ARGUMENRAKYAT.COM, PAYAKUMBUH – Laju sebuah bendi tradisional Minangkabau tidak pernah ditentukan oleh seberapa megah penampilannya, melainkan oleh keharmonisan derap langkah kaki kudanya dan kemahiran sang kusir dalam mengendalikan arah perjalanan. Analogi bersahaja ini kembali membentur kesadaran saya saat duduk memandu jalannya Kusieh Bendi Podcast episode ketiga.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Bersama figur muda inspiratif, Ismail Lishtkroo, ruang diskusi kami tidak sekadar menjadi tempat bertukar kata, tapi juga bertransformasi menjadi laboratorium gagasan sosiokultural yang membedah pentingnya konsistensi, daya tahan, dan lompatan kreativitas di tingkat lokal demi menjawab tantangan industri kreatif modern global.
Sebagai pelaku industri pers dan multimedia yang bergerak langsung dari rahim Luak Limopuluah, saya sering kali menyaksikan bagaimana potensi-potensi besar di daerah layu sebelum berkembang akibat minimnya ekosistem pendukung. Gagasan-gagasan visioner dari anak muda kerap kali terbentur oleh dinding skeptisisme lingkungan sekitar yang masih terjebak pada pakem-pakem konvensional.
Padahal, melalui rekam jejak perjalanan kreatif Ismail, kita disuguhkan sebuah pembuktian otentik bahwa keterbatasan geografis bukan lagi variabel penghambat yang mutlak di era digitalisasi siber hari ini. Kreativitas sejati tidak pernah menuntut kemewahan modal awal, ia hanya membutuhkan keberanian untuk memulai, ketekunan merawat proses, dan ketajaman dalam membaca keresahan yang relate dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.
Secara makro, industri kreatif kontemporer saat ini memang sedang mengalami pergeseran paradigma yang sangat agresif. Model bisnis media dan produksi konten tidak lagi bisa mengandalkan pendekatan satu arah yang kaku. Di sinilah relevansi konvergensi ekosistem multimedia yang manakala bisa mengintegrasikan kanal siber, podcast, dan manajemen acara menjadi mutlak untuk dikembangkan secara berkelanjutan.
Kita harus berani membalikkan sanggahan publik yang kerap memandang remeh industri kreatif daerah sebagai sekadar komoditas hiburan pengisi waktu luang. Nyatanya, ketika ruang digital dikelola dengan manajemen yang dewasa, produk komunikasi berbasis kultur lokal mampu bertindak sebagai penggerak roda ekonomi kreatif baru yang mandiri dan berdaya guna bagi lingkungan sekitar.
Melalui catatan reflektif ini, saya merekomendasikan sekaligus mengajak seluruh jejaring pemuda kreatif di Payakumbuh dan Lima Puluh Kota untuk berhenti menjadi penonton pasif di tengah gelombang arus informasi. Ruang-ruang diskusi alternatif harus terus ditumbuhkan, dikalibrasi, dan diduplikasi secara kolektif di berbagai lini komunitas. Pemerintah daerah dan institusi pers lokal wajib hadir guna membangun jembatan inkubasi yang sehat, memfasilitasi kebutuhan literasi teknologi, serta memberikan ruang apresiasi bagi karya-karya orisinal anak negeri. Kita memiliki tanggung jawab moral bersama untuk memastikan bahwa talenta-talenta luar biasa seperti Ismail tidak berjalan sendirian dalam sunyi.
Kompetensi jurnalistik dan manajerial yang kita canangkan pada akhirnya akan menjadi sebuah narasi usang jika mikrofon di ruang redaksi kita gagal menyuarakan denyut nadi kreativitas generasi masa depan. Mari kita sepakati untuk meruntuhkan batas-batas keraguan, saling menguatkan simpul kolaborasi, dan membuktikan kepada dunia luar bahwa dari sudut kecil kota ini, kita mampu melahirkan karya-karya besar yang berbobot serta penuh makna. Perjalanan telah kita mulai, irama derap langkah bendi ini harus tetap dijaga, sebab tujuan akhir kita bukan sekadar sampai ke tempat tujuan, melainkan meninggalkan jejak perubahan yang menginspirasi bagi generasi-generasi setelah kita.
Herman, R
(Direktur Utama PT Dimensia Digital Multimedia & Pimpinan Kusieh Bendi)









