Ketika Algoritma Lebih Berkuasa dari Nalar Publik

- Jurnalis

Kamis, 12 Februari 2026 - 15:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Ketika Algoritma Lebih Berkuasa dari Nalar Publik (foto AI)

Ilustrasi Ketika Algoritma Lebih Berkuasa dari Nalar Publik (foto AI)

ArgumenRakyat.com — Jakarta, Media sosial kini menjadi sumber utama informasi bagi banyak orang. Namun, tanpa disadari, informasi yang muncul di layar ponsel bukan sepenuhnya hasil pilihan kita sendiri. Ada sistem otomatis—disebut algoritma—yang menentukan berita, video, dan opini apa yang paling sering kita lihat.

Algoritma bekerja dengan membaca kebiasaan pengguna. Konten yang sering diklik, ditonton lama, atau memicu emosi kuat seperti marah dan takut akan lebih sering ditampilkan. Akibatnya, konten sensasional dan kontroversial lebih mudah viral dibandingkan informasi yang tenang, lengkap, dan berbasis fakta.

Kondisi ini berdampak pada cara masyarakat berpikir dan menilai suatu isu. Banyak orang hanya menerima informasi yang sejalan dengan pandangan mereka, sementara pendapat berbeda jarang muncul. Situasi ini membuat perbedaan pandangan di masyarakat semakin tajam dan sulit dipertemukan.

Masalah menjadi lebih serius ketika menyangkut isu politik dan kebijakan publik. Berita palsu dan informasi menyesatkan bisa menyebar sangat cepat karena dianggap “menarik” oleh algoritma. Sementara itu, klarifikasi dan informasi resmi sering kalah cepat dan kalah ramai.

Baca Juga:  Cara Bikin Custom Feeds YouTube Hanya Pakai Tulisan

Pemerintah di berbagai negara mulai menaruh perhatian pada pengaruh algoritma. Desakan agar platform digital lebih terbuka tentang cara kerja sistem rekomendasi semakin menguat, karena ruang publik digital kini dinilai terlalu dikuasai oleh kepentingan bisnis perusahaan teknologi.

Di sisi lain, perusahaan platform sering menyatakan bahwa algoritma hanya mengikuti perilaku pengguna. Namun, banyak pengamat menilai alasan ini tidak sepenuhnya tepat, karena sistem tersebut dirancang untuk mengejar keuntungan dari iklan dan waktu tayang pengguna.

Para ahli mengingatkan bahwa kemampuan masyarakat untuk berpikir kritis semakin diuji. Tanpa aturan yang jelas dan pengawasan yang kuat, publik berisiko terus digiring oleh arus informasi yang ditentukan oleh mesin, bukan oleh akal sehat.

Baca Juga:  Komdigi Pelajari Putusan MK soal Alasan Blokir Konten

Perspektif ArgumenRakyat.com

Algoritma kini bukan sekadar alat teknologi, tetapi telah menjadi kekuatan yang membentuk cara publik berpikir. Masalahnya bukan karena masyarakat kurang pintar, melainkan karena sistem digital sengaja mendorong konten yang memancing emosi demi keuntungan.

Selama perhatian manusia dijadikan barang dagangan, informasi yang paling heboh akan selalu menang atas informasi yang paling benar. Jika dibiarkan, ruang publik akan dipenuhi kebisingan, bukan pemahaman.

Pemerintah perlu bersikap lebih tegas. Aturan tentang transparansi algoritma dan tanggung jawab platform digital harus segera diperkuat. Tanpa itu, masyarakat akan terus berada dalam ruang digital yang tampak bebas, tetapi sebenarnya diarahkan secara diam-diam.

Di era digital, tantangan terbesar bukan sekadar memilih berita yang benar, melainkan menjaga agar nalar publik tidak sepenuhnya dikendalikan oleh algoritma.(**)

Berita Terkait

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan
Waspada Situs Palsu iPhone Duo Incar Pembeli FOMO
Peneliti Google DeepMind Mundur Tolak AI untuk Militer
iPhone Duo Mulai Dijual, Apple Jamin Stok di Toko
Bill Gates Peringatkan Gejolak AI selama 20 Tahun ke Depan
Hacker Jalankan iOS 16 di Ponsel Android untuk Pertama Kali
Robot Vacuum Bisa Rekam Rumah hingga Curi Data Pribadi
AI Prediksi Peluang Hidup Pasien Kanker dari Selfie
Tag :

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:38 WIB

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:45 WIB

Waspada Situs Palsu iPhone Duo Incar Pembeli FOMO

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:49 WIB

Peneliti Google DeepMind Mundur Tolak AI untuk Militer

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:55 WIB

iPhone Duo Mulai Dijual, Apple Jamin Stok di Toko

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:51 WIB

Bill Gates Peringatkan Gejolak AI selama 20 Tahun ke Depan

Berita Terbaru

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB

Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi. (Foto: Dok. Humas Polres Pariaman)

Daerah

Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:18 WIB