ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Jika kita berbicara tentang panggung politik Indonesia era pra-1965, satu nama yang hampir dipastikan memicu perdebatan panjang adalah Dipa Nusantara Aidit, atau yang lebih beken dengan panggilan D.N. Aidit. Sosok ini laksana dua sisi mata uang dalam historiografi kita: di satu sisi ia dipandang sebagai dalang keji di balik peristiwa berdarah, namun di sisi lain ia dianalisis sebagai politisi ulung yang berhasil mengonsolidasikan massa rakyat bawah dalam skala yang masif.
Masa Kecil, Keluarga, dan Kepekaan Sosial yang Unik
Lahir dengan nama asli Ahmad Aidit pada 30 Juli 1923 di Tanjung Pandan, Belitung, ia dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sebenarnya cukup mapan dan terpandang. Ayahnya, Abdullah Aidit, adalah seorang menteri kehutanan yang agamis dan sempat mendirikan perkumpulan Nurul Islam yang berorientasi Muhammadiyah. Sementara ibunya, Mailan, berasal dari klan ningrat lokal.
Kombinasi latar belakang ini membuat Aidit kecil mendapatkan aksesibilitas pendidikan yang sangat baik melalui Hollandsch-Inlandsche School. Ia tumbuh sebagai remaja agamis yang rajin ke musala, bahkan sering didapuk menjadi muazin karena lafal suaranya yang lantang.
Namun, watak keras dan keberaniannya membawa Ahmad Aidit keluar dari zona nyaman rumahnya. Ia memiliki kemampuan asimilasi sosial yang luar biasa, berteman dengan siapa saja tanpa memandang sekat etnis maupun kelas, mulai dari anak-anak tangsi militer hingga komunitas Tionghoa.
Dari sinilah empati kultural dan kepekaan sosialnya terasah. Melalui catatan buku hariannya, Aidit remaja kerap ikut melaut bersama nelayan lokal dan mengamati betapa timpangnya hasil kerja keras mereka dengan upah yang diterima di pasar. Ia juga menyaksikan langsung bagaimana para buruh timah di Belitung hidup berlumur lumpur demi upah minim, sementara para menir Belanda dan tuan Inggris hidup bergelimang kemewahan. Pengalaman empiris inilah yang menjadi fondasi awal dari orientasi ideologis sayap kirinya di masa depan.
Merantau ke Jawa dan Menemukan Marxisme
Sekitar tahun 1936 hingga 1938, Aidit memutuskan merantau ke Jawa. Ada versi yang menyebut ia sempat tinggal di Bandung bersama tokoh politik Isa Anshari, namun versi lain dari adiknya, Murad Aidit, menyebut ia langsung ke Jakarta untuk bersekolah di Middenstand Handels School (MHS), sebuah sekolah menengah dagang. Di Batavia, ia dengan cepat beradaptasi dan mulai masuk ke kancah aktivis pergerakan melalui Persatuan Timur Muda (Pertimu) hingga bersentuhan dengan Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo) yang dipimpin tokoh sayap kiri, Amir Syarifuddin.
Menariknya, meski sudah tertarik pada gagasan kiri, Aidit baru benar-benar mendalami teori marxisme secara komprehensif pada masa pendudukan Jepang di bawah bimbingan langsung tokoh bernama M. Yusuf. Dari Yusuf lah ia meminjam buku monumental Das Kapital versi bahasa Belanda.
Aktivitasnya di bawah tanah sebagai aktivis antifasis memaksa Ahmad Aidit berdiskusi dengan ayahnya lewat surat untuk mengubah namanya menjadi Dipa Nusantara (D.N.) Aidit demi memproteksi keselamatan keluarganya dari endusan intelijen Jepang.
Konsolidasi Partai dan Era Keemasan PKI
Pasca-peristiwa Madiun 1948 yang membuat PKI hancur lebur dan kehilangan tokoh-tokoh senior seperti Muso, Aidit yang saat itu masih muda mengambil alih kemudi partai. Di sinilah kejeniusan politiknya diuji. Sadar bahwa PKI dicap buruk oleh sebagian masyarakat pasca-Madiun, Aidit melakukan strategi mobilisasi massa dengan pencitraan baru yang jauh lebih ramah, toleran terhadap agama, moderat, dan mengusung semangat patriotisme yang lincah.
Strategi ini membuahkan hasil yang sangat manis. Pada Pemilu 1955, PKI meroket menjadi kekuatan politik terbesar keempat di Indonesia.
Di bawah kepemimpinannya, PKI menjelma sebagai partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Uni Soviet dan Tiongkok. PKI merambah ke berbagai lini kehidupan masyarakat melalui organisasi sayap seperti Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat, Gerwani, hingga Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Hingga tahun 1965, basis massa dan simpatisan PKI diklaim menembus angka fantastis, yakni lebih dari 20 juta orang. Kedekatan Aidit dengan Presiden Soekarno pun semakin erat, terutama saat Bung Karno menggaungkan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis) dan mengangkat Aidit sebagai salah satu menteri penasihat kabinet.
Badai G30S dan Akhir yang Tragis
Namun, puncak kejayaan tersebut runtuh dalam satu malam. Peristiwa Gerakan 30 September 1965 meletus dengan diculik dan dibunuhnya enam jenderal serta seorang perwira TNI Angkatan Darat oleh pasukan Cakra Birawa. PKI langsung ditempatkan sebagai tertuduh tunggal, dan D.N. Aidit dituding sebagai dalang utama operasi tersebut.
Meskipun terdapat berbagai analisis sejarawan, seperti John Roosa yang melihat adanya kompleksitas keterlibatan perwira militer serta faksi internal Angkatan Darat arus opini publik dan represi militer kala itu tidak bisa dibendung. Di bawah komando Angkatan Darat yang dipimpin Mayjen Soeharto, pembersihan besar-besaran terhadap simpatisan kiri dilakukan di berbagai daerah.
Aidit melarikan diri ke Jawa Tengah, namun pelariannya berakhir pada 22 November 1965. Menurut salah satu versi sejarah, ia ditangkap oleh pasukan di bawah operasi Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dan dieksekusi mati di dekat sebuah sumur tua di Boyolali tanpa pernah melalui proses peradilan resmi (extrajudicial killing).
Konon, sebelum peluru menembus tubuhnya, Aidit sempat meminta waktu setengah jam untuk mengumandangkan pidato berapi-api yang justru menyulut emosi para tentara yang mengeksekusinya. Hingga hari ini, letak pasti makamnya masih menjadi misteri yang tak terpecahkan.
Tragedi ini juga membawa dampak pilu bagi keluarganya. Istrinya, dr. Sutanti, seorang ahli akupuntur dari keluarga ningrat Mangkunegaran, harus hidup berpindah-pindah dari satu penjara ke penjara lain selama 14 tahun terpisah dari anak-anaknya.
Bahkan pasca-bebas pun, stigma sosial dan pengawasan super ketat dari rezim Orde Baru terus membayangi kehidupan mereka sebagai bagian dari kampanye bahaya laten komunisme.









