ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – DI sudut sebuah rumah di Dovia di Predapio, wilayah Emilia-Romagna, Italia, bau besi terbakar berkelindan dengan aroma kertas buku-buku kiri. Di sana, Alessandro Mussolini, seorang pandai besi yang karib dengan pemikiran Karl Marx, kerap mendiktekan asupan politik kepada anaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dirinya dinamai Benito Amilcare Andrea Mussolini sebuah nama yang dipetik dari tokoh revolusioner anti-imperialis Meksiko, Benito Juárez. Di bawah asuhan sang ayah yang sosialis radikal dan ibunya, Rosa Maltoni, seorang guru Katolik yang saleh, Benito muda tumbuh dalam paradoks: ia melahap teks-teks ideologi, cerdas di kelas, namun menyimpan agresi yang meledak-ledak.
Ia pernah diusir dari sekolah karena kekerasan. Namun, sejarah tak mencatatnya sebagai kriminal semenjana; dari rahim temperamen itu, sebuah monster politik baru sedang dikandung. Sebelum dunia mengenalnya sebagai Il Duce Sang Pemimpin Mussolini muda adalah seorang biduan sosialisme internasional yang fasih. Pada 1902, demi menghindari wajib militer, ia melarikan diri ke Swiss.
Di sana, sembari hidup mengelandang dan mengorganisasi buruh, ia meresapi Das Kapital. Kembali ke Italia, ia menceburkan diri ke dunia jurnalisme, sebuah palagan yang disadarinya sebagai alat paling ampuh untuk memengaruhi massa.
Pada 1911, ketika Italia menginvasi Libya, Mussolini berada di garis depan mengutuk keras aksi kolonialisme tersebut. Baginya saat itu, imperialisme adalah dosa besar kapitalisme. Ia menjuluki dirinya sendiri sebagai Ferro Eretico sang heretik sejati.
Namun, kesetiaan ideologis Mussolini rupanya selembar kertas yang mudah terbakar oleh angin zaman.
Ketika Perang Dunia I meletus pada 1914, Partai Sosialis Italia (PSI) bersikeras mengambil posisi netral. Mussolini bersilang jalan. Ia mengalami metamorfosis politik yang radikal: dari seorang pasifis-sosialis menjadi propagandis pro-perang yang gigih. Melalui koran yang didirikannya, Il Popolo d’Italia, ia menyerukan agar Italia terjun ke medan laga. Konsekuensinya telak, ia didepak dari rahim Partai Sosialis.
Kecewa tapi tak patah arang, Mussolini mengubur marxisme dan merajut ideologi baru dari perpaduan ultranasionalisme, romantisme kejayaan Roma Kuno, dan kultus individu yang agresif. Dari sisa-sisa amarah pasca-perang itulah lahir Fascio Rivoluzionario pada 1919. Kata fasisme sendiri dipetik dari fasces, seikat batang kayu dengan kapak di tengahnya yang menjadi simbol kekuasaan magis para hakim di era Kekaisaran Romawi.
Fasisme versi Mussolini bukan sekadar mazhab politik baru; ia adalah sebuah estetika kekuasaan pakaian seragam hitam (Camicie Nere atau Kemeja Hitam), retorika militan, pawai paramiliter, dan heroisme jantan. Mussolini paham betul cara memanfaatkan kecemasan kelas menengah dan elit Italia terhadap “Bahaya Merah” komunisme.
Dengan taktik tekanan psikologis dan teror jalanan oleh kelompok Kemeja Hitam, ia menggelar Marcia su Roma (Pawai ke Roma) pada Oktober 1922. Alih-alih mengerahkan tentara untuk menumpasnya, Raja Victor Emmanuel III yang gentar justru menyerahkan kursi Perdana Menteri kepada Mussolini.
Mussolini bergerak cepat melakukan coup d’état secara konstitusional. Krisis internasional, seperti Insiden Korfu 1923, dipakainya untuk mengesankan diri sebagai pembela martabat bangsa. Di dalam negeri, ia meloloskan Hukum Acerbo pada 1924, sebuah regulasi pemilu yang dimanipulasi agar Partai Fasis meraih mayoritas mutlak di parlemen.
Setahun kemudian, topeng demokrasi ditanggalkan total. Oposisi dilarang, pers dibungkam, dan Italia resmi menjadi negara satu partai yang totalitarian. Untuk mengunci kekuasaannya dari rongrongan bawah tanah, Mussolini mendirikan OVRA (Opera Vigilanza Repressione Antifascisme) pada 1927. Polisi rahasia ini menyusup ke kampus, gereja, hingga ruang tamu warga.
Di sisi lain, mesin propaganda merancang kultus individu yang masif. Slogan “Il Duce ha sempre ragione” (Sang Pemimpin Selalu Benar) bergema di dinding-dinding kota. Mussolini kerap berpose bertelanjang dada, menunggang kuda, atau memanen gandum sebuah konstruksi visual maskulinitas absolut untuk menyihir massa. Bahkan, demi merengkuh legitimasi moral di negara yang religius itu, ia meneken Perjanjian Lateran (Patti Lateranensi) dengan Paus Pius XI pada 1929, yang meresmikan kedaulatan Vatikan sekaligus menahbiskan Mussolini sebagai “pria yang diutus Tuhan.”
Di sektor ekonomi, ia memperkenalkan sistem korporatisme sebuah jalan ketiga yang menolak kapitalisme bebas sekaligus mengharamkan komunisme, di mana negara bertindak sebagai wasit absolut antara buruh dan pemilik modal. Meski sempat sukses dalam proyek mercusuar seperti pengeringan Rawa Pontin, struktur ekonomi fasis sejatinya rapuh dan kolaps dihantam Great Depression 1929.
Guna mengalihkan borok domestik, Mussolini menghidupkan kembali syahwat imperialisme dengan jargon Spazio Vitale (Ruang Hidup). Target pertamanya adalah Libya, di mana ia menggelar operasi militer brutal yang berujung pada genosida puluhan ribu warga lokal. Pada 1935, giliran Ethiopia yang digilas dengan senjata kimia gas mustard.
Liga Bangsa-Bangsa mandul tak berkutik. Keberhasilan menduduki Afrika Timur (Africa Orientale Italiana) membuat Mussolini mabuk kepayang. Ia merasa setara dengan para Kaisar Roma, tanpa menyadari militer Italia sebenarnya keropos di dalam.
Hubungannya dengan Adolf Hitler awalnya dingin; Mussolini sempat mencemooh teori rasial Nazi. Namun, melihat kekuatan Jerman yang digdaya, ia bertekuk lutut dan meneken Poros Roma-Berlin (Asse Roma-Berlino). Italia pun mulai mengadopsi hukum rasial anti-Semit pada 1938.
Ketika Perang Dunia II pecah, Mussolini terseret dalam perjudian fatal Hitler. Masuknya Italia ke kancah perang pada Juni 1940 menjadi lonceng kematian bagi rezim fasis. Kampanye militer di Yunani, Balkan, dan Afrika Utara berakhir dengan kegembiraan yang hancur berantakan. Italia hanya menjadi beban yang harus terus diselamatkan oleh serdadu Nazi.
Kepercayaan rakyat menguap, berganti muak. Pada Juli 1943, pasca-pendaratan Sekutu di Sisilia, Dewan Agung Fasis berbalik arah. Dipimpin oleh Dino Grandi, mereka menggelar mosi tidak percaya. Mussolini dicopot oleh Raja dan dijebloskan ke tahanan di Pegunungan Gran Sasso. Kejatuhannya tampak final, sebelum pasukan khusus SS Jerman yang dipimpin Otto Skorzeny menggelar operasi penyelamatan dramatis (Unternehmen Eiche).
Mussolini yang ringkih dibawa ke utara Italia untuk dijadikan pemimpin boneka di Republik Sosial Italia dikenal sebagai Republik Salò. Di bawah kendali penuh Berlin, Salò menjadi saksi kengerian baru ketika deportasi warga Yahudi Italia ke kamp pemusnahan Auschwitz dimulai. Mussolini tahu riwayatnya sudah tamat; ia menyebut dirinya sendiri sebagai “mayat berjalan.”
Akhir kalam sang diktator ditulis dengan darah dan kepasrahan di tepi Danau Como pada April 1945. Saat mencoba kabur ke Swiss dengan menyamar sebagai tentara Jerman bersama kekasihnya, Clara Petacci, ia dicegat oleh para partisan komunis. Tanpa pengadilan panjang, keduanya dieksekusi di Desa Giulino di Mezzegra pada 28 April 1945.
Keesokan harinya, sejarah mencatat sebuah teater pembalasan yang brutal di Piazzale Loreto, Milan. Jenazah Benito Mussolini dan Clara Petacci digantung terbalik di balok atap sebuah pompa bensin. Lokasi yang dulunya sering dipakai Mussolini untuk memajang mayat para partisan yang dieksekusi, kini berbalik arah: rakyat yang murka meludahi, menendang, dan melempari jasad sang Duce yang hancur tak berbentuk. Sebuah akhir yang ironis bagi seorang pria yang puluhan tahun sebelumnya dipuja bagai dewa keselamatan Italia.









