Refleksi Tahanan Politik: Mencari Makna Hidup di Salemba

- Jurnalis

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sidang Mansurni Abadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (Foto: Dok. Sinar Pagi Baru)

Sidang Mansurni Abadi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (Foto: Dok. Sinar Pagi Baru)

JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Mansurni Abadi, aktivis yang ditahan terkait aksi Agustus 2025 dan memperoleh penangguhan penahanan pada 23 September 2026, menuliskan refleksinya tentang bagaimana ia mencari dan menjaga makna hidup selama sebelas bulan berada di rumah tahanan.

Oleh: Mansurni Abadi — aktivis, mantan pengurus Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah cabang Malaysia dan Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Dunia.

Tulisan ini awalnya saya buat dengan tulisan tangan pada 14 Agustus 2026, ketika saya masih ditahan di Rumah Tahanan Kelas 1 Salemba, Jakarta Pusat. Berkas perkara saya bermula dari dugaan penghasutan di media elektronik, lalu bergeser menjadi perkara yang dikaitkan dengan keterlibatan saya dalam grup WhatsApp Revolusi Jolly Rogers pada aksi Agustus 2025.

Dalam grup itu turut tergabung Khariq Anhar dan Syahdan Husein, dua aktivis yang dikriminalisasi pascaaksi Agustus 2025. Saya dihubung-hubungkan dengan keduanya oleh penyidik siber Polda Metro Jaya, padahal kami hanya kebetulan berada dalam satu grup dan tidak pernah mengenal satu sama lain secara pribadi.

Sehari sebelum artikel ini selesai saya tulis, saya dipindahkan kembali ke Rutan Cabang Khusus Kriminal Umum Polda Metro Jaya. Saat tulisan ini dibuat, saya tentu berharap tidak akan masuk Salemba lagi. Namun, pada 23 September, saya memperoleh penangguhan penahanan setelah sebelas bulan mendekam di penjara. Satu bulan pertama saya lalui di tiga rumah tahanan di sekitar Kuala Lumpur, Malaysia, setelah ditangkap unit Polis Diraja Malaysia pada 13 November 2025.

Isi tulisan ini secara umum membahas persoalan makna hidup ketika terpenjara sebagai tahanan politik. Namun perlu saya tegaskan sejak awal: mencari makna hidup saat menjadi tahanan politik bukan berarti mengatakan bahwa penderitaan akibat kriminalisasi itu indah, wajar, atau tidak nyata.

Bukan Meromantisasi Penderitaan

Saya tidak ingin meromantisasi penderitaan sebagai tahanan politik, apalagi memanfaatkannya sebagai daya lenting politis. Saya juga tidak ingin menormalkan penindasan seolah-olah itu hal biasa, hanya untuk membranding diri sebagai yang paling bermental kuat dibandingkan rekan juang yang lain.

Sebaliknya, saya juga tidak ingin menegasikan pengalaman itu seolah tidak ada luka dan ketidakadilan yang dirasakan. Semua sikap itu boleh saja, tetapi tidak ada yang sepenuhnya benar, karena semuanya bergantung pada perspektif dan kehendak bebas masing-masing individu.

Baca Juga:  POLITIK JULO-JULO

Mencari makna justru bisa menjadi cara untuk tetap merasa manusia: mengakui bahwa yang dialami memang sakit dan tidak adil, tetapi tidak membiarkan penjara atau penindas menentukan seluruh harga diri dan batin seseorang. Memaknai hidup tidak sama dengan membenarkan kekejaman yang menimpa diri.

Selama berabad-abad manusia tidak pernah puas: selalu mencari, dan menemukan makna bahkan di dalam ketidakbermaknaan itu sendiri. Dalam filsafat Yunani, manusia dipandang sebagai makhluk rasional yang memiliki jiwa (psykhe), daya kehidupan dan kesadaran yang membuat sesuatu hidup, berpikir, merasa, dan bertindak. Tujuan akhirnya (telos) adalah eudaimonia, hidup yang bahagia dan bermakna.

Dalam cobaan yang selalu kita alami, wajar untuk mengeluh, tetapi memahami dan mencari makna juga perlu. Bukankah hidup manusia adalah rangkaian cobaan (al-hayatu tajribatun)? Setiap kejatuhan adalah kesempatan untuk bangkit, setiap beban berat dapat dibagi melalui solidaritas, setiap luka dapat menjadi ruang belas kasih, dan setiap kesedihan dapat diarahkan pada harapan akan kebangkitan.

Yang Dibaca Ulang di Salemba

Sebagai tahanan politik, memaknai hidup berarti belajar bahwa kebebasan sejati tidak semata ditentukan oleh ada atau tidaknya jeruji. Kebebasan adalah perjuangan terus-menerus untuk membebaskan diri dari dendam, pamrih, dan ego ideologis, sekaligus mengasah solidaritas, keberanian moral, dan sikap kritis terhadap tirani.

Setelah dipindahkan dari Rumah Tahanan Kriminal Khusus Polda Metro Jaya ke Rutan Salemba pada 3 Maret 2026, saya baru bisa membaca ulang buku-buku Victor Frankl tentang makna hidup. Di tempat sebelumnya, akses membaca selalu dicurigai, bahkan dilarang.

Frankl, tokoh psikologi modern, penyintas Holocaust, dan mantan tahanan kamp konsentrasi Nazi, berpandangan bahwa dalam kondisi terpenjara hidup tidak lagi hanya soal bertahan, melainkan soal menjaga martabat dan menolak menjadi objek ketakutan. Makna hidup mulai ditemukan bukan dalam status bebas, melainkan dalam kesetiaan pada prinsip bahwa manusia tidak boleh diperlakukan sewenang-wenang.

Lalu bagaimana cara paling sederhana untuk menyadari makna hidup? Proses menyesuaikan diri dengan kehidupan penjara, atau prisonisasi, membawa efek yang membuat orang kehilangan rasa kemanusiaannya. Ia bisa menimbulkan perasaan putus asa dan terasing, yang membuat tahanan rentan mengembangkan sikap merugikan diri sendiri: pandangan negatif terhadap diri, merasa hidup tidak berharga, hingga pikiran-pikiran yang cenderung merusak.

Baca Juga:  Purnawirawan Bintang Satu Ini Sebut Akan Hancurkan Dinasti Jokowi

Dari pembacaan saya atas Man’s Search for Ultimate Meaning (1997), salah satu karya terakhir Frankl tentang logoterapi, terapi psikologi yang berdasar pada makna hidup, ia mendapati bahwa pencarian makna tertinggi atau ultimate meaning sering kali bersinggungan dengan keyakinan dan dimensi spiritual manusia.

Iman, Harapan, dan Kesetiaan pada Prinsip

Karena itu, pencarian makna hidup saya mulai dari iman yang saya yakini: percaya kepada Tuhan yang setia, sebab dari-Nya kita menemukan kelegaan di tengah tekanan saat melewati perjalanan hidup yang fana ini.

Hidup dalam terang iman bukan sekadar pelarian dari kegelisahan dunia, melainkan jembatan antara yang sementara dan Yang Abadi. Hidup itu membuat jiwa tetap berada dalam kondisi yang dinyatakan Paulus dalam surat Roma: bersukacita dalam pengharapan, bertekun dalam doa, dan setia dalam pencobaan. Dalam keyakinan Muslim, hal senada ditegaskan dalam Surah Al-Insyirah: sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.

Makna juga tidak tergantung pada enak atau tidaknya keadaan, melainkan pada cara seseorang merespons penderitaan. Tahanan politik dapat memaknai penderitaannya sebagai bentuk kesetiaan pada kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai yang diperjuangkan.

Menjaga Kemanusiaan di Dalam Jeruji

Penjara lalu bukan sekadar tempat kehilangan, melainkan medan pembuktian batin, kesabaran, dan integritas: dengan tetap mencintai dan mengingat keluarga, menjalin solidaritas dengan sesama tahanan, dan melakukan hal-hal kecil yang menegaskan kemanusiaan, seperti menolak tunduk, berdoa, atau tetap produktif berkarya intelektual di tengah waktu luang yang sangat banyak.

Terpenjara memang memberi waktu luang yang amat banyak, yang dapat dimanfaatkan untuk lebih mengenal diri sendiri. Bukankah Guns N’ Roses pernah menegaskan dalam lirik November Rain, everybody needs some time on their own? Waktu itu, jika dimaknai, akan menciptakan persiapan diri untuk tugas dan perjuangan setelah bebas.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberi dukungan, terutama keluarga, sahabat, dan kawan-kawan seperjuangan. Tulisan ini saya kirim dengan satu harapan sederhana: semoga bermanfaat bagi siapa saja yang sedang berjuang menjaga maknanya sendiri.

Jakarta, 14 Agustus 2026 — Mansurni Abadi

Catatan redaksi: Hakim mengabulkan penangguhan penahanan penulis pada 23 September 2026, dan sidang putusan dijadwalkan pada Rabu, 14 Oktober 2026. Isi tulisan ini sepenuhnya tanggung jawab penulis dan tidak mewakili sikap redaksi ArgumenRakyat.com.

Berita Terkait

Proporsional Terbuka Dinilai Membuka Jalan Politik Uang
Advokat Dorong Peradilan Adat Diakui Sistem Hukum
Dua Tahun Prabowo dan Perang Persepsi Ketahanan Nasional
Untuk Siapa Demokrasi Bekerja? Catatan atas Buku Jemmy Setiawan
Golkar Segera Ajukan PAW Bamsoet dan Sarmuji ke KPU
Dekonstruksi Marwah Gelar Adat yang Terdestruksi
Daulat Pemikiran Tan Malaka dan Pemulangan Makam ke Tanah Kelahiran
Pisau Cukur Tradisi dan Jalan Sunyi Spiritual Andrea Yudha Pratama

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:47 WIB

Proporsional Terbuka Dinilai Membuka Jalan Politik Uang

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Advokat Dorong Peradilan Adat Diakui Sistem Hukum

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:32 WIB

Dua Tahun Prabowo dan Perang Persepsi Ketahanan Nasional

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Refleksi Tahanan Politik: Mencari Makna Hidup di Salemba

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:52 WIB

Untuk Siapa Demokrasi Bekerja? Catatan atas Buku Jemmy Setiawan

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB