ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka oleh pihak Iran pada Jumat (19/6) mendatang. Pengumuman ini menandai titik balik penting dalam ketegangan geopolitik dan jalur perdagangan energi di kawasan tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dengan hal ini perdagangan energi dunia yang sempat membeku kini mulai sedikit mencair seiring bergemanya kabar kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengklaim bahwa kesepakatan awal telah dicapai dan Selat Hormuz disebut-sebut akan segera dibuka kembali secara penuh untuk lalu lintas pelayaran internasional.
“Dengan dibukanya kembali Selat setelah penandatanganan kesepakatan pada Jumat untuk keperluan pembersihan ranjau, minyak akan kembali mengalir di kedua ujung kawasan dan juga dunia!” kata Trump di media sosialnya, Truth Social, Minggu (14/6).
Klaim dari alumnus Wharton School of Pennsylvania University tersebut menandai babak baru setelah ketegangan geopolitik yang sempat menyumbat urat nadi pasokan minyak dunia tersebut. Menurut laporan media Iran, beberapa tanda pemulihan mulai terlihat di lapangan di mana sebuah kapal tanker minyak dan dua kapal kargo dikabarkan telah berhasil melewati wilayah Selat Hormuz yang sebelumnya diblokade oleh operasi militer Angkatan Laut AS.
Kendati kabar pembukaan dan perlintasan kapal sudah mulai berembus sejak pertengahan pekan ini, tepatnya pasca-perkembangan situasi pertengahan Juni, Donald Trump secara tegas menegaskan bahwa kapal yang akan lewat selanjutnya bebas dari biaya apapun. “Selain itu Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya tol dan status bebas biaya itu tidak hanya berlaku selama 60 hari. Ada yang mengatakan itu hanya gratis 60 hari. Tidak-tidak, itu akan bebas biaya selamanya. Ketika dibuka secara permanen tidak akan ada biaya apapun” ujar Trump dalam pernyataan singkatnya melansir dari Metro TV.
Trump menambahkan bahwa pembukaan ini krusial agar kapal-kapal dunia dapat kembali beroperasi secara normal dan aliran pasokan minyak global yang sempat tersendat bisa segera pulih.
Langkah pembukaan jalur laut strategis ini didorong oleh rencana penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) yang dijadwalkan berlangsung di Genoa, Swiss, pada Jumat ini. Penandatanganan MoU tersebut diharapkan menjadi pembuka jalan untuk mengakhiri agresi militer di kawasan, termasuk agresi AS-Israel terhadap Iran serta penghentian ketegangan di Lebanon.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, memaparkan bahwa perundingan tidak langsung dengan AS ini mencakup sejumlah tahapan krusial. Di antaranya adalah pembahasan mengenai penghentian blokade laut di Selat Hormuz, pembebasan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan, hingga masalah rekonstruksi kawasan. Setelah MoU ditandatangani, kedua belah pihak akan melanjutkan negosiasi lanjutan selama enam hari guna merumuskan kesepakatan final yang mencakup isu nuklir dan sanksi ekonomi.
Dukungan internasional pun mulai mengalir. Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, saat menghadiri KTT G7 menyatakan bahwa negaranya siap berperan penuh bersama Prancis untuk memastikan keamanan kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.
Meski demikian, jalan menuju perdamaian abadi dinilai masih panjang lantaran kedua belah pihak menerapkan syarat-syarat yang sangat ketat. Publik dunia kini menanti apakah komitmen pembukaan jalur yang diumumkan Trump dan kesepakatan di Swiss nanti benar-benar mampu bertahan demi stabilitas ekonomi global.









