ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Akademisi Apria Putra mempertanyakan soal MUSDA MUI Sumbar yang ia nilai cukup tidak representatif, karena tidak mengundang salah satu pesantren yang cukup menonjol secara eksistensi di Ranah Minang, yakni Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Apria menyebut bahwa harusnya keterlibatan pesantren Ringan-Ringan haruslah jadi sebuah opsi yang harus diperhitungkan, dalam pernyataan tertulisnya di akun Facebook pribadinya, Apria menyebut jika pesantren yang terletak di Padang Pariaman iyu memiliki pengaruh besar di Sumatra Barat, ”Izin saya bertanya, apakah betul Pesantren Ringan Ringan tidak diundang perwakilannya utk mengikuti Musda MUI Sumbar? Padahal Ringan-Ringan adalah pesantren besar dengan lebih 20 cabang, yang santri-santri nya sudah sangat terbiasa dengan ilmu alat dengan kitab-kitab standar al-Azhar, yang pesantren ini pengaruhnya sangat besar di Sumatra Barat saat ini,” tulis alumnus UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu, Senin 13 Juli 2026.
Di samping itu, Fakhry Emil Habib yang juga dikenal sebagai pendakwah, dan konten kreator yang berasal dari Kab. Agam, juga menyambut postingan Apria tersebut dengan pandangannya, “Sebelum pemilihan, kita memang mendengar info dari “orang dalam” bahwa ada pihak yang mengkampanyekan “asal bukan PERTI” ngku,” tulis Fakhry Emil Habib di kolom komentar postingan Apria Putra.
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir, itu kemudian melanjutkan dalam keterangan tertulisnya, ”Ada pula tokoh agama yang juga tokoh partai di Sumbar, saat mendengar salah satu calon dari kalangan tuangku, ia menyatakan keberatan, dengan alasan, karena dia asy’ari,” ungkap Emil.
Perseteruan MUSDA MUI Sumbar guna mencari pengganti Gusrizal Gazahar ini semakin memanas, setelah diketahui Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) memutuskan untuk walk out dari MUSDA ke-11 Majelis Ulama Indonesia (MUI) SUMBAR itu pada Sabtu (11/7/2026) malam.
Langkah ini diambil karena kedua organisasi keagamaan tersebut menilai pelaksanaan Musda tidak berjalan profesional dan diwarnai indikasi pemaksaan dalam penyusunan struktur kepengurusan oleh pihak tertentu. Padahal, agenda yang direncanakan berlangsung hingga Minggu (12/7/2026) di Auditorium Sumbar ini sebelumnya telah dibuka secara resmi oleh Gubernur Sumatra Barat, Mahyeldi.
Pada lanjutan keterangannya, Fakhry Emil Habib juga berpendapat bahwa pemilihan Ketua MUI Sumbar, melalui MUSDA ini tidak banyak melibatkan pesantren, ”Kabarnya mekanisme pemilihan ketua MUI memang tidak melibatkan semua pondok Pesantren ngku. Kalau melibatkan semua pondok, maka bisa dikatakan pondok PERTI jumlahnya ratusan, sedangkan pondok MU cuma sekitar lima,” tegasnya.
Melansir keterangan dari Langgam.id, Ketua PWNU Sumbar, Ganefri menjelaskan bahwa suasana MUSDA itu sudah tidak bagus, “Sikap meninggalkan ruangan sidang diambil karena suasana sudah tidak bagus,” kata mantan Rektor Universitas Negeri Padang (UNP) itu.
Di samping itu, saat dikonfirmasi oleh Argumen Rakyat, Apria kembali menegaskan bahwa keterlibatan pesantren haruslah dipandang sebagai suatu hal yang penting, ”Keterlibatan pesantren tradisional atau pesantren tuo penting karena dia menjadi akar Islam di Minangkabau. Pesantren-pesantren ini yang dulu, sebelum zaman modern, telah membackup jalannya kehidupan agama di Minangkabau,” tutur Apria Senin pagi, 13 Juli 2026.









