ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Alkisah di tanah Serambi Mekkah, sebuah negeri yang diberkahi dengan hamparan samudra dan pegunungan yang megah, tersebutlah seorang pahlawan besar yang namanya harum tertulis dalam lembaran tarikh perjuangan bangsa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Beliau adalah Teuku Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud, seorang pahlawan asal Tanah Rencong yang berdiri tegak bak karang di tengah lautan, tak gentar menghadapi badai agresi militer kaum kolonial Belanda yang kerap dijuluki kaphee oleh masyarakat setempat.
Meskipun titimanggih serta hari kelahiran beliau belum dapat dipastikan secara terperinci oleh para ahli sejarah, darah bangsawan dan keningratan mengalir deras di dalam urat nadinya. Beliau merupakan keturunan luhur dari garis silsilah para pembesar Kerajaan Aceh Darussalam.
Ayahnya adalah Panglima Polem VIII Raja Kuala, dan kakeknya adalah Teuku Panglima Polem Sri Imam Muda Mahmud Arifin seorang Pang Sagoe (Panglima Wilayah) ke-12 Mukim Aceh Besar yang amat masyhur namanya pada masanya. Tumbuh dalam buaian tradisi kebangsawanan yang sarat dengan nilai-nilai religius dan kesatriaan, Muhammad Daud muda pun bersanding dengan putri dari Tuanku Hasyim Banta Muda, seorang tokoh pergerakan yang karib dengan perjuangan ayahnya. Pada bulan Januari tahun 1891, setelah sang ayah berpulang ke rahmatullah, beliau resmi diangkat menjadi Panglima Polem IX sekaligus mewarisi gelar kebesaran Waziroal Azmi.
Dalam mengemban amanah sebagai pemimpin Sagoe, Panglima Polem tidaklah berjuang seorang diri. Beliau didampingi oleh pilar-pilar spiritual yang kokoh, yakni para ulama kharismatik Aceh seperti Tengku Muhammad Amin dan Tengku Bad, yang kemudian didapuk menjadi panglima besar medan laga. Aliansi kaum bangsawan (uleebalang) dan kaum ulama (teungku) inilah yang melahirkan persatuan ummat yang luar biasa. Hingga menjelang pergantian abad ke-19, angkatan perang Hindia-Belanda senantiasa membentur dinding tebal kala mencoba merangsek ke dalam wilayah pertahanan kubu-kubu pasukan Aceh.
Strategi perang gerilya pun berkecamuk dengan sengitnya. Ketika tokoh legendaris Teuku Umar melancarkan taktik kepura-puraan menyerah guna mengelabui pihak musuh demi mendapatkan pasokan logistik artileri, Panglima Polem menyambut sekembalinya sang kawan ke pangkuan ibu pertiwi. Beliau menggabungkan 400 orang pasukan setianya dengan korps militer Teuku Umar guna menyongsong gempuran hebat tentara Belanda. Di medan laga yang bersimbah darah tersebut, serbuan infantri gabungan ini berhasil memorak-porandakan barisan musuh hingga menyebabkan puluhan serdadu Belanda tewas dan ratusan lainnya luka-luka.
Kendati demikian, roda nasib di medan pertempuran senantiasa berputar. Menghadapi taktik bumi hangus dan gelombang bala bantuan serdadu kompeni yang tak kunjung surut sejak tahun 1897, peta kekuatan perlahan mulai timpang. Pasukan Aceh terpaksa mereduksi intensitas serangan frontal.
Demi mengamankan keberadaan pasukannya, Teuku Umar mengalihkan barisan ke daerah Dayak Hulu, sementara Panglima Polem bersama sisa-sisa laskarnya bertahan di benteng-benteng pegunungan Seulimum. Di wilayah berbukit inilah pertempuran berdarah kembali pecah, hingga akhirnya benteng pertahanan beliau jatuh ke tangan musuh akibat kalah dalam jumlah persenjataan modern.
Kekalahan taktis di Seulimum memaksa Panglima Polem melakukan eksodus atau hijrah politik menuju wilayah Pidie. Di tanah pelarian tersebut, beliau disambut dengan tangan terbuka oleh sang pemegang takhta tertinggi, Sultan Aceh Muhammad Daud Syah. Bersama sang Sultan, Teuku Umar, serta para pemuka adat lainnya, sebuah mufakat akbar dan konsensus suci diikrarkan melalui sumpah setia demi mempertahankan kedaulatan tanah leluhur. Pusat komando gerilya pun kemudian digeser ke pedalaman berbukit di daerah Gayo untuk menyusun strategi perang baru yang jauh dari jangkauan mata-mata kolonialis.
Melihat kegagalan militer untuk membekuk pucuk pimpinan perlawanan, pihak Hindia-Belanda menerapkan taktik yang amat licik dan tidak kesatria. Mereka menyandera keluarga terdekat Sultan, termasuk para permaisuri dan putra mahkota di wilayah Lampulo. Di bawah ancaman pembuangan keluarga yang amat dicintainya, Sultan Muhammad Daud Syah akhirnya terpaksa menurunkan senjata demi perdamaian pada tahun 1903 dan diasingkan oleh pemerintah kolonial, mula-mula ke Ambon hingga akhirnya mengembuskan napas terakhir di Batavia pada tahun 1939.
Kejatuhan sang Sultan menjadi pukulan telak yang meruntuhkan moril perlawanan terorganisir.
Terjepit oleh keadaan yang kian pelik dan demi keselamatan rakyatnya, Panglima Polem Sri Muda Perkasa Muhammad Daud dengan berat hati menyetujui kesepakatan damai dengan pemerintah Hindia-Belanda pada tanggal 7 September 1903. Kendati perang bersenjata telah usai, marwah dan kepemimpinan beliau sebagai Pang Sagoe tetap diakui serta dihormati, mengukuhkan namanya sebagai lambang keteguhan jiwa yang tak pernah padam di sanubari rakyat Aceh.
Sumber:
Stolwijk, A. (2017). Atjeh: Het verhaal van de bloedigste strijd uit de Nederlandse koloniale geschiedenis. Bert Bakker
Matanasi, P. (2024, Desember 12). Hans Christoffel memburu Panglima Polem. Historia.id.









