ARGUMENRAKYAT.COM, PAYAKUMBUH – Teknologi tidak pernah bernegosiasi dengan waktu; ia bergeser per detik, melindas siapapun yang gagap berselancar di atas arusnya. Berada di kota kecil bukan alasan untuk mengecilkan mimpi, karena di era algoritma global, batas teritorial telah runtuh: sebuah gagasan dari sudut sempit daerah kini memiliki tiket yang sama untuk mengguncang panggung dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai pimpinan media, realitas transisi digital ini menjadi fondasi awal ketika kami meletakkan batu pertama lahirnya Kusieh Bendi Podcast di bawah bendera PT Dimensia Digital Multimedia. Respons publik yang masif terbukti dari lonjakan ribuan pengikut di Instagram, TikTok, hingga YouTube dalam waktu singkat bukanlah sebuah kebetulan statistik.
Ada dahaga kolektif di tingkat akar rumput akan hadirnya ruang informasi yang cepat, akurat, objektif, dan terpercaya. Payakumbuh dan Luak Limopuluah selama ini kaya akan narasi seremonial, namun kita sering kali kekurangan ruang publik yang berani membedah persoalan daerah secara utuh dan dua sisi.
Secara konseptual, keberlanjutan sebuah daerah berpendapatan rendah (APBD terbatas) sangat bertumpu pada perputaran ekonomi mikro dan sektor informal. Payakumbuh, dengan luas wilayah hanya 82 kilometer bujur sangkar, secara teori tidak memiliki ruang untuk industri manufaktur skala makro. Data & Backing sosiologis menunjukkan bahwa denyut nadi kota ini hidup dari dua jangkar utama: kiriman dana perantau (remitansi) serta geliat industri kuliner tradisional yang beroperasi hingga subuh.
Di sinilah fungsi media berbasis konvergensi multimedia masuk, bukan sekadar sebagai penyebar berita, melainkan sebagai katalisator nilai ekonomi (economic value creator) yang mendorong produk lokal menembus standarisasi pasar global.
Klaim saya konseptual: Kemajuan sebuah kota tidak bisa lagi dipasrahkan hanya pada pundak birokrasi pemerintahan, melainkan harus digerakkan oleh kolaborasi literasi media digital yang diarsiteki oleh generasi muda. Warrant (jaminan) dari klaim ini adalah pembagian porsi kerja yang realistis: generasi senior memegang 20% peran manajerial dan strategi, sementara 80% eksekusi teknologi mutlak berada di tangan kreativitas anak muda.
Rebuttal (sanggahan) kelompok skeptis biasanya menganggap podcast daerah hanyalah wadah lelucon atau ruang kritik tanpa dasar. Namun, Kusieh Bendi membalikkan anggapan tersebut. Filosofi bendi dokar tradisional Minang adalah metafora yang mendalam: kendati rodanya dua, ia ditarik oleh kuda yang melangkah berirama, pelan namun pasti sampai ke tujuan.
Di atas bendi, obrolan mengalir santai tanpa sekat, tetapi melahirkan keputusan-keputusan besar bagi masa depan anak kemenakan. Qualifier (pembatas) dari analisis ini adalah bahwa media siber lokal harus tetap menjaga kedewasaan politik; kita boleh mengkritik kebijakan pasar semberaut atau kemandekan ekonomi, namun kritik tersebut wajib disandingkan dengan solusi konkret (win-win solution) demi kemaslahatan bersama.
Menghadapi gempuran pasar daring (online) yang mulai menggerus eksistensi pasar tradisional, PT Dimensia Digital Multimedia menawarkan cetak biru (grand design) melalui diversifikasi program redaksional:
Pertama, Meluncurkan Program “Liek Galamai”: Menggunakan analogi elastisitas galamai (kuliner khas Payakumbuh) sebagai media edukasi publik agar masyarakat dan pemangku kebijakan lebih luwes, dewasa, dan tidak terkotak-kotak dalam melihat perbedaan pandangan politik.
Kedua, Inisiasi Pasar Kreatif di Ruang Publik Komersial: Memanfaatkan aset daerah atau petak pasar yang kosong untuk diberdayakan oleh Karang Taruna dan pemuda kreatif di 48 kelurahan sebagai pusat inkubasi UMKM berbasis digital.
Saya mengajak seluruh pemangku kepentingan (stakeholders) di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota—mulai dari Kepala Daerah, Anggota Dewan, Ninik Mamak, hingga pelaku usaha—untuk meruntuhkan ego sektoral. Ruang redaksi dan mikrofon kami terbuka lebar untuk mendudukkan setiap persoalan pelik daerah. Mari hadir, berdiskusi, dan bawa gagasan terbaik Anda ke atas bendi ini, karena sebuah kota tidak akan pernah bergerak maju jika pemimpinnya memilih jalan sunyi yang menutup diri dari aspirasi rakyatnya.
Sertifikasi dan kompetensi jurnalisme yang kita kejar hanyalah selembar kertas tanpa makna jika kita gagal menjadi jembatan yang merekatkan pemikiran pemerintah dengan jeritan kebutuhan masyarakat di akar rumput. Seperti falsafah luhur orang tua-tua kita di Minangkabau: hidup ini layaknya air yang mengalir, ia harus terus bergerak memberi pencerahan, membasahi bumi Luak Limopuluah, hingga bermuara ke lautan luas dunia.
Herman, R
(Direktur Utama PT Dimensia Digital Multimedia & Pimpinan Kusieh Bendi)









