ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Ketegangan di Lebanon pasca-kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat – Iran justru kian mencekam. Alih-alih mereda, situasi keamanan dilaporkan semakin memburuk setelah serangan udara dan pengeboman yang diduga diluncurkan oleh pihak militer Israel kembali masif terjadi di wilayah selatan negara tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Berdasarkan laporan langsung dari Tya Gustiasih, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini menetap di Lebanon saat diwawancarai TV ONE, eskalasi konflik pasca-perjanjian damai ini justru berdampak lebih parah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
“Keadaan di Lebanon masih sama ya, bahkan tambah parah dari kemarin itu setelah mereka menyepakati gencatan senjata jam 4 sore. Mulai ada perang lagi, bahkan ada bom dan lebih parah lagi dari waktu-waktu sebelumnya,” ujar Tya dalam wawancara visual via konferensi video dengan TV ONE, dilansir Minggu (21/6/2026).
Tya menjelaskan bahwa wilayah Nabatieh dan sekitarnya menjadi salah satu titik yang digempur habis-habisan. Serangan udara ini menimbulkan banyak korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil.
Penerbangan pesawat militer di atas langit ibu kota Beirut dan wilayah sekitarnya juga dilaporkan terus intensif, memicu sirene peringatan udara di berbagai titik strategis.
Konflik berkepanjangan ini pun menghantam sendi-sendi kehidupan warga secara menyeluruh.
Selain ancaman keselamatan jiwa, krisis multidimensi seperti kelangkaan bahan pangan, obat-obatan, serta keterbatasan akses pendidikan akibat penutupan sekolah kian menyengsara masyarakat.
Kondisi ekonomi di Lebanon dilaporkan mengalami degradasi parah.
Nilai tukar mata uang lokal anjlok drastis ke angka 90.000 Lira per 1 Dollar AS. Hal ini memicu lonjakan harga barang pokok yang tak lagi terjangkau oleh warga. Situasi diperparah dengan kondisi para pengungsi di wilayah utara seperti wilayah Aakkar yang harus bertahan hidup berdesakan di sekolah-sekolah karena rumah mereka di selatan telah rata dengan tanah.
“Banyak anak-anak yang mengalami gangguan psikologis. Setiap kali ada pesawat yang lewat di atas, mereka sangat ketakutan sekali,” tambah Tya menggambarkan trauma yang membayangi anak-anak.
Meskipun terdapat upaya diplomasi dan bantuan logistik dari pemerintah setempat serta komunitas sosial, Tya menyebut mayoritas warga kini diselimuti rasa pesimistis karena pelanggaran kesepakatan damai terus terjadi di kedua belah pihak tanpa adanya kemajuan signifikan.









