Di Balik Meriahnya Hoyak Tabuik, Tradisi Berebut Organ Tabuik Masih Berlangsung

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 11:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Hoyak Tabuik, Kota Pariaman, Minggu, 28/6/2026 (Dok. Istimewa)

Foto: Hoyak Tabuik, Kota Pariaman, Minggu, 28/6/2026 (Dok. Istimewa)

ARGUMENRAKYAT.COMSUMBAR – Perayaan budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026, memasuki puncak pelaksanaan. Dimulai sekitaran jam 10.00 WIB, dari Kantor Walikota Pariaman sampai Pantai Gondariah, pada hari Minggu (28/6/2026) di Kota Pariaman, Sumatra barat.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keterangan dari salah satu masyarakat setempat mengatakan kalau budaya ini merupakan salah satu ikon Kota Pariaman yang lakukan setiap tahunnya. Dengan rangkaian kegiatan yaitu Ma Ambiak Tanah, Manabang Batang Pisang, Turun Panja, Maatam, Ma Arak Jari-Jari, hingga Ma Arak Saroban. “Seluruh prosesi tersebut merupakan bagian dari tradisi Tabuik yang sarat nilai sejarah dan budaya,” ungkap Abdul Aziz.

Baca Juga:  Terduga Pelaku Pencurian di Amuk Masa di Nagari Koto Tuo: Polsek Harau Sigap Amankan dari Amuk Massa

Ia juga mengatakan kalau kericuhan yang terjadi sesama masyarakat untuk mendapat organ tabuik merupakan hal yang lumrah terjadi setiap pelaksanaan tabuik. “Organ tabuik dijadikan sebagai pelaris dagannya, jadi penyakit ini sudah terjadi turun temurun,” ujar mahasiswa UIN Bukittinggi itu.

Baca Juga:  Misteri Gelap Gulita di Jantung Sumatra

Prosesi puncak tabuik diawali dengan Tabuik Naiak Pangkek, yang dilakukan di pagi hari. Proses penyatuan bagian atas dan badan tabuik hingga menjadi bangunan utuh yang kemudian diarak oleh masyarakat beriringan dengan Tabuik Subarang. Perayaan Tabuik ini menjadi simbol penutup seluruh rangkaian perayaan Hoyak Tabuik Piaman yang telah berlangsung selama dua Minggu mulai dari 16 Juni sampai 28 Juni.

(Zidan Pratama)

Berita Terkait

Hikayat Menara Delapan Penjuru: Riwayat Syiar Islam di Nagari Kubang
Melihat Pasamabahan di Ateh Pakuburan: Retorika Kematian dan Dialektika Maaf di Ranah Minang
Melihat Pandangan A.A Navis: Kosmologi Matrilineal Minangkabau
Gairah Baru Musik Indie Lokal: Bagaimana Platform Streaming Mengubah Cara Kita Menikmati Karya
Mengenal Ragam Kuliner Nusantara yang Mendunia: Dari Rendang Hingga Tempe
Kemenkum Tetapkan Musik Panting sebagai Warisan Budaya di Jakarta, Cegah Klaim Pihak Asing
Mengenang Iyut Fitra: Warisan Sang Maestro yang Menghidupkan Sastra dari Sudut Payakumbuh

Berita Terkait

Kamis, 16 Juli 2026 - 13:50 WIB

Hikayat Menara Delapan Penjuru: Riwayat Syiar Islam di Nagari Kubang

Senin, 29 Juni 2026 - 11:31 WIB

Di Balik Meriahnya Hoyak Tabuik, Tradisi Berebut Organ Tabuik Masih Berlangsung

Selasa, 2 Juni 2026 - 14:45 WIB

Melihat Pasamabahan di Ateh Pakuburan: Retorika Kematian dan Dialektika Maaf di Ranah Minang

Senin, 1 Juni 2026 - 14:55 WIB

Melihat Pandangan A.A Navis: Kosmologi Matrilineal Minangkabau

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Gairah Baru Musik Indie Lokal: Bagaimana Platform Streaming Mengubah Cara Kita Menikmati Karya

Berita Terbaru