Mengenang Iyut Fitra: Warisan Sang Maestro yang Menghidupkan Sastra dari Sudut Payakumbuh

- Jurnalis

Kamis, 30 April 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Mengenang Iyut Fitra: Warisan Sang Maestro yang Menghidupkan Sastra dari Sudut Payakumbuh. (Foto AI)

Ilustrasi Mengenang Iyut Fitra: Warisan Sang Maestro yang Menghidupkan Sastra dari Sudut Payakumbuh. (Foto AI)

ARGUMENRAKYAT.COM, PAYAKUMBUH – Raga sastrawan besar Iyut Fitra kini telah beristirahat di Balai Nan Duo. Akan tetapi, gema karyanya justru terasa semakin kuat di hati para pecinta literasi tanah air. Sosok bernama asli Zulfitra ini meninggal pada Senin (27/4/2026). Akibatnya, kepergiannya meninggalkan ruang kosong yang sulit terisi dalam dinamika seni di Sumatera Barat.

Pertama, menarik untuk dicermati bahwa kepulangan sang penyair menjadi penanda zaman yang sangat puitis. Pasalnya, pemakamannya berlangsung tepat saat bangsa ini memperingati Hari Puisi Nasional pada 28 April. Selain itu, kebetulan ini seolah merangkum seluruh dedikasi hidup almarhum. Dengan kata lain, ia telah habis-habisan menghibahkan dirinya untuk dunia kata-kata.

Dari Payakumbuh Menembus Kancah Nasional

Selanjutnya, sebagai pendiri Komunitas Intro di Payakumbuh, Iyut Fitra membuktikan banyak hal. Pertama, kreativitas hebat tidak harus selalu lahir dari pusat ibu kota. Kedua, dari sudut kota kecil di Sumatera Barat ini, ia berhasil menembus barisan sastrawan elit nasional. Sebagai contoh, ia meraih penghargaan bergengsi, mulai dari Buku Puisi Terbaik dari Perpustakaan Nasional RI tahun 2019 hingga Penghargaan Sastra dari Kemendikbud RI tahun 2020.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Bentuk Satgas Mitigasi PHK, Siap Ambil Alih Perusahaan yang Menyerah

Di samping itu, keberhasilannya membawa aroma lokalitas Minangkabau ke kancah internasional. Oleh karena itu, ini menjadi bukti nyata bahwa ketekunan dalam berkarya selalu menemukan jalannya sendiri. Dengan demikian, ia melampaui batas geografis tanpa kehilangan akar budaya.

Lebih dari sekadar deretan prestasi, Iyut Fitra dikenal sebagai sosok mentor yang dingin. Meskipun demikian, ia sangat peduli pada regenerasi penulis muda. Sebab, melalui tangan dinginnya di Komunitas Intro, banyak penulis muda lokal kini memiliki keberanian. Kemudian, mereka berani menyuarakan pikiran melalui tulisan.

Ia bukan tipe seniman yang eksklusif. Baginya, sastra adalah alat untuk mencatat sejarah. Selain itu, sastra juga menjadi wadah perasaan kolektif masyarakat. Sebenarnya, banyak perasaan itu seringkali terlupakan. Karena itu, kedekatannya dengan lingkungan sekitar membuat setiap bait puisinya terasa sangat membumi. Namun di sisi lain, puisinya tetap memiliki kedalaman filosofis yang tinggi.

Baca Juga:  Subsidi Energi Diperketat, Beban Rumah Tangga Kian Terimpit

Warisan Abadi untuk Generasi Mendatang

Kini, tugas bagi para penerusnya di Payakumbuh dan Sumatera Barat sangat jelas. Mereka harus memastikan api kreativitas yang telah ia nyalakan tidak padam begitu saja. Memang, kehilangan sosok Iyut Fitra merupakan duka besar bagi dunia literasi. Akan tetapi, karya-karyanya akan terus menjadi kompas bagi generasi mendatang. Misalnya, dua karyanya yang terkenal adalah Mencari Jalan Mendaki dan Lelaki dan Tangkai Sapu.

Akhirnya, bagi masyarakat Payakumbuh, sosoknya bukan lagi sekadar nama di atas sampul buku. Ia adalah sebuah simbol. Secara khusus, simbol tentang bagaimana mencintai tanah kelahiran dengan cara paling terhormat. Dengan kata lain, caranya adalah melalui karya yang abadi dan tak lekang oleh waktu.(**)

Berita Terkait

Melihat Pasamabahan di Ateh Pakuburan: Retorika Kematian dan Dialektika Maaf di Ranah Minang
Melihat Pandangan A.A Navis: Kosmologi Matrilineal Minangkabau
Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia
Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka
Gairah Baru Musik Indie Lokal: Bagaimana Platform Streaming Mengubah Cara Kita Menikmati Karya
Ekspor CPO hingga Batu Bara Kini Wajib Lewat BUMN, Prabowo: Biar Rakyat Sejahtera!
Pelemahan Rupiah Ancam PHK Massal, Ini Kata Pengamat
Pasca-Kecelakaan Menegangkan di Solok Selatan, Begini Kondisi Terbaru Wagub Sumbar Vasko Ruseimy

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 14:55 WIB

Melihat Pandangan A.A Navis: Kosmologi Matrilineal Minangkabau

Rabu, 27 Mei 2026 - 11:30 WIB

Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia

Selasa, 26 Mei 2026 - 12:24 WIB

Hukum Revolusi: Melihat Pandangan Tan Malaka

Minggu, 24 Mei 2026 - 17:00 WIB

Gairah Baru Musik Indie Lokal: Bagaimana Platform Streaming Mengubah Cara Kita Menikmati Karya

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:10 WIB

Ekspor CPO hingga Batu Bara Kini Wajib Lewat BUMN, Prabowo: Biar Rakyat Sejahtera!

Berita Terbaru