PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Sineas muda asal Sumatera Barat, Nabil Anjabi, menyiapkan film tentang tradisi magis Lukah Gilo di Solok. Ia menilai tradisi itu belum pernah didokumentasikan dalam bentuk film sehingga terancam tidak diwarisi generasi berikutnya.
Nabil menyebut film bertema Lukah Gilo itu menjadi proyek berikutnya setelah ia mengerjakan sejumlah karya pendek semasa menempuh pendidikan Manajemen Produksi Siaran di sekolah tinggi multimedia MMTC Yogyakarta. Ia memilih tradisi itu setelah melakukan riset lebih dulu, bukan sekadar ingin mengangkat identitas daerah.
Belum Ada Film yang Mendokumentasikan Lukah Gilo
Menurut Nabil, alasannya sederhana karena belum ada dokumentasi film yang khusus mengangkat tradisi tersebut. “Film tentang luka gilu itu belum ada dijadikan dokumentasi film,” katanya. Ia mengaku sempat mempertimbangkan kesenian lain seperti silat dan randai sebelum akhirnya memilih Lukah Gilo.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Lukah Gilo merupakan pertunjukan bernuansa magis khas Minangkabau. Nabil mengingatkan, jika tradisi itu tidak difilmkan, pengetahuan yang dipegang para pemainnya tidak akan turun ke generasi berikutnya dan berpotensi lenyap bersama para pewarisnya yang kini semakin sedikit.
Karena itulah ia menegaskan film ini dibuat bukan sekadar demi mengangkat identitas daerah. “Nabil bikin film ini bukan semena-mena karena mau mengangkat identitas daerah, tapi lebih dari itu karena buat arsip buat ke generasi-generasi yang akan datang,” ujarnya.
Film sebagai Arsip dan Cara Melestarikan Budaya
Nabil meyakini sejarah juga dibangun dari cerita dan film, bukan hanya dari buku. Dengan masuk ke medium film, tradisi kedaerahan bisa dilihat kembali oleh generasi berikutnya meski pertunjukan aslinya sudah tidak digelar lagi di kampung halaman.
Setelah menyelesaikan seminar hasil, Nabil berencana tetap menempuh jalur festival film di dalam maupun luar negeri. Baginya, mengangkat budaya daerah adalah salah satu cara anak muda mempertahankan identitas. “Mengangkat budaya ini salah satu bentuk cara anak muda untuk gimana cara melestarikan budayanya,” ujarnya.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.









