Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin Berpulang, Pergi Seorang Ulama Karismatik Asal Taeh Baruah

- Jurnalis

Rabu, 27 Mei 2026 - 15:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin (Dok. Habibur Rahman)

Foto: Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin (Dok. Habibur Rahman)

ARGUMENRAKYAT.COM, LIMA PULUH KOTA – Kabar duka menyelimuti dunia keilmuan Islam tradisional Minangkabau. Telah berpulang ke rahmatullah Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin, pimpinan halaqah Surau Putiah, Taeh Baruah. Sang mursyid mengembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 13:00 WIB, Selasa (26/5) di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Darwis, Suliki, dalam usia 85 tahun.

Kepergian Buya Syamsu Anwar meninggalkan duka mendalam bagi para penuntut ilmu. Semasa hidupnya, beliau dikenal luas sebagai salah satu murid terkemuka dari Syekh H. Amin Taeh Bukik, seorang ulama besar yang dihormati dan masyhur sebagai sang shahibul karamah.

Rekam jejak transmisi keilmuan (isnad) Buya Syamsu Anwar dikenal berakar kuat pada tradisi keagamaan yang sahih. Perjalanan intelektualnya berpijak sebagai ”Anak Siak” di Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI) Koto Panjang. Di sanalah beliau menimba ilmu dan menjadi murid langsung dari ulama karismatik, Syekh Mukhtar Angku Lakuang.

Semasa menuntut ilmu di masa mudanya, Buya Syamsu Anwar juga mengabdikan diri sebagai garin di Mushalla Syekh Abdul Latief di Koto Panjang. Sosok Syekh Abdul Latief sendiri merupakan menantu dari Syekh Mudo Abdul Qadim, bersama putri dari Syekh Mudo yang bernama Jawahir ia pernah lama bermukim di tanah suci Mekkah.

Sepanjang hayatnya, Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin telah mendedikasikan diri dalam membimbing dan melakukan edukasi spiritual bagi para salik di Nagari Taeh Baruah, Kec. Payakumbuh.

Sedangkan guru beliau, yakni Shahibul Karamah Syekh H. Amin lahir sekitar tahun 1915 dan (w.1978) terlahir dalam keluarga yang agamis dan kuat memegang tradisi keilmuan Tasawuf. Menurut Apria Putra dalam tulisannya, Datuak dari Syekh H. Amin yakni Syekh Abu Bakar atau yang dikenal dengan Datuak Gaek merupakan ulama tua yang berpengaruh di pada asal abad 20.

Baca Juga:  Suluh dari Aie Tabik: Jejak Literasi dan Jangkar Adat Kamardi Rais

Begitu juga dengan sang ayah Syekh H. Amin yakni Angku Mudo H.Rasyidin juga seorang ulama yang cukup disegani di masa itu. Lingkungan keluarga inilah yang pada akhirnya mengantarkan Syekh H. Amin pada pembentukan karakter religius. Di waktu kecil, Syekh H. Amin mulai belajar Al-Qur’an dan dasar-dasar ilmu agama di surau-surau yang ada. Meskipun mempunyai kecendrungan layaknya anak-anak seusianya, namun Syekh H. Amin memiliki tabiat yang membedakannya dengan teman-temannya. Menurut riwayatnya, di waktu kecil itu telah ada tanda-tanda karamah pada diri Syekh H. Amin kecil. Setelah waktu berjalan, tampak kecenderungan Syekh H. Amin untuk mempelajari Tarekat dan mendalaminya. Hal ini sesuai dengan karakter intelektual keluarganya, sufi pengamal Tarekat Naqsyabandiyah.

Dari sosok Syekh H. Amin tersebut lah Buya Syamsu Anwar Mangkuto Malin menerima ijazah untuk menerapkan, mengamalkan, dan mengajarkan Tarekat. Boleh dikatakan hingga hari ini murid dari Syekh H. Amin yang mendapatkan ijazah langsung darinya, tidaklah banyak.

Sedangkan pendidikan formal beliau jalani di MTI Koto Panjang seperti yang telah diulas di atas, Buya Syamsu diajari langsung oleh Tokoh PERTI terkemuka Syekh Mukhtar Angku Lakuang. Ia merupakan Al-Allamah Al-Mutafannin Al-Shufi dari Koto Panjang Lampasi, lahir pada 18 Oktober 1913, dan wafat pada 19 Juni 1978. Tercatat sebagai pendiri MTI Koto Panjang dan pernah menjadi dosen Fakultas Adab di Payakumbuh hingga pernah dipercaya sebagai Ketua Mahkamah Syar’iyah Kota Payakumbuh tahun 1959.

Baca Juga:  Tan Malaka: Dialektika Geopolitik Global dan Manifesto Kemerdekaan 100% Indonesia

Banyak sudah beliau mencetak tokoh cendekiawan muslim yang berpengaruh, dan dirinya juga dikenal sebagai sosok ulama yang istiqamah, terutama dalam fikih syafi’iyyah, tidak akan mau talfiq dalam masalah furu’iyah, begitu beliau menjaga adab dan amal. Bahkan ada salah satu ungkapan yang diperdengarkan kepada kita dari salah seorang orang tua yang berujar bahwa “murid-murid Angku Lakuang, hampir semuanya menjadi ulama besar.

Dalam wawancara Argumen Rakyat bersama Apria Putra, salah seorang akademisi Pemerhati Surau, dan Peneliti Ulama Minangkabau, dirinya mengungkapkan bahwa Buya Syamsu adalah sosok penyayang serta berprinsip, ”Buya Dt. Syamsu, satu di antara murid Syekh H. Amin Taeh Bukik, yang telah sejak 1975 bersurau mengembangkan ilmu yang diperdapat dari Syekh H. Amin, tokoh sentra ulama surau di Taeh. Ia adalah sosok guru yang berprinsip, lembut, dan penyayang,” ungkap Apria

Dosen UIN Bukittinggi itu kembali melanjutkan bahwa Suraunya tempat anak muda mengaji, ”Suraunya menjadi basis anak-anak muda belajar zikir, sifat dua puluh, hingga belajar hidup. Di tengah degradasi moral di kalangan generasi muda, Surau Putiah adalah oase. Sekarang sosok guru pengayom generasi muda itu telah berpulang, tinggal cerita yang diurai, sedikit petuah yang dipegang erat,” tutup Apria.

Buya Syamsu dikebumikan pagi sekitar pukul 09:35 di sebelah Surau beliau di Nagari Taeh Baruah, tak jauh dari kediamannya. Tampak banyak kerabat, murid, teman, serta kolega mengiringi beliau ke peristirahatan terakhir.

Berita Terkait

Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam
Ryamizard Ryacudu Wafat: Berpulangnya Sang Jangkar Strategis Matra TNI AD
Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman
Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?
Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah
Syekh Adimin Arradji Taram: Poros Spiritual dan Lentera Klasikal dari Tepian Luhak nan Bungsu
Syekh Ibrahim Musa Parabek: Sang Arsitek Moderasi dan Pembaru Pendidikan Minangkabau
Duka dari Tanah Suci: Empat Jemaah Haji Sumbar Berpulang

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 15:58 WIB

Mengenal Ho Chi Minh, Bapak Bangsa Vietnam

Senin, 1 Juni 2026 - 09:02 WIB

Ryamizard Ryacudu Wafat: Berpulangnya Sang Jangkar Strategis Matra TNI AD

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:10 WIB

Syekh Ibrahim Kumpulan, Tokoh Naqsyabandiyah dari Pasaman

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:50 WIB

Syekh Jamaluddin Pasai dan Apa Hubungannya dengan Ranah Minang?

Jumat, 29 Mei 2026 - 16:48 WIB

Ketika Buya Hamka Menguliti Karya M.O. Parlindungan: Seteru Intelektual di Pusaran Distorsi Sejarah

Berita Terbaru