ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Di sebuah negeri yang dipagari perbukitan hijau dan dibasuh ketenangan riak air Danau Maninjau, berdirilah sebuah nagari bernama Sungai Batang. Di bawah bayang-bayang Gunung Singgalang dan Marapi yang megah, nagari di luhak Agam, Sumatra Barat ini tampak tenang layaknya telaga yang tak bergelombang. Namun, di balik kedamaian lanskap alamnya, sejarah mencatat bahwa dari rahim nagari inilah memancar kilatan api pembaruan Islam yang kelak membakar kebekuan berpikir di seantero Nusantara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada tahun 1296 Hijriah, atau bertepatan dengan tahun 1879 tarikh Masehi, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama Muhammad Rasul. Ia bukanlah anak sembarang anak, melainkan putra kandung dari seorang ulama besar yang sangat disegani dan karismatik, yakni Syekh Muhammad Amrullah. Sang ayah merupakan tiang pancang tarekat Naqsyabandiyah di tanah Minangkabau, seorang mursyid yang zikirnya menggema di surau-surau dan fatwanya dipatuhi oleh ribuan murid yang dahaga akan kedekatan rohani dengan Yang Mahakuasa.
Sejak masa kanak-kanak, Muhammad Rasul telah dididik di bawah siraman rohani dan disiplin keilmuan yang ketat. Kitab-kitab kuning, kaidah sarap, dan nahu bahasa Arab telah menjadi santapan hariannya. Sang ayah melihat ada binar-binar kecerdasan yang tak biasa pada sepasang mata putranya. Oleh karena itu, demi menuntaskan dahaga keilmuan sang anak, pada tahun 1894, Syekh Muhammad Amrullah mengambil keputusan besar. Beliau melepas putra tercintanya untuk berlayar mengarungi samudra menuju kota suci Mekkah al-Mukarramah, yang kala itu menjadi kiblat tunggal produksi otoritas keilmuan Islam sedunia.
Di bawah langit Hijaz yang terik, Muhammad Rasul bersimpuh di halaqah-halaqah Masjidil Haram. Garis takdir menuntunnya menjadi murid kesayangan dari sang mahaguru, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Beliau adalah Imam Besar bermazhab Syafi’i di Masjidil Haram, seorang ulama jenius asal Minangkabau yang memiliki pengaruh global dan menjadi rahim intelektual bagi lahirnya para pembaru Islam di Asia Tenggara.
Dengan bimbingan Syekh Ahmad Khatib inilah, Muhammad Rasul yang kelak digelari Inyiak De-er, mulai menempa pisau analisisnya, membaca khazanah Islam klasik, sekaligus menyerap hembusan angin pembaruan yang mulai bertiup dari pusat-pusat pemikiran Timur Tengah.
Mekkah ternyata menjadi kawah candradimuka yang mengubah haluan hidup Muhammad Rasul secara radikal. Di kota suci inilah, terjadi pergulatan batin dan intelektual yang sangat hebat dalam dirinya. Ia yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi mistisisme dan tarekat Sufi, perlahan-lahan mulai membelokkan arah kemudi pemikirannya. Nalar kritisnya mulai menggugat praktik-praktik keagamaan yang dianggapnya telah bercampur dengan tradisi lokal tanpa dasar dalil yang sahih.
Inyiak De-er mulai bersentuhan secara mendalam dengan manhaj tajdid (metode pembaruan). Sebuah pendekatan keagamaan yang menyerukan pembersihan akidah dari segala bentuk syirik, bid’ah, dan khurafat, serta mengembalikan kiblat pemahaman agama langsung kepada sumber utamanya: Al-Qur’an dan Sunnah shahihah.
Ia mendalami ilmu ushul fiqh (dasar-dasar hukum Islam) dan ilmu kalam (teologi Islam) bukan sekadar sebagai hafalan teks, melainkan sebagai alat bedah rasional untuk menguji keabsahan sebuah amalan keagamaan.
Di tanah haram tersebut, Muhammad Rasul tidak sendirian. Ia merajut jejaring intelektual yang kokoh dengan sesama penuntut ilmu asal Minangkabau, di antaranya Syekh Abbas Abdullah dan Syekh Ibrahim Musa Parabek. Bersama-sama, mereka berdiskusi, berdebat, dan menyamakan persepsi tentang kondisi umat Islam di tanah air yang dinilai sedang mengalami stagnasi spiritual dan kemunduran berpikir akibat taklid buta (mengikuti pendapat tanpa tahu dalilnya).
Kelompok pemuda progresif inilah yang di kemudian hari dalam panggung sejarah Islam Indonesia ditandai secara permanen sebagai gerakan Kaum Muda. Sebuah faksi intelektual yang dengan berani menantang kemapanan otoritas keagamaan lama atau Kaum Tua.
Ketika kaki Inyiak De-er kembali memijak tanah Minangkabau, ia membawa sekeranjang gagasan yang siap digulirkan. Beliau tidak memilih jalan sunyi dengan duduk diam di surau sembari menerima setoran upeti atau pujian dari masyarakat. Ia justru dengan sengaja menceburkan diri ke dalam jantung pusaran polemik dan perdebatan umat. Langkah konkret pertamanya diarahkan pada perbaikan sistem pendidikan Islam yang kala itu dinilainya sudah usang dan tidak adaptif terhadap tuntutan zaman.
Bersama rekan-rekan seperjuangannya, Inyiak De-er mengambil alih kemudi dan ikut merintis Sumatra Thawalib di Padang Panjang. Lembaga ini menjadi episentrum pertama yang secara radikal mengubah cetak biru pendidikan Islam tradisional di Nusantara. Di tangan Inyiak De-er, sistem halaqah di mana para murid duduk bersila melingkari guru secara pasif tanpa ada hak membantah dihapuskan secara bertahap. Beliau menggantinya dengan sistem kelas yang modern, lengkap dengan bangku, meja, dan papan tulis.
Kurikulum madrasah pun dibongkar total. Ilmu-ilmu agama tidak lagi diajarkan sebagai dogma mati, melainkan sebagai arena dialektika tempat nalar kritis para santri diasah melalui perdebatan yang sengit. Murid-murid didorong untuk bertanya, menyanggah, dan berargumen secara ilmiah. Lebih dari itu, cakrawala pendidikan diperluas dengan memasukkan unsur-unsur ilmu pengetahuan modern, kesadaran sosial, dan wawasan geopolitik.
Bagi Inyiak De-er, sains dan rasionalitas modern bukanlah musuh bagi Islam, melainkan kawan karib yang berjalan beriringan guna menegakkan kemuliaan Islam. Oleh karena sifatnya yang revolusioner ini, Sumatra Thawalib di kemudian hari dinobatkan oleh para sejarawan sebagai salah satu embrio terpenting dari lahirnya sekolah Islam modern di Indonesia. Dari ruang-ruang kelas yang sederhana namun riuh oleh perdebatan itulah, lahir generasi baru Muslim intelektual. Mereka tidak hanya menguasai hukum fikih, tetapi juga memiliki kesadaran nasionalisme tinggi yang kelak menerjunkan diri ke dalam panggung pergerakan kemerdekaan, pers berkemajuan, dan kancah politik kebangsaan.
Gairah pembaruan Inyiak De-er tidak pernah menemukan titik jenuh. Pada tahun 1925, sekembalinya dari sebuah lawatan ke pulau Jawa, ia membawa pulang sebuah “oleh-oleh” ideologis yang amat berharga. Di kota Yogyakarta, ia menyaksikan bagaimana sebuah organisasi bernama Muhammadiyah yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan bergerak secara teratur dalam membenahi sosial-keagamaan masyarakat melalui amal nyata.
Terpikat oleh kesamaan visi, Inyiak De-er dengan langkah berani membawa dan menanam panji-panji Muhammadiyah di tanah kelahirannya, Sungai Batang. Langkah strategis ini mencatatkan namanya dalam tinta emas sejarah sebagai tokoh utama yang mempelopori ekspansi gerakan Muhammadiyah ke luar pulau Jawa untuk pertama kalinya. Gagasan Muhammadiyah tentang Islam yang berkemajuan, gerakan pembersihan akidah dari penyakit tahayul, bid’ah, dan khurafat, serta fokus pada aksi sosial dan pendirian rumah sakit serta panti asuhan, dirasanya sangat tepat dengan cita-cita purifikasi yang selama ini ia dengungkan di Minangkabau.
Reputasi keilmuan dan keteguhan prinsip Inyiak De-er rupanya tidak hanya menggema di seputar pulau Sumatra dan Jawa, melainkan terdengar hingga ke negeri para nabi di Timur Tengah. Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir, yang merupakan salah satu benteng pertahanan intelektual Islam tertua dan paling prestisius di dunia, menaruh perhatian besar pada sepak terjangnya.
Sebagai bentuk pengakuan internasional atas otoritas keilmuan, kedalaman ijtihad, serta kontribusinya dalam dunia pendidikan, Universitas Al-Azhar menganugerahkan gelar Doctor Honoris Causa kepada Syekh Abdul Karim Amrullah. Beliau menerima penghargaan tertinggi ini bersama sahabat karibnya, Syekh Abdullah Ahmad. Peristiwa monumental ini menorehkan sejarah baru: untuk pertama kalinya dalam sejarah Islam, anak-anak kandung Nusantara diakui secara resmi bukan lagi sekadar sebagai penonton atau murid di panggung dunia Islam, melainkan sebagai produsen gagasan yang setara dengan ulama-ulama besar dari tanah Arab.
Namun, sejarah tidak pernah berjalan lurus tanpa kerikil. Watak asli Inyiak De-er bukanlah tipe ulama yang gemar mencari aman atau pandai bersilat lidah demi menyenangkan semua pihak. Beliau adalah seorang polemikus sejati, seorang pejuang pemikiran yang memiliki lisan setajam mata pedang dan pena yang mengucurkan tinta-tinta kritik yang menusuk jantung kemapanan. Dalam catatan antropologis dan sejarah yang ditulis oleh Apria Putra, watak keagamaan Inyiak De-er bahkan dikategorikan sebagai sosok yang radikal dan ekstrem pada zamannya.
Inyiak De-er tidak segan-segan terlibat dalam perdebatan terbuka yang sengit dengan siapa pun yang dianggapnya melenceng dari rel Al-Qur’an dan Sunnah, tanpa memandang bulu. Ia berdebat keras dengan para ulama tradisional seperti Syekh Sulaiman ar-Rasuli atau Inyiak Canduang, bertukar argumen yang panas dengan Syekh Hasan Ma’shum di Medan, beradu dalil dengan Syekh As’ad Bugis, bahkan mengkritik tajam pemikiran Mahmud Yunus.
Di samping itu, yang paling dramatis dari garis kepemimpinannya adalah keberaniannya untuk berbeda pendapat dan mengkritik gurunya sendiri yang sangat ia hormati, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ketika menyangkut masalah ijtihad keagamaan. Bagi Inyiak De-er, polemik bukanlah ajang untuk mencari musuh atau pamer kesombongan, tapi sebuah metode bedah medis atau purifikasi untuk membersihkan tubuh pemikiran Islam dari kanker bid’ah yang menjalar.
Salah satu bukti paling autentik dan monumental dari ketajaman penanya tertuang dalam kitab risalahnya yang berjudul Qathi‘ Riqab Mulhidin atau Pemotong Leher Kaum Ateis. Di dalam lembaran-lembaran kitab tersebut, ia melakukan kritik total dan pembongkaran teologis yang sangat berani terhadap ajaran mistisisme Nur Muhammad dan konsep Martabat Tujuh yang kala itu sangat populer di kalangan tarekat-tarekat di Sumatra. Dengan pilihan diksi yang lugas tanpa tedeng aling-aling, ia menyindir para pemuka tarekat tradisional dengan kalimat pedas yang legendaris, di mana ia menyebut mereka bagaikan pembual bersorban besar yang menjual tarekat kosong demi mendapatkan keuntungan duniawi.
Pada zaman di mana kepatuhan kepada guru tarekat dianggap sebagai harga mati yang sakral, hampir tidak ada satu pun ulama di Nusantara yang memiliki nyali sebesar Inyiak De-er untuk melontarkan kritik seberani itu. Risiko dari keberanian ini sudah pasti sangat mahal. Ia panen kecaman dari berbagai penjuru mata angin; dicap sebagai orang yang berlidah kasar, keras kepala, berwatak kaku, bahkan dituduh arogan oleh kelompok-kelompok yang merasa terusik kenyamanan tradisinya.
Gerakan pembaruan keagamaan yang digelorakan oleh Inyiak De-er ternyata tidak hanya membuat kuping para ulama tradisional memerah, melainkan juga membuat jantung pemerintah kolonial Hindia Belanda berdegup kencang. Intelijen Belanda melihat bahwa ajaran purifikasi Islam yang dibawa oleh Inyiak De-er memiliki efek samping yang sangat berbahaya bagi stabilitas kekuasaan kolonial: yaitu lahirnya kesadaran akan harga diri, kemandirian berpikir, dan penolakan total terhadap segala bentuk ketundukan kepada kaum penjajah.
Pengawasan ketat mulai diterapkan di setiap gerak-gerik sang syekh. Khutbah-khutbahnya dicatat, tulisan-tulisannya disensor, dan ruang geraknya dibatasi. Hingga akhirnya, pada tahun 1941, pemerintah kolonial Belanda menjatuhkan hukuman pengasingan kepadanya. Beliau dicabut dari akar rumputnya di ranah Minang dan dibuang ke Sukabumi, Jawa Barat. Pihak kolonial berharap dengan menjauhkan sang arsitek dari murid-muridnya, maka api pembaruan di Sumatra Barat akan padam dengan sendirinya.
Namun, kalkulasi politik kolonial tersebut meleset jauh. Tubuh Inyiak De-er boleh saja dikurung di balik pagar pengasingan Sukabumi, namun gagasan, ide, dan semangat tajdid-nya telah terlanjur bertunas dan berakar gurita di dalam dada ribuan muridnya. Pemikirannya tetap hidup dan menjelma menjadi ideologi yang bergerak liar di ruang-ruang kelas madrasah, menggema dari atas mimbar-mimbar khutbah Jumat, dan mengalir deras melalui goresan pena dalam majalah serta buku-buku yang ditulis oleh para kadernya.
Ketika perang dunia kedua berkecamuk dan kekuasaan berganti ke tangan fasisme Jepang, Inyiak De-er dipindahkan ke Jakarta. Di kota inilah, di tengah keprihatinan mendalam melihat penderitaan rakyat akibat perang, kondisi kesehatannya perlahan-lahan mulai merosot. Namun semangat keislamannya tetap tegak lurus hingga embusan napas terakhirnya.
Pada tanggal 2 Juni 1945, hanya berselang kurang dari tiga bulan sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, Syekh Abdul Karim Amrullah mengembuskan napas terakhirnya menghadap Sang Khalik di Jakarta. Jenazahnya kemudian dibawa pulang dengan penuh penghormatan dan dimakamkan di tempat segalanya bermula: Nagari Sungai Batang. Bumi Minangkabau menyambut kembali putra terbaiknya yang telah mewakafkan seluruh hidupnya demi tegaknya kemurnian agama.
Silsilah perjuangan ini tidak terputus begitu saja. Dari garis keturunannya, Syekh Muhammad Amrullah menurunkan Syekh Abdul Karim Amrullah sang pembaru, dan perjuangan itu kemudian diwariskan kepada anak laki-lakinya yang kelak sejarah akan mencatat namanya dengan tinta emas yang tak kalah berkilau: Abdul Malik Karim Amrullah, yang di kemudian hari lebih dikenal dunia dengan nama Buya Hamka. Sang anak memanifestasikan warisan intelektual ayahnya dengan cara yang lebih teduh namun tetap kokoh, menjelma sebagai ulama besar sejagat, sastrawan legendaris, Pujangga Baru, sekaligus menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia yang pertama.
Dalam panggung besar sejarah Islam di Indonesia, figur Syekh Abdul Karim Amrullah berdiri dengan tegak dan kokoh sebagai sosok pengganggu kenyamanan. Beliau menolak menjadi kurator yang sekadar memelihara abu tradisi masa lalu yang telah lapuk. Ia memilih jalan pedang sebagai pengguncang kesadaran umat, membongkar dogma yang beku, dan menantang kemapanan. Dari tepian Sungai Batang, Inyiak De-er telah memberikan sebuah pelajaran berharga bagi generasi penerus bangsa: bahwa sebuah pembaruan dan kemajuan peradaban, sering kali harus ditebus dengan keberanian untuk berselisih dan ketegaran untuk berdiri tegak di tengah badai penolakan.









