Pisau Cukur Tradisi dan Jalan Sunyi Spiritual Andrea Yudha Pratama

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026 - 22:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Andrea Yudha Pratama dari Ducktail Barbershop saat berbincang dalam rekaman Podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendi)

Andrea Yudha Pratama dari Ducktail Barbershop saat berbincang dalam rekaman Podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendi)

PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Bisnis penataan rambut pria tumbuh pesat di Payakumbuh, tetapi standar profesi dan pelatihannya masih jalan sendiri-sendiri. Menyimak obrolan bersama Andrea Yudha Pratama, pendiri Ducktail Barbershop, Herman R menakar tradisi pisau cukur, jalan sunyi spiritual, dan perlunya sertifikasi barber daerah.

Oleh: Herman R, Direktur Utama PT Dimensia Digital Multimedia & Pimpinan Podcast Kusieh Bendi

Keberanian untuk melahirkan sebuah kebaruan di tengah kepungan dogma konservatif daerah sering kali menuntut pengorbanan yang tidak sedikit. Menyimak jalannya dialog intim dalam Kusieh Bendi Podcast bersama Andrea Yudha Pratama—pendiri Ducktail Barbershop yang tumbuh di Kota Payakumbuh—kita seakan diajak menelusuri kembali urat nadi kreativitas di Luak Limopuluah. Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota sejak lama sebenarnya telah memiliki legalitas informal sebagai kantong kebudayaan yang subur, sebuah wilayah tempat talenta-talenta bisnis anak muda tumbuh alami dari rahim tradisi. Di tanah ini, ekosistem industri kreatif penataan gaya rambut pria menyimpan potensi kemandirian ekonomi yang sangat besar, didukung oleh bergesernya orientasi gaya hidup urban metropolitan ke wilayah penyangga. Potensi tersebut kian menemukan momentum emasnya di era disrupsi pasca-pandemi, di mana keterampilan taktis penataan rambut klasik mampu dikembangkan menjadi unit usaha berdaulat tinggi. Ruang usaha penata rambut kini tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan bermutasi menjadi episentrum baru komunikasi komunal yang mampu menggerakkan perputaran ekonomi lokal secara signifikan.

Tradisi Pisau Cukur dan Standar Profesi

Namun, reputasi masa lalu dan besarnya potensi komersial tersebut kerap kali mengalami disonansi akut ketika dihadapkan pada realitas mentalitas pasar di daerah. Paradoks terbesar yang kasat mata di depan meja redaksi kita adalah fenomena latah bisnis di kalangan generasi muda yang mendirikan ruang usaha tanpa pondasi konsep dan karakter yang matang. Sungguh ironis, di sebuah kota dengan pertumbuhan barbershop yang menjamur, banyak pelaku usaha pemula sekadar mengekor tren visual jagat maya tanpa memiliki kedalaman literasi kalkulasi jangka panjang. Praktik potong rambut konvensional sering kali direduksi sebatas aktivitas transaksional yang kaku—datang, antre, pangkas, lalu bayar—tanpa adanya sentuhan edukasi estetik maupun relaksasi psikologis bagi pelanggan. Situasi paradoks ini kian diperparah oleh minimnya ruang bimbingan bagi para talenta berbakat yang bergerak mandiri secara senyap di bawah tanah (underground), membuat mereka rentan tergilas oleh lompatan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan mekanisasi modern jika tidak segera bertransformasi.

Secara jurnalistik, jika kita analisis menggunakan pisau bedah sosiologi ekonomi, akar masalah ini bertumpu pada rendahnya kesadaran akan pembentukan identitas pembeda (brand character) serta lemahnya ketahanan mentalitas sosiokultural pelaku usaha muda. Sebuah usaha gaya hidup kontemporer akan cepat jatuh apabila fondasi pengembangannya hanya bersandar pada ambisi kekayaan instan tanpa dibarengi disiplin regulasi jadwal hidup yang ketat. Gaya rambut klasik, seperti model pompadour tinggi atau slickback klimis penuh pomade abad pertengahan Inggris, sebenarnya memiliki metodologi disiplin keilmuan yang rigid dan bernilai jual tinggi jika dikemas lewat teknik penceritaan (storytelling) yang kuat. Lebih mendalam lagi, keberhasilan sebuah bisnis di tingkat tapak tidak dapat dilepaskan dari ruh spiritualitas dan pengorbanan bakti kepada orang tua, yang berfungsi sebagai jangkar emosional penolak kegelisahan batin di tengah kemewahan rantau yang semu.

Baca Juga:  Resmi Bermitra, Dimensia Creative dan Hijrah Muslim Center Sepakat Kembangkan Potensi Multimedia di Payakumbuh

Bukti empiris di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa ketika paruh paradigma bisnis digeser ke arah standardisasi profesi yang rigid, industri tata rambut mampu menjadi motor penggerak ekonomi utama daerah. Kita bisa menengok kesuksesan Kota Rotterdam di Belanda yang melahirkan Schorem Haarsnijder en Barbier, sebuah barbershop klasik nomor satu dunia yang berhasil mengubah pangkas rambut tradisional menjadi kiblat gaya hidup global melalui konsistensi karakter kuno yang sangat spesifik. Di Asia, Pemerintah Malaysia telah lebih dulu maju dengan memfasilitasi gelaran pameran skala internasional seperti Asia Barber Expo, yang mengintegrasikan pelatihan kelas privat master dari Inggris (UK) guna menerbitkan sertifikasi profesi yang diakui secara global. Begitu pula di tingkat nasional, keberhasilan pelaksanaan Bali Barber Expo membuktikan bahwa orkestrasi industri gaya hidup yang mempertemukan para maestro dunia mampu menciptakan ekosistem pariwisata minat khusus yang mandiri dan berdaulat secara ekonomi.

Komparasi kultural di bumi Sumatra pun memperlihatkan keberhasilan serupa melalui pemanfaatan modal sosial dan teori pertukaran sosiologis (social exchange theory). Kita bisa melihat bagaimana komunitas kreatif di Kota Medan sukses membangun jejaring usaha pangkas rambut berbasis kolektif yang saling menghidupkan ekosistem logistik lokal, mulai dari pasokan kursi cukur, handuk, hingga produk minyak rambut buatan domestik. Di Kota Padang, gerakan pemberdayaan pemuda putus sekolah melalui program lokakarya pangkas rambut gratis yang disinergikan dengan wajib ibadah di masjid terbukti efektif menekan angka kriminalitas urban sekaligus melahirkan ratusan wirausahawan baru di tingkat kecamatan. Tidak kalah menarik, pergerakan para pelaku industri kreatif di Kota Bengkulu dan Dharmasraya menunjukkan bahwa penyelenggaraan seminar bertema klasik tradisional mampu menyedot perhatian ribuan pelaku usaha daerah untuk saling bertukar keilmuan manajemen keuangan dan teknik komunikasi publik (public speaking) secara mandiri.

Solusi Taktis: Sertifikasi dan Regenerasi Talenta

Sebagai solusi taktis, Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian Kota Payakumbuh bersama DPRD harus segera menyusun cetak biru regulasi sertifikasi kompetensi penata rambut daerah dalam kurun waktu satu semester ke depan, guna menaikkan kelas para pencukur tradisional ke taraf barber profesional yang terstandarisasi. Setelah payung hukum ini berjalan, Pengurus Asosiasi Barbershop Luak Limopuluah bersama Dinas Koperasi dan UMKM wajib menerapkan formula social exchange theory dalam ekosistem bisnis lokal, dengan mengunci perputaran uang di antara pelaku usaha mikro terdekat, seperti menyalurkan kebutuhan promosi, dokumentasi, hingga acara keluarga secara pararel antarteman komunitas. Secara pararel, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bertugas mendampingi setiap ruang usaha anak muda untuk menyediakan pustaka pribadi kecil di sudut ruang tunggu, sebagai instrumen penguatan literasi komunal dan ruang diskusi etika moral bagi generasi muda.

Baca Juga:  Tren 'Slow Travel' Meningkat, Kunjungan ke Desa Wisata Melonjak Drastis

Dari sisi pengembangan mentalitas dan regenerasi talenta, Para Pengelola Barbershop Senior se-Payakumbuh wajib membuka kelas pelatihan inkubasi gratis bagi pemuda serabutan setempat, dengan menerapkan syarat disiplin spiritual seperti kewajiban menjaga ibadah salat tepat waktu sebagai indikator kelulusan utama. Langkah nyata ini dilakukan demi mencetak amal jariah sekaligus menyuntikkan karakter jujur dalam etos kerja batiniah mereka. Terakhir, PT Dimensia Digital Multimedia bersama Manajemen Podcast Kusieh Bendi bertindak sebagai fasilitator media publikasi dengan menyediakan program bincang-bincang santai berkala seperti platform “Otala”. Strategi ini krusial guna menjembatani para pelaku usaha underground yang senyap agar berani tampil ke permukaan, membagikan POV keilmuan manajemen finansial, taktik pemasaran, serta menginspirasi generasi muda bawahnya agar tidak takut bersaing di pasar swasta.

Mari kita camkan bersama amanat filosofis Minangkabau mengenai esensi batang ubi; ke mana pun ia dicampakkan, ia harus tetap mampu beradaptasi, tumbuh, dan memberikan kemaslahatan nyata bagi lingkungan sekitarnya. Harapan besar kita di masa depan adalah terbangunnya sebuah ekosistem di mana profesi penata rambut tidak lagi dianggap sebagai pekerjaan kotor masa lalu, melainkan diakui sebagai jalan pengabdian ekonomi dan spiritual yang sah, terhormat, dan menjanjikan kesejahteraan. Melalui ketajaman pena jurnalistik dan konsistensi mikrofon redaksi, kita harus terus mengawal penataan jadwal hidup yang disiplin dan konseptual ini agar seluruh pemangku kepentingan tidak sekadar menjadi penonton pasif. Ketika sinergi pembagian kerja antara birokrasi yang mempermudah sertifikasi, komunitas yang konsisten mengedukasi etika, dan pelaku usaha yang menjemput hidayah batinnya telah berjalan konsisten, maka kecemasan lama akan runtuh, dan anak-anak muda di Luak Limopuluah akan tegak berdiri sebagai manusia seutuhnya yang mandiri di atas kaki sendiri.

Artikel ini bagian dari rangkaian tulisan Kusieh Bendi Podcast Episode 9 bersama Andrea Yudha Pratama, pendiri Ducktail Barbershop, tentang tradisi pisau cukur dan jalan sunyi spiritual.

Berita Terkait

Alasan Anak Suka Mengobrol dengan Boneka
5 Cara Mengatasi Anak Kecanduan Merokok secara Bertahap
7 Negara dengan Visa Kerja Termudah untuk Pekerja
7 Tanda Kecerdasan Emosional Perlu Dilatih Lagi
Aturan Bawa Power Bank di 6 Maskapai RI, Cek Batasnya
Tugas Utama Pramugari di Pesawat, Bukan Mengangkat Koper
American Airlines Luncurkan Fitur Pilih Kursi Otomatis
7 Cara Menyikapi Teman Kerja Toxic Tanpa Harus Resign

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 11:02 WIB

Alasan Anak Suka Mengobrol dengan Boneka

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:52 WIB

5 Cara Mengatasi Anak Kecanduan Merokok secara Bertahap

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 11:00 WIB

7 Negara dengan Visa Kerja Termudah untuk Pekerja

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:55 WIB

7 Tanda Kecerdasan Emosional Perlu Dilatih Lagi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 14:59 WIB

Aturan Bawa Power Bank di 6 Maskapai RI, Cek Batasnya

Berita Terbaru

Pentas seni tradisional randai Minangkabau di lapangan dengan rumah adat beratap gonjong di belakangnya. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Deni Dahniel (CC BY-SA 4.0))

Budaya

Tradisi Lukah Gilo Solok Difilmkan agar Tak Lenyap

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:46 WIB

Lembar uang rupiah kertas, ilustrasi pengelolaan anggaran daerah. (Foto: Dok. Wikimedia Commons/Pak.syafda (CC BY-SA 4.0))

Daerah

Efisiensi Anggaran, Pokir DPRD 50 Kota Tak Tersalur

Selasa, 20 Okt 2026 - 16:45 WIB

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta. (Foto: iNews.id)

Nasional

Personel Gabungan di Monas Bersiap Amankan Demo Jakarta

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:40 WIB

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot. (Foto: Dok. DPR)

Nasional

Dua Kasus Perundungan Anak Berujung Kematian Disorot

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:34 WIB

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Hercules Datangi Kementerian ATR/BPN soal Sengketa Lahan

Selasa, 20 Okt 2026 - 11:29 WIB