Untuk Siapa Demokrasi Bekerja? Catatan atas Buku Jemmy Setiawan

- Jurnalis

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang pria berbicara di depan mikrofon dalam sebuah forum. (Foto: Jemmy Setiawan)

Seorang pria berbicara di depan mikrofon dalam sebuah forum. (Foto: Jemmy Setiawan)

JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Dalam situasi politik hari ini, buku Jalan Tengah Menuju 2029 karya Jemmy Setiawan dianggap bukan lagi sekadar bacaan yang dianjurkan, melainkan bacaan wajib bagi kader Demokrat yang menyambut 2029.

Oleh: Marlan — Jiwa Demokrat

Hari ini, Minggu, 11 Oktober 2026, saya kembali membuka buku Jalan Tengah Menuju 2029 yang ditulis oleh Bang Jemmy. Jujur saja, selama membaca buku ini hampir tiga jam saya larut dalam pikiran Bang Jemmy, dalam keresahannya tentang wajah demokrasi kita, setidaknya dalam kurun sepuluh tahun terakhir.

Sore yang rencananya akan saya habiskan untuk berlari di GBK justru saya isi dengan sukarela “diceramahi” selama lebih dari tiga jam. Anehnya, setiap halaman yang saya balik tidak meninggalkan rasa lelah, melainkan rasa terima kasih.

Rasa terima kasih itu bukan tanpa alasan. Dalam situasi politik hari ini, buku ini bagi saya bukan lagi sekadar bacaan yang dianjurkan, melainkan bacaan wajib untuk ditelaah dan diperbincangkan oleh kader Demokrat, terutama mereka yang duduk sebagai pengurus partai dan, lebih-lebih lagi, yang telah menerima amanah rakyat di kursi eksekutif maupun legislatif.

Bang Jemmy menulis dengan lugas dan apa adanya. Ia tidak ragu mengevaluasi rumah sendiri, sekaligus menuntun kita tentang apa yang perlu dilakukan dan bagaimana caranya menyambut 2029. Benang merahnya satu: partai tidak boleh berhenti sebagai kendaraan politik yang pragmatis, melainkan harus menjadi jalan pengabdian bagi kemanusiaan.

Itulah sebabnya saya merekomendasikan buku ini dengan sepenuh hati, khususnya kepada kader-kader muda Demokrat.

Sebab meski berangkat dari pengalaman Demokrat, gagasan dalam buku ini relevan bagi partai mana pun. Dan menurutku justru di situlah letak “bahayanya”: akan sangat disayangkan jika pikiran Bang Jemmy lebih dulu dibaca, dinikmati, lalu dijalankan oleh kader partai lain. Umpama kita yang memegang resepnya, tetapi tetangga yang lebih dulu memasaknya.

Di tengah kesadaran akan kedangkalan dalam pengetahuan dan pengalaman, saya mencoba memberanikan diri untuk mencatat beberapa poin yang menurutku paling membekas dalam ingatan. Mudah-mudahan catatan ini menjadi pemantik bagi siapa saja untuk membaca bukunya secara utuh. Kalaupun ada yang keliru dalam pemahaman saya, saya justru berharap mendapat kesempatan untuk mendiskusikannya langsung dengan Bang Jemmy.

Baca Juga:  Said Iqbal Akan Dilantik Sore Ini: Dari Jalanan Menuju Lingkaran Kekuasaan

Pertama: Untuk Siapa Demokrasi Indonesia Bekerja?

Bang Jemmy membuka bukunya dengan pertanyaan yang tampak ringan, tetapi sesungguhnya menohok. Berdasarkan pengamatan dan data yang ia himpun, jawabannya getir: demokrasi kita hari ini lebih banyak bekerja untuk oligarki. Demokrasi substansial, yang mengukur keberhasilan dari seberapa jauh rakyat sungguh merasakan manfaatnya, telah dikalahkan oleh demokrasi prosedural, yang merasa cukup selama pemilu digelar tepat waktu dan kotak suara terisi.

Menariknya, menurut Bang Jemmy, yang paling dirugikan oleh keadaan ini bukan semata rakyat, tetapi juga mereka yang berada di dalam sistem namun memilih tetap bersih. Mereka bertanding di arena yang aturan mainnya tidak lagi berpihak pada integritas.

Di titik inilah ideologi partai menemukan perannya. Ketika Partai Demokrat dijalankan tanpa pegangan ideologi, ia kehilangan fungsinya sebagai partai dan berubah menjadi kendaraan kepentingan sesaat, tempat kepemimpinan ditentukan oleh kemampuan menghimpun logistik, bukan oleh kemampuan merumuskan gagasan.

Kedua: Kewaspadaan terhadap Populisme

Jika oligarki menggerogoti demokrasi dari atas, populisme menggerogotinya dari bawah. Bang Jemmy melihat banyak politisi hari ini, tak terkecuali di internal partai sendiri, terlena oleh politik yang lebih nyaman berjalan di atas slogan ketimbang gagasan.

Pandangannya jernih: bahaya terbesar populisme bukan karena ia menjanjikan terlalu banyak, melainkan karena ia melatih rakyat berhenti menuntut kejujuran dan mulai menikmati kemarahan. Maka ketika janji gagal ditunaikan, populisme tidak mengoreksi dirinya. Ia justru sibuk mencari kambing hitam: oligarki, kekuatan asing, atau pengkhianat dari dalam.

Menurut Bang Jemmy, jalan Demokrat haruslah sebaliknya: membangun keunggulan di atas kejujuran tentang pilihan. Kita perlu berterus terang kepada rakyat bahwa setiap kali mendapatkan sesuatu, ada hal lain yang harus direlakan. Jalan ini memang tidak menjanjikan pertumbuhan yang cepat, tetapi akarnya akan menghunjam dalam, karena yang hendak dibangun adalah kepercayaan, bukan kemarahan. Di situlah tugas sejati seorang pemimpin Demokrat.

Ketiga: Menghidupkan Doktrin yang Terlalu Lama Tertidur di Dalam Dokumen

Kepercayaan semacam itu tidak mungkin tumbuh tanpa pegangan nilai yang jelas. Karena itu, Bang Jemmy mengajak kita menengok kembali empat pilar Jalan Tengah: kemajuan, stabilitas, mobilitas sosial, dan meritokrasi. Ia menilai doktrin partai kerap hanya hidup di atas kertas karena kader belum mampu menerjemahkannya ke lapangan. Ambil contoh meritokrasi, prinsip yang diam-diam justru menjadi “musuh bersama” banyak elite politik di negeri ini.

Baca Juga:  TNI Akan Kirim Prajurit Menimba Ilmu Militer ke China

Doktrin yang perlu dihidupkan di tengah rakyat sebenarnya sederhana: kekuasaan semestinya jatuh ke tangan mereka yang mampu melayani, bukan mereka yang mampu membayar. Agar gagasan itu menjadi bahan perbincangan di warung kopi, di pos ronda, dan di ribuan ruang percakapan lainnya, ia harus dilekatkan pada kisah nyata rakyat.

Sayangnya, karena pemahaman atas doktrin masih terbatas dan narasinya belum terbangun, percakapan itu tak kunjung sampai ke tengah-tengah rakyat. Padahal, doktrin yang tak pernah bersentuhan dengan hidup orang banyak hanya akan berakhir sebagai hafalan.

Keempat: Lalu, Apa yang Harus Kita Lakukan?

Setelah diagnosis, buku ini menawarkan arah. Bang Jemmy menghadirkan beragam data dan perbandingan dari berbagai negara sebagai penggelitik nalar kritis, termasuk gagasan tentang cara berkomunikasi dengan Generasi Z yang akan menjadi pemilih mayoritas pada 2029. Semua itu, menurutnya, harus diramu dalam pendidikan politik yang utuh dan mengakar.

Muaranya adalah rekrutmen dan pembinaan kader yang berpijak pada kemampuan kerja, integritas, dan kedekatan dengan persoalan rakyat. Pembinaan semacam ini penting karena salah satu ujian terberat seorang politisi adalah dilema yang hampir selalu datang menjelang pemilu: memilih program yang manfaatnya besar tetapi baru terasa lima atau sepuluh tahun kemudian, atau program yang manfaatnya kecil tetapi sudah bisa dipamerkan sebelum hari pencoblosan. Kader yang ditempa dengan benar diharapkan berani memilih yang pertama.

Abang, kakak, dan teman-teman sekalian, setidaknya empat poin itulah yang berani saya utarakan, meski sebenarnya hampir setiap paragraf dalam buku ini adalah “daging”, dan saya melahapnya seperti orang yang lama kelaparan lalu tiba-tiba dijamu. Bahkan kalau boleh jujur, bagian kata pengantar yang ditulis oleh Bapak Sekretaris Jenderal di halaman awal sudah cukup untuk menyentuh, bahkan membongkar, kecemasan yang diam-diam dirasakan banyak kader hari ini.

Terakhir, terima kasih, Bang Jemmy, atas asupan yang begitu bergizi bagi jiwa-jiwa yang sedang mencari pegangan arah politik menuju 2029.

Jakarta, 11 Oktober 2026 — Marlan, Jiwa Demokrat

Berita Terkait

Proporsional Terbuka Dinilai Membuka Jalan Politik Uang
Advokat Dorong Peradilan Adat Diakui Sistem Hukum
Dua Tahun Prabowo dan Perang Persepsi Ketahanan Nasional
Refleksi Tahanan Politik: Mencari Makna Hidup di Salemba
Golkar Segera Ajukan PAW Bamsoet dan Sarmuji ke KPU
Dekonstruksi Marwah Gelar Adat yang Terdestruksi
Daulat Pemikiran Tan Malaka dan Pemulangan Makam ke Tanah Kelahiran
Pisau Cukur Tradisi dan Jalan Sunyi Spiritual Andrea Yudha Pratama

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 16:47 WIB

Proporsional Terbuka Dinilai Membuka Jalan Politik Uang

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:45 WIB

Advokat Dorong Peradilan Adat Diakui Sistem Hukum

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:32 WIB

Dua Tahun Prabowo dan Perang Persepsi Ketahanan Nasional

Selasa, 13 Oktober 2026 - 17:17 WIB

Refleksi Tahanan Politik: Mencari Makna Hidup di Salemba

Senin, 12 Oktober 2026 - 21:52 WIB

Untuk Siapa Demokrasi Bekerja? Catatan atas Buku Jemmy Setiawan

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB