Hubungan Sulit Amerika dan Israel, Ditengah Upaya Damai Konflik Timur Tengah

- Jurnalis

Sabtu, 20 Juni 2026 - 11:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sketch Art Colored Pencil

Sketch Art Colored Pencil "Trump and Netanyahu"

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Keretakan dalam aliansi lawas antara Amerika Serikat dan Israel tampaknya tak lagi bisa disembunyikan di balik retorika diplomatik. Di tengah gencarnya upaya Washington merajut kesepakatan damai dengan Teheran, gesekan strategis di Timur Tengah justru membuat hubungan kedua sekutu dekat ini berada di titik nadir.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hubungan yang secara historis kokoh itu kini merenggang akibat perbedaan tajam dalam merespons dinamika konflik regional.

Ketegangan mencapai puncaknya setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka melayangkan teguran keras yang bernada meremehkan kapabilitas militer Tel Aviv. Dalam sebuah wawancara yang disiarkan, Trump dengan blak-blakan mengeklaim dominasi absolut pertahanan negaranya atas keselamatan Israel. “Jika bukan karena Donald Trump… Israel pasti sudah hancur lebur,” cetus sang presiden seraya menekankan peran vital armada pengebom siluman B-2 milik Amerika.

Trump juga menyentil gaya militer Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, menyarankan pendekatan yang lebih lunak dan tak perlu merobohkan gedung setiap kali ada anggota Hizbullah di dalamnya.

Netanyahu sendiri, ketika berbicara dari kantornya di Jerusalem, berupaya mendinginkan suasana. Mengenai klaim bahwa dirinya hanya menuruti kemauan Gedung Putih, ia menepisnya dengan menyebut hubungan mereka sebagai kemitraan antardua sekutu yang saling menghormati ketegasan masing-masing.

Namun, di balik bantahan itu, situasi di lapangan menunjukkan friksi yang kian meruncing. Amerika Serikat dilaporkan sengaja menutup akses bagi pejabat Israel terhadap dokumen nota kesepahaman (MoU) damai yang tengah digodok bersama Iran. Langkah protektif ini diambil lantaran Washington tak ingin intervensi Tel Aviv mengacaukan cetak biru perdamaian yang krusial tersebut.

Baca Juga:  Bangkit dari Ramsay Hunt Syndrome, Justin Bieber Kembali Taklukkan Panggung Dunia di Coachella 2026

Sementara para diplomat beradu argumen di ruang ber-AC, desing peluru dan ledakan terus mengguncang perbatasan. Militer Israel tetap melanjutkan agresi udaranya ke wilayah Lebanon Selatan pada Jumat (19/6) seperti yang dilansir melalui Kantor berita Lebanon NNA melaporkan, setidaknya ada 15 orang tewas dalam serangan tersebut, dengan itu tampak bahwa Israel mengabaikan visi damai yang diusung Gedung Putih.

Aksi sepihak ini mendapat respons sengit dari pejuang Hizbullah yang melancarkan gempuran balasan. Kontak tembak dan serangan artileri dilaporkan menewaskan sedikitnya empat serdadu zionis.

Rekaman visual dari medan perang memperlihatkan keganasan pertempuran malam hari, di mana roket-roket Hizbullah meluncur membelah kegelapan dan memicu kebakaran besar di perbukitan Lebanon Selatan. Tak hanya itu, sebuah rekaman taktis menunjukkan unit drone pengintai Hizbullah membayangi konvoi militer Israel di jalanan berliku sebelum sebuah kendaraan taktis (rantis) jenis pengangkut personel lapis baja hancur akibat hantaman drone tersebut.

Konfrontasi ini memaksa Israel mengerahkan pasukan tambahan ke perbatasan. Di kota Kfar Tebnit, distrik Nabatiyeh, pemandangan siang hari dipenuhi kepulan asap pekat setelah kawasan permukiman dihujani tembakan artileri yang diduga menggunakan peluru fosfor oleh militer Israel.

Awan hitam peperangan ini juga menggelayuti Jalur Gaza. Jet tempur Israel kembali membombardir lingkungan permukiman Al-Rimal di Gaza bagian barat, menyasar sebuah mobil hingga hancur menjadi puing-puing gosong. Di lokasi kejadian dekat Masjid Abu Kudra, ratusan warga dan petugas medis berkerumun di tengah kepulan asap, mencoba mengevakuasi korban dari sisa-sisa kendaraan yang ringsek dan bersimbah darah. “Perempuan dan anak-anak sedang berjalan di sana dan beberapa dari mereka tewas. Apa kesalahan orang-orang ini?” ratap Mohammed Al-Sheikh, seorang saksi mata di lokasi dengan nada frustrasi melihat kekejaman yang berulang setiap hari.

Baca Juga:  Harga Minyak Dunia Turun, Banggar DPR RI Minta Pemerintah Tidak Terburu-buru Koreksi Harga BBM

Serangan di Gaza tersebut menewaskan tiga warga sipil dan melukai belasan lainnya.
Pihak Tel Aviv mengeklaim bahwa operasi udara tersebut berhasil melumpuhkan dua petinggi militer Hamas, yakni Ahmed Abu Heing yang diidentifikasi sebagai komandan penembak jitu dan Mahmoud Walid Jaber Abu Heing.

Melalui bidikan kamera termal udara yang dirilis, terlihat momen saat kedua target dilacak berjalan di ruang terbuka sebelum sebuah ledakan dahsyat menyapu posisi mereka. Kedua figur tersebut dituduh terlibat langsung dalam serangan 7 Oktober 2023 dan dianggap sebagai ancaman aktif bagi gerak maju pasukan zionis di Gaza.
Rangkaian serangan tanpa henti yang dilancarkan Israel, baik di Lebanon maupun Gaza, kini menjadi batu sandungan terbesar bagi diplomasi damai yang tengah dirajut Amerika Serikat.

Ketika Washington ingin meredam ketegangan dengan Teheran demi stabilitas makro, Tel Aviv justru memilih jalan eskalasi militer total. Di bawah bayang-bayang perbedaan visi strategis ini, masa depan aliansi abadi kedua negara kini berada di persimpangan jalan yang rapuh.

Berita Terkait

Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran
Eks Dubes RI untuk Iran Ungkap Alasan Rakyat Iran Tak Takut Ancaman Militer AS
Trump Campur Tangan, FIFA Tangguhkan Hukuman Kartu Merah Striker Amerika Serikat Jelang Laga Kontra Belgia
Berikut Alasan Mengapa Belanda Membawa Tentara Maluku dan Permintaan Maaf PM Belanda, Rob Jetten
Keir Starmer Mengundurkan Diri: Badai Skandal dan Perselisihan Paksa PM Inggris Lepas Jabatan
Konflik Meningkat: Pelanggaran Gencatan Senjata di Lebanon Perburuk Kondisi Warga
Selat Hormuz Dikabarkan Akan Dibuka Sejak 19 Juni
Guangdong Dikepung Banjir, Monsun Musim Panas Paksa Puluhan Ribu Warga Mengungsi

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 14:04 WIB

Kembali Berlarut-larut, Ketegangan Selat Hormuz Kian Memanas Usai Saling Balas Militer AS-Iran

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:00 WIB

Eks Dubes RI untuk Iran Ungkap Alasan Rakyat Iran Tak Takut Ancaman Militer AS

Senin, 6 Juli 2026 - 13:10 WIB

Trump Campur Tangan, FIFA Tangguhkan Hukuman Kartu Merah Striker Amerika Serikat Jelang Laga Kontra Belgia

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:31 WIB

Berikut Alasan Mengapa Belanda Membawa Tentara Maluku dan Permintaan Maaf PM Belanda, Rob Jetten

Selasa, 23 Juni 2026 - 12:06 WIB

Keir Starmer Mengundurkan Diri: Badai Skandal dan Perselisihan Paksa PM Inggris Lepas Jabatan

Berita Terbaru