Konflik Meningkat: Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon Perburuk Kondisi Warga

- Jurnalis

Minggu, 21 Juni 2026 - 18:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Dampak serangan Israel ke Lebanon pasca gencatan senjata antara Amerika Serikat -  Iran

Foto: Dampak serangan Israel ke Lebanon pasca gencatan senjata antara Amerika Serikat - Iran

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Ketegangan di Lebanon pasca-kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat – Iran justru kian mencekam. Alih-alih mereda, situasi keamanan dilaporkan semakin memburuk setelah serangan udara dan pengeboman yang diduga diluncurkan oleh pihak militer Israel kembali masif terjadi di wilayah selatan negara tersebut.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan laporan langsung dari Tya Gustiasih, seorang Warga Negara Indonesia (WNI) yang saat ini menetap di Lebanon saat diwawancarai TV ONE, eskalasi konflik pasca-perjanjian damai ini justru berdampak lebih parah dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Keadaan di Lebanon masih sama ya, bahkan tambah parah dari kemarin itu setelah mereka menyepakati gencatan senjata jam 4 sore. Mulai ada perang lagi, bahkan ada bom dan lebih parah lagi dari waktu-waktu sebelumnya,” ujar Tya dalam wawancara visual via konferensi video dengan TV ONE, dilansir Minggu (21/6/2026).

Baca Juga:  Guangdong Dikepung Banjir, Monsun Musim Panas Paksa Puluhan Ribu Warga Mengungsi

Tya menjelaskan bahwa wilayah Nabatieh dan sekitarnya menjadi salah satu titik yang digempur habis-habisan. Serangan udara ini menimbulkan banyak korban jiwa dan luka-luka di kalangan warga sipil.

Penerbangan pesawat militer di atas langit ibu kota Beirut dan wilayah sekitarnya juga dilaporkan terus intensif, memicu sirene peringatan udara di berbagai titik strategis.
Konflik berkepanjangan ini pun menghantam sendi-sendi kehidupan warga secara menyeluruh.

Selain ancaman keselamatan jiwa, krisis multidimensi seperti kelangkaan bahan pangan, obat-obatan, serta keterbatasan akses pendidikan akibat penutupan sekolah kian menyengsara masyarakat.
Kondisi ekonomi di Lebanon dilaporkan mengalami degradasi parah.

Nilai tukar mata uang lokal anjlok drastis ke angka 90.000 Lira per 1 Dollar AS. Hal ini memicu lonjakan harga barang pokok yang tak lagi terjangkau oleh warga. Situasi diperparah dengan kondisi para pengungsi di wilayah utara seperti wilayah Aakkar yang harus bertahan hidup berdesakan di sekolah-sekolah karena rumah mereka di selatan telah rata dengan tanah.
“Banyak anak-anak yang mengalami gangguan psikologis. Setiap kali ada pesawat yang lewat di atas, mereka sangat ketakutan sekali,” tambah Tya menggambarkan trauma yang membayangi anak-anak.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Turun, Banggar DPR RI Minta Pemerintah Tidak Terburu-buru Koreksi Harga BBM

Meskipun terdapat upaya diplomasi dan bantuan logistik dari pemerintah setempat serta komunitas sosial, Tya menyebut mayoritas warga kini diselimuti rasa pesimistis karena pelanggaran kesepakatan damai terus terjadi di kedua belah pihak tanpa adanya kemajuan signifikan.

Berita Terkait

Pengamat Timur Tengah Sebut Iran di Atas Angin dan Mempermainkan Amerika Serikat dalam Eskalasi Konflik
Diplomasi Bola Liar: Korsel Buka Pintu Indonesia jadi Mediator dengan Pyongyang
Gertak Sambal di Jalur Minyak: Ketika Trump Memutar Haluan ke Meja Perundingan
Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak
Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran
Eks Dubes RI untuk Iran Ungkap Alasan Rakyat Iran Tak Takut Ancaman Militer AS
Trump Campur Tangan, FIFA Tangguhkan Hukuman Kartu Merah Striker Amerika Serikat Jelang Laga Kontra Belgia
Berikut Alasan Mengapa Belanda Membawa Tentara Maluku dan Permintaan Maaf PM Belanda, Rob Jetten

Berita Terkait

Selasa, 4 Agustus 2026 - 10:31 WIB

Pengamat Timur Tengah Sebut Iran di Atas Angin dan Mempermainkan Amerika Serikat dalam Eskalasi Konflik

Senin, 3 Agustus 2026 - 11:45 WIB

Diplomasi Bola Liar: Korsel Buka Pintu Indonesia jadi Mediator dengan Pyongyang

Minggu, 2 Agustus 2026 - 17:10 WIB

Gertak Sambal di Jalur Minyak: Ketika Trump Memutar Haluan ke Meja Perundingan

Rabu, 29 Juli 2026 - 19:13 WIB

Makin Memanas! AS dan Arab Saudi Balas Serang Milisi Pro-Iran di Irak

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:04 WIB

Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran

Berita Terbaru

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua. (Foto: CNN Indonesia)

Gaya Hidup

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:25 WIB

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:20 WIB

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029. (Foto: Tribunnews)

Ekonomi

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:15 WIB

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina. (Foto: Tribunnews)

Nasional

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:08 WIB