JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Sejumlah universitas di China menghapus jurusan kuliah seperti ilustrasi, fotografi, hingga penerjemahan karena dinilai tergerus kecerdasan buatan (AI), sejalan dengan kebijakan pemerintah mengarahkan mahasiswa ke bidang chip, robotika, dan AI.
Perombakan kurikulum itu menyentuh sekitar 30 persen total program studi di China. Bidang yang paling banyak dipangkas meliputi seni, humaniora, manajemen, dan bahasa, sektor yang tingkat penganggurannya dilaporkan melebihi 16 persen karena pasar kerja berubah cepat imbas kemunculan AI. Central Academy of Fine Arts termasuk kampus yang menghapus beberapa program studi seperti ilustrasi, fotografi, penerjemahan, dan tata busana.
12.200 Program Studi Ditutup atau Ditunda
Data periode 2021 hingga 2025 menunjukkan perguruan tinggi di China menutup atau menunda 12.200 program studi dan meluncurkan sekitar 10.200 program baru. Survei terhadap 70 kampus menemukan pengurangan lima jurusan penerjemahan, delapan jurusan bahasa Jepang, dan lima jurusan bahasa Jerman. University of Shanghai for Science and Technology menyetop penerimaan mahasiswa baru untuk jurusan Desain Produk.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →“Pesatnya perkembangan AI memukul telak bidang desain produk. Banyak pekerjaan inti, seperti modelling dan rendering, sekarang sudah bisa dikerjakan oleh AI,” kata seorang alumni jurusan tersebut yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Peluang Baru di Tengah Pemangkasan
Communication University of China dilaporkan menutup lima program studi, termasuk sinematografi, desain komunikasi visual, komik, dan fotografi. Pejabat tinggi universitas itu, Liao Xiangzhong, menyebut jurusan fotografi tradisional tidak lagi dapat berdiri sebagai disiplin independen karena setiap orang kini bisa menjadi pencipta dan perekam media mandiri. Ia menambahkan jurusan tersebut tidak dihapus permanen, melainkan dilebur ke disiplin lain, misalnya fotografi yang digabungkan ke jurusan film dan televisi.
“Ada gaya karakteristik personal yang selalu penting dalam penerjemahan,” kata lulusan penerjemahan bahasa Inggris, Alex Shi, yang menilai pemotongan jurusan mengabaikan keterampilan khas manusia seperti komunikasi dan pemikiran kritis. Di sisi lain, muncul peran baru di bidang kreatif seperti prompt engineer dan animator AI, serta jurusan baru bidang seni pencitraan cerdas, teknik audiovisual cerdas, dan kecerdasan berwujud atau embodied intelligence.
Peneliti senior National Institute of Education Sciences, Chu Zhahoui, menilai bongkar pasang jurusan hanya solusi jangka pendek. Menurut dia, universitas perlu menerapkan sistem yang lebih fleksibel agar mahasiswa dapat memilih mata kuliah sesuai minat, kelebihan unik, dan tuntutan jalur kariernya, sehingga terbentuk profil keahlian yang khas.









