbicara melalui telepon dengan Trump mengenai kemungkinan eskalasi konflik sebagaimana dikutip APNews. Sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut mengatakan kepada AP bahwa Riyadh khawatir Iran akan membalas dengan menyerang fasilitas energi Arab Saudi dan negara-negara Teluk lain jika Amerika Serikat melancarkan serangan baru.

Dalam percakapan itu, Mohammed bin Salman meminta penjelasan Trump mengenai langkah yang tengah dipertimbangkan Washington terhadap Iran. Seorang pejabat Gedung Putih mengonfirmasi bahwa kedua pemimpin berbicara pada Sabtu, tetapi tidak memberikan rincian mengenai isi pembicaraan tersebut.

Dilema Chokepoint Energi dan Counter-threat Teheran

Kekhawatiran negara-negara Teluk berkaitan erat dengan posisi Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi salah satu pintu utama distribusi energi dunia. Sejak konflik meningkat, sebagian besar aktivitas pelayaran melalui selat tersebut terganggu akibat ancaman keamanan.

Di sisi lain, Iran memperingatkan Amerika Serikat agar tidak melakukan tindakan provokatif. Dilansir dari Reuters, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, mengatakan Teheran akan memberikan respons tegas apabila Washington maupun Israel kembali menyerang wilayah Iran.

Dalam percakapan dengan pejabat Turki, Pakistan, dan Arab Saudi, Araqchi menyebut Iran akan merespons setiap bentuk agresi. Ia juga memperingatkan keterlibatan negara-negara kawasan dalam serangan terhadap Iran akan membawa konsekuensi.

Ancaman tersebut sejatinya diperkuat lewat corong propaganda Teheran. Peringatan serupa muncul dari Nournews, media yang berafiliasi dengan badan keamanan tertinggi Iran. Media tersebut menyebut serangan terhadap infrastruktur energi Iran dapat memicu serangan balasan terhadap fasilitas minyak di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, serta fasilitas gas di Qatar dan Israel.

Baca Juga:  Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak

Opsi Diplomasi di Tengah Travel Advisory dan Gejolak Pasar

Antisipasi ancaman retaliasi membuat Departemen Luar Negeri Amerika Serikat mengeluarkan peringatan keamanan bagi warga negaranya di sejumlah negara Timur Tengah. Peringatan tersebut mencakup Bahrain, Israel, Irak, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Warga AS diminta bersiap menghadapi kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, hingga gangguan perjalanan lainnya.

Di balik ancaman represif, saluran diplomasi masih diupayakan tetap bernapas. Trump sebelumnya menyatakan masih membuka peluang diplomasi. Dalam rapat kabinet di Camp David pada Jumat, ia mengatakan negosiator AS, termasuk utusan khusus Steve Witkoff, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, dan menantunya Jared Kushner, masih dapat mencapai kesepakatan dengan Iran. Namun, Trump juga mengaku mulai kehilangan kepercayaan terhadap Teheran karena menilai Iran kerap mengingkari komitmen.

Di atas kertas, Selat Hormuz menjadi instrumen paling fatal dalam laga gertak ini. Selain isu nuklir Iran, Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi dinamika konflik. Jalur sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman itu menjadi rute penting bagi perdagangan minyak global.

Dampak rambatannya (spillover effect) sudah merangsek hingga ke sektor fundamental ekonomi global. Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga minyak dunia terus meningkat. Harga minyak mentah Brent sebagai acuan global tercatat naik 24 persen sepanjang Juli, sementara analis memperkirakan tekanan harga masih dapat berlanjut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di Selat Hormuz berpotensi berdampak besar terhadap pasokan energi global dan meningkatkan tekanan ekonomi di berbagai negara.

Berita Terkait

Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak
Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran
Eks Dubes RI untuk Iran Ungkap Alasan Rakyat Iran Tak Takut Ancaman Militer AS
Trump Campur Tangan, FIFA Tangguhkan Hukuman Kartu Merah Striker Amerika Serikat Jelang Laga Kontra Belgia
Berikut Alasan Mengapa Belanda Membawa Tentara Maluku dan Permintaan Maaf PM Belanda, Rob Jetten
Keir Starmer Mengundurkan Diri: Badai Skandal dan Perselisihan Paksa PM Inggris Lepas Jabatan
Konflik Meningkat: Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon Perburuk Kondisi Warga
Hubungan Sulit Amerika dan Israel, Ditengah Upaya Damai Konflik Timur Tengah

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Gertak Sambal di Jalur Minyak: Ketika Trump Memutar Haluan ke Meja Perundingan

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:13 WIB

Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:04 WIB

Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:00 WIB

Eks Dubes RI untuk Iran Ungkap Alasan Rakyat Iran Tak Takut Ancaman Militer AS

Senin, 6 Juli 2026 - 13:10 WIB

Trump Campur Tangan, FIFA Tangguhkan Hukuman Kartu Merah Striker Amerika Serikat Jelang Laga Kontra Belgia

Berita Terbaru