ARGUMENRAKYAT.COM, SUMBAR – Selesai sudah perkuliahan Studi Naskah Pendidikan Agama Islam semester ini, di UIN SjechM. Djamil Djambek Bukittinggi. Selama satu semester, kami menyelami mutiara hikmah dari dua prasasti pendidikan Islam: Tadzkiratus Sami’ wal Mutakallim karya Imam Ibnu Jama’ah dan Ta’limul Muta’allim gubahan Syekh Zarnuji.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Mengingat sebagian besar mahasiswa adalah jebolan MAN dan SMA yang dahaganya akan khazanah pesantren belum terpuaskan, telaah atas dua kitab ini menjadi kompas bagi mereka untuk memeluk adab inti dari segala ilmu.
Satu fragmen yang saya tadabburi bersama mereka adalah kaidah agung dalam Tadzkiratus Sami’: seorang pendidik wajib berbicara sesuai dengan maqam atau kapasitas akal muridnya. Ibarat penyair yang menyusun bait indah, guru harus tahu kapan harus menggunakan badi’ dan kapan cukup dengan bayan yang lugas.
Janganlah ilmu yang tinggi disuguhkan kepada akal yang belum siap memikul beban berat; sebab ibarat memberi daging unta kepada bayi yang baru belajar mengunyah, justru akan mencelakakan.
Janganlah fiqh muqaranah dipaksakan bagi mereka yang belum mantap dalam fiqh madzahib, atau filsafat metafisika diajarkan sebelum tauhid benar-benar berakar dalam qalb. Memberikan kitab-kitab berat seperti Futuhat atau Insan Kamil kepada mereka yang belum kokoh memegang tali syariat hanya akan menebar mudharat. Ilmu adalah cahaya, namun cahaya yang terlalu terang bagi mata yang belum terbiasa justru akan membinasakan pandangan.
Semoga para mahasiswa ini tidak sekadar menjadi pembawa kitab, tapi juga penanam nilai-nilai luhur yang mengakar pada tradisi klasik pendidikan Islam. Semoga pula kelak mereka menjadi guru yang bijak, yang mampu menakar “makanan” bagi akal muridnya, sebagaimana para ulama salaf menjaga amanah ilmu. Aamiin.
Penulis: Apria Putra, MA.Hum (Filolog, Dosen UIN Sjech M.Djamil Djambek Bukittinggi)









