​Pemerintah Tanggap Kritikus: Retorika “Londo Ireng” dan Eskalasi Kontroversi Kritik Dua Arah

- Jurnalis

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Hasan Nasbi (Dok. Istimewa)

Foto: Hasan Nasbi (Dok. Istimewa)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Dinamika kebebasan berpendapat dan diskursus politik nasional kembali memanas. Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi, Hasan Nasbi, memberikan klarifikasi substansial terkait argumennya mengenai hak pemerintah untuk melancarkan kritik balasan terhadap para pengkritik.

Ia menegaskan bahwa narasi pertentangan tersebut sejatinya tidak dialamatkan kepada publik secara luas, tapi secara spesifik menyasar entitas atau kelompok tertentu yang dikategorikan sebagai “londo ireng”.

​”Mengkritik londo ireng boleh dong. Kan nggak ditunjukkan ke rakyat secara umum. Itu kan ke kelompok-kelompok kritis yang kita duga sebagai londo ireng. Bukan untuk masyarakat secara umum,” kata Hasan kepada awak media di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (31/7/2026) sebagaimana dilansir dari Tirto.id.

​Dalam konstelasi komunikasi politik istana, Hasan mendefinisikan terminologi londo ireng sebagai entitas yang cenderung memelihara narasi pesimisme dalam memandang dinamika pembangunan bangsa. Pihak-pihak tersebut disinyalir bergerak di ruang publik dengan narasi yang seolah-olah sejalan dengan agenda kepentingan nasional.

Baca Juga:  Qodari Jawab Tuntutan Mahasiswa: Sebut Prabowo Panglima Lawan Kebocoran APBN

​Istilah ini mengemuka pasca-disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam panggung pidatonya, yang mereferensikan oknum jurnalis, pengamat, hingga organisasi masyarakat sipil (LSM) yang dinilai kerap mencari celah preseden buruk pemerintah serta terafiliasi dengan agenda asing.

​Dalam kacamata pemerintah, lontaran narasi tersebut diklaim sekadar instrumen peringatan dini agar seluruh elemen bangsa mengonsolidasikan barisan.

​”Sepertinya kok lebih suka pesimis melihat kehidupan bangsa kita dan mereka kan ada yang berprofesi seolah-olah sama-sama kita kan gitu. Jadi buat kita ini sebagai peringatan saja bahwa harusnya kan kita bersama-sama bersatu,” ujar pria yang pernah bersekolah di SMAN 2 Bukittinggi itu.

​Guna menjaga stabilitas politik, pemerintah mengklaim berupaya memperkuat sinergi nasional ketimbang membiarkan fragmentasi publik terus terjadi.

​”Tidak memperbanyak kegaduhan, tapi justru memperbanyak kekompakan. Kita harus memperbanyak optimisme, mengurangi pesimisme, memperbanyak kepercayaan diri terhadap bangsa kita dan menghilangkan rasa-rasa pesimis lah. Sehingga kita bisa maju lebih cepat,” tegasnya.

Baca Juga:  Polri Siapkan Anjungan Cetak SKCK Mandiri Cegah Pungli

​Sebelumnya, pernyataan Hasan mengenai prinsip kritik dua arah sempat memicu polemik luas di media sosial. Langkah defensif ini diambil untuk menguatkan retorika Presiden Prabowo yang memantik isu londo ireng dalam orasinya pada Puncak Peringatan Harlah ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa di Jakarta Convention Center, Kamis (23/7/2026).

​Pada potongan video yang viral di media sosial, Hasan menegaskan eksistensi kebebasan berekspresi seharusnya beroperasi secara simetris di mana: “Anda boleh mengata-ngatai pemerintah, tapi pemerintah juga boleh dong mengkritik Anda.”

​Atas dasar konsistensi demokrasi tersebut, ia menegaskan bahwa jajaran eksekutif memiliki hak berimbang untuk melakukan klarifikasi resmi maupun serangan balik konseptual terhadap pihak-pihak yang dituding menyebarkan misinformasi atau framing destruktif.

Berita Terkait

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta
Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot
Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan
Kabut Asap Karhutla Kembali Selimuti Palembang
IHSG Berpotensi Menguat Usai Respons Kebijakan Bursa
Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami
Operasi SAR KM Feronia, 5 Perairan TN Komodo Ditutup
BNPB Petakan 44 Area Terbakar di Sumsel

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:40 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:34 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:29 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:40 WIB

IHSG Berpotensi Menguat Usai Respons Kebijakan Bursa

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:35 WIB

Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB