Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Sebuah Surau di Baso, Luhak Agam, estimasi tahun 1918 (KITLV)

Foto: Sebuah Surau di Baso, Luhak Agam, estimasi tahun 1918 (KITLV)

ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Peta spiritualitas Minangkabau abad ke-18 kerap menyerupai labirin yang dipenuhi siluet tokoh-tokoh pengembara mistis. Mereka datang, menetap, atau sekadar singgah meninggalkan tapak tarekat sebelum kembali ditiup angin sejarah. Dalam narasi rekonstruksi sejarah tasawuf, nama-nama lamat ini sering muncul dalam balutan tutur nan diperoleh turun temurun.

Sebut saja Syekh Burhanuddin Kuntu di wilayah Minangkabau Timur. Riwayatnya laksana kabut yang sukar diverifikasi, dengan sandaran dokumentasi yang terhitung minim, hanya bertumpu pada catatan usang sejarawan Mahmud Yunus dalam karyanya yang terbit tahun 1982. Di sudut lain, ingatan kolektif masyarakat lokal juga merawat memori tentang Syekh Keramat Taram. Sosok ini diselimuti aura misteri yang kental; konon, ia bertolak langsung dari Kota Madinah al-Munawwarah mendampingi ulama kesohor Aceh, Syekh Abdurra’uf Singkel.

Petualangan spiritual membawa pengembara Taram ini melintasi pelabuhan-pelabuhan di sepanjang pantai timur Sumatra pasca-bermukim di Serambi Mekah. Langkah kakinya baru terhenti saat menyentuh wilayah pedalaman Minangkabau, tepatnya di Taram, Lima Puluh Kota. Di sanalah ia memapankan basis karier ulamanya, mendirikan surau, dan menggelar pengajaran doktrin-doktrin keagamaan. Sebagaimana jamaknya narasi kaum sufi, lembar kehidupan tokoh ini dipenuhi anekdot khariq lil ‘adah kejadian di luar nalar manusia yang dalam lanskap teologi Sunni lazim dikategorikan sebagai karomah.

Namun, di luar eksotisme figur Kuntu dan Taram, sebuah teka-teki historiografi yang lebih besar mengemuka ketika kita melacak genealogi Tarekat Naqsyabandiyah di Ranah Minang. Di sinilah figur Syekh Jamaluddin Pasai mengambil panggung utama.

Mendiang sejarawan legendaris asal Padang Pariaman, yakni Azyumardi Azra (2007) dalam mahakaryanya, Jaringan Ulama, mematri nama Jamaluddin Pasai sebagai jangkar utama: pionir penyebar ordo Naqsyabandiyah di kawasan ini pada abad ke-18. Tesis Azra ini tidak berdiri sendiri. Ia mendapat sokongan teoretis dari indolog Christine Dobbin melalui bukunya, Islamic Revivalism.

Ganjalannya, potret ketokohan Jamaluddin yang dipahat oleh kedua peneliti kakap tersebut menyisakan ruang kosong yang menganga. Mereka luput membeberkan secara gamblang perihal asal-usul, magnitudo pengaruh, hingga jalinan koneksi intelektual sang syekh. Akibat ketidaklengkapan data tersebut, klaim Jamaluddin sebagai pembawa pertama Naqsyabandiyah memicu skeptisisme dari generasi peneliti berikutnya.

Gelombang riset mutakhir justru menggeser bandul apresiasi kepada Syekh Isma’il al-Khalidi al-Minangkabawi. Tokoh abad ke-19 asal Simabur, Batusangkar ini memiliki posisi mentereng dalam jaringan ulama Nusantara di Makkah. Para pencatat sejarah kontemporer lebih condong menobatkan Isma’il al-Khalidi sebagai korpife utama pembawa ordo mistis tersebut, sekaligus mengaminkan konklusi klasik yang pernah dirumuskan oleh B.J.O. Schrieke pada tahun 1919.

Baca Juga:  Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

Di samping itu, titik terang guna mengurai benang kusut ini justru tersimpan di ruang arsip Eropa. Filolog Ph.S. van Ronkel berhasil mengidentifikasi sebuah manuskrip fikih berorientasi Naqsyabandiyah di perpustakaan Universitas Leiden yang bertajuk Lubab al-Kifayah. Kitab ini rupanya lahir dari goresan pena Syekh Jamaluddin Pasai sendiri.

Mengenai usia naskah, filolog Apria Putra, akademisi dari UIN Bukittinggi, menyitir pandangan pakar naskah kuno Henri Chambert-Loir yang memperkirakan bahwa teks tersebut digubah pada perempat pertama abad ke-18 (sebagaimana terdokumentasi dalam buku Naik Haji di Masa Silam 1: 1482-1890, 2013: 210). Dalam menyusun traktatnya, Jamaluddin secara otoritatif merujuk pada pemikiran Ibnu ‘Alan al-Naqsyabandi, seorang ulama Naqsyabandiyah berpengaruh di Makkah pada abad sebelumnya. Ibnu ‘Alan merupakan penulis syarah atas Qashidah Bintil Milaq, sebuah teks esoteris yang menjadi rujukan krusial bagi fungsionaris tarekat Naqsyabandiyah dan Syattariyah di Minangkabau pada abad ke-19.

Informasi ini kian benderang lewat telaah lanjutan dari Apria Putra. Ia memaparkan bahwa Chambert-Loir telah melakukan rekonstruksi dan membuat edisi teks terhadap fragmen otobiografi dalam manuskrip ini, bermodalkan hasil transkripsi awal yang dikerjakan oleh Van Ronkel pada tahun 1919. Hasil suntingan filologis tersebut kemudian diinkorporasikan ke dalam buku Naik Haji di Masa Silam Jilid I, sebuah proyek prestisius hasil kolaborasi KPG dengan École française d’Extrême-Orient yang terbit pada November 2013.

Naskah magis ini merekam rute pengembaraan kosmik Jamaluddin. Ia bergerak dari episentrum Islam di Timur Tengah mulai dari Makkah, Zabid di Yaman, hingga Mesir sebelum akhirnya berlayar kembali ke Sumatra, merambah tanah Batak, dan memungkasi perjalanannya di pedalaman Minangkabau. Menariknya, di dalam jalinan teks tersebut, sang pengarang mengidentifikasi dirinya dengan nama elok: Jamaluddin ibnu Jawi.

Kerumitan Teks dan Fragmen Minangkabau

Secara struktural, anatomi asli naskah ini tersusun atas bait-bait syair berbahasa Melayu. Namun, kerja alih aksara oleh Van Ronkel yang mengubah formatnya menjadi bentuk prosa justru melahirkan komplikasi baru. Perubahan bentuk ini sempat membuat Chambert-Loir selaku editor didera rasa “pusing” yang hebat dalam menangkap semantik teks yang sesungguhnya. Kendati dilingkupi kerumitan metodologis, hasil suntingan ilmuwan Prancis itu tetap berhasil menyelamatkan sejumlah fragmen krusial mengenai riwayat perjalanan sang ulama asal Pasai.

Baca Juga:  Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka

Spesifik mengenai persinggahannya di tanah Minangkabau, fokus kita akan tersedot oleh visualisasi puitis pada bagian akhir bait yang digubah oleh Jamaluddin. Merujuk pada transkripsi otentik yang disajikan oleh Henri Chambert-Loir (2013: 218), teks puisi kuno tersebut berbunyi:

(35) Dari sana pula lalu berlayar, Ke negeri Pariaman nama bandar, Sampai di sana nyatalah khabar, Pada pendeta alam (?-alim) yang besar-besar.

(37) Mencari bicara meninggalkan zaman, Lalu ke Agam bertanam-tanaman, Ke Lima Puluh Kota sampai Palangan, Menghasilkan tanaman dan perbuatan. (Chambert-Loir, 2013: 218)

Tafsir Geografis Spiritual

Sepasang fragmen bait di atas mengunci dua momentum geografis yang krusial. Fase pertama terjadi di gerbang pesisir, yakni bandar Pariaman. Di kota pelabuhan yang kosmopolit itu, Jamaluddin melakukan konsolidasi intelektual dengan menjumpai para pemuka agama setempat yang ia sebut sebagai pendeta alim besar-besar yang menyambutnya dengan kabar-kabar baik.

Fase kedua bergeser ke wilayah pedalaman (darek), menembus teritorial Agam dan Lima Puluh Kota. Metafora “bertanam-tanaman” dan “menghasilkan perbuatan” di wilayah dataran tinggi ini tidak lain merujuk pada aktivitas perluasan dakwah dan pelembagaan institusi pendidikan Islam.

Sejarah kemudian mencatat bahwa sejak fajar abad ke-18, kawasan Agam dan Lima Puluh Kota telah menjelma menjadi episentrum pendidikan Islam ala sufi yang sangat padat di Minangkabau, dengan dominasi mutlak dari ordo Naqsyabandiyah serta Syattariyah. Apakah sentra-sentra tasawuf yang mapan di kedua luhak tersebut merupakan hasil dari benih-benih spiritual yang mula-mula ditanam oleh Jamaluddin?

Hingga mendung sosiologis hari ini meredup, riset historiografi memang belum melahirkan analisis yang tuntas mengenai seberapa masif impak transmisi keilmuan eksternal ini terhadap alam pikiran Minangkabau. Namun, dokumen yang diselamatkan oleh Chambert-Loir dan Van Ronkel setidaknya mengamankan sebuah fakta objektif: pada abad ke-18, seorang sufi pengembara asal Pasai yang terafiliasi dengan Tarekat Naqsyabandiyah telah menjejakkan kakinya dan menancapkan pengaruh konkret di jantung pedalaman Minangkabau. Berkat temuan filologis ini, sketsa buram mengenai sosok Jamaluddin yang dahulu dilukis oleh Azra dan Dobbin kini perlahan menemukan bentuknya yang lebih presisi dan benderang.

Berita Terkait

Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam
Ryamizard Ryacudu Wafat: Berpulangnya Sang Jangkar Strategis Matra TNI AD
Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman
Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah
Syekh Adimin Arradji Taram: Poros Spiritual dan Lentera Klasikal dari Tepian Luhak nan Bungsu
Syekh Ibrahim Musa Parabek: Sang Arsitek Moderasi dan Pembaru Pendidikan Minangkabau
Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin Berpulang, Pergi Seorang Ulama Karismatik Asal Taeh Baruah
Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 15:58 WIB

Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

Senin, 1 Juni 2026 - 09:02 WIB

Ryamizard Ryacudu Wafat: Berpulangnya Sang Jangkar Strategis Matra TNI AD

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:10 WIB

Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:50 WIB

Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:48 WIB

Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah

Berita Terbaru