Jakarta, ArgumenRakyat.com — Pemandangan anak asyik mengobrol dengan bonekanya sering dianggap tanda kesepian, padahal perilaku itu bagian dari permainan imajinatif.
Dalam permainan, anak dapat menciptakan karakter, membuat cerita, dan membayangkan apa yang dipikirkan atau dirasakan tokoh dalam permainannya. Boneka bisa menjadi bayi yang harus diberi makan, pasien yang perlu diobati, atau teman yang diajak bercerita.
Melatih Empati lewat Cerita
Mengutip jurnal Developmental Science, anak lebih banyak menggunakan bahasa yang berkaitan dengan pikiran, keinginan, dan perasaan orang lain ketika bermain boneka dibandingkan saat bermain tablet. Perbedaan itu terutama terlihat ketika anak bermain sendiri. Misalnya, anak berpura-pura bonekanya sedang sedih, lalu bertanya mengapa boneka itu bersedih.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Perilaku ini berkaitan dengan kemampuan memahami pikiran, perasaan, dan perilaku orang lain. Anak tidak selalu memperlakukan boneka sebagai benda biasa, melainkan memberi nama, kepribadian, bahkan peran tertentu, lalu mengembangkan percakapan sesuai karakter yang dibuatnya.
Bukan Selalu Tanda Kesepian
Mengutip studi pada jurnal Developmental Psychology, anak yang memiliki teman imajiner berupa benda cenderung memperlakukan benda tersebut sebagai sesuatu yang perlu dirawat. Kebiasaan berbicara dengan boneka tidak bisa langsung diartikan sebagai tanda anak kesepian atau kurang mendapat perhatian.
Orang tua dapat mengamati permainan anak dan sesekali ikut terlibat, misalnya bertanya tentang cerita yang sedang dibuatnya. Dari situ orang tua bisa mengetahui bagaimana anak membayangkan karakter dan mengembangkan alur permainannya.









