PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Letnan Kolonel Inf. Ucok Namara, Komandan Kodim 0306/50 Kota, menawarkan visi pengabdian teritorial yang menyambungkan potensi agraria Luak Limopuluah dengan kemandirian pangan nasional. Herman R menakar nyali pengabdian itu dan usul pembentukan Koperasi Merah Putih tingkat nagari.
Oleh: Herman R, Direktur Utama PT Dimensia Digital Multimedia & Pimpinan Podcast Kusieh Bendi
Menyimak jalannya dialog intim dalam Kusieh Bendi Podcast bersama Letnan Kolonel Inf. Ucok Namara, S.I.P.—Komandan Kodim 0306/50 Kota—kita diajak menelusuri kembali hakikat pengabdian teritorial di wilayah Luak Limopuluah. Kota Payakumbuh dan Kabupaten 50 Kota merupakan lumbung geostrategis yang kaya akan potensi agraria, destinasi wisata internasional seperti Lembah Harau, serta modal sosial kental dari struktur adat Minangkabau. Sebagai putra daerah asli Koto Nan Ampek yang menembus korps perwira TNI Angkatan Darat, Letkol Ucok membawa visi strategis untuk mengonversi potensi kultural tersebut menjadi instrumen pertahanan negara yang berdaulat. Langkah ini kian krusial di era transformasi nasional, di mana wilayah teritorial didorong untuk menjadi pilar kemandirian pangan, ketahanan ekonomi kerakyatan, serta wadah persemaian generasi muda unggul yang siap menghadapi disrupsi global.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Paradoks di Garis Teritorial
Namun, lompatan potensi tersebut kerap kali membentur dinding paradoks sosiologis dan struktural di lapisan masyarakat arus bawah. Di satu sisi, animo pemuda setempat untuk mengabdi sebagai prajurit TNI sangat tinggi, tetapi di sisi lain, ruang publik masih dikotori oleh simpang siur isu miring seputar transparansi seleksi masuk militer. Secara pararel, wilayah geografis luhak ini menyimpan kerawanan bencana alam yang tinggi seperti banjir dan tanah longsor di kawasan Gunung Omeh dan Bukit Barisan. Kerawanan fisik ini berkelindan pula dengan tantangan ekonomi makro pasca-pandemi, di mana fluktuasi harga komoditas pertanian sering kali merugikan petani lokal, diperparah oleh ancaman stunting dan penurunan kualitas gizi anak-anak sebagai investasi masa depan bangsa.
Analisis jurnalistik yang mendalam menunjukkan bahwa akar dari paradoks teritorial ini berhulu pada belum optimalnya manajemen komunikasi dan sinergi kelembagaan di tingkat tapak. Isu miring mengenai seleksi TNI, misalnya, lahir karena kegagalan sebagian masyarakat dalam memahami akumulasi penilaian multiaspek yang rigid—meliputi jasmani, psikologi kepribadian, mental ideologi, hingga akademik. Begitu pula dalam mitigasi bencana dan implementasi program strategis nasional; tanpa adanya orkestrasi yang matang antara otoritas militer, birokrasi sipil, dan pemangku adat, maka kebijakan negara yang berniat baik justru akan dicurigai atau berjalan lambat. TNI Angkatan Darat pada hakikatnya bukan sekadar instrumen tempur, melainkan motor penggerak stabilitas sosial-ekonomi yang perlu mampu memformulasikan pendekatan sosiologis kultural demi menegakkan ketahanan nasional.
Langkah Konkret: Koperasi hingga SDM
Sebagai langkah konkret dan solutif, Kodim 0306/50 Kota bersama Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) diharapkan menginisiasi pembentukan Koperasi Merah Putih di tingkat Nagari sebagai korporasi ekonomi kerakyatan. Cara kerjanya dilakukan dengan memfungsikan koperasi ini sebagai wadah penyerap (offtaker) hasil panen bumi dan produk pertanian lokal dengan standardisasi harga yang adil, guna memutus mata rantai tengkulak yang selama ini merugikan petani. Pararel dengan itu, Komandan Kodim bersama jajaran Babinsa perlu mengintensifkan metode pendekatan persuasif dari samping (coaching style) untuk merangkul tokoh adat Ninik Mamak dan Datuk. Langkah ini krusial guna mempercepat konsolidasi hibah lahan komunal (tanah ulayat) untuk pembangunan Hunian Sementara (Huntara) maupun infrastruktur jalan pintas evakuasi bencana, seperti jalur Harau-Landai yang berhasil memangkas waktu tempuh dari satu setengah jam menjadi lima belas menit.
Dari aspek peningkatan kualitas sumber daya manusia, Dinas Pendidikan Kota Payakumbuh bersama jajaran Koramil perlu merancang lokakarya pembinaan jasmani dan psikologi gratis di tingkat SMA se-derajat. Program ini dilaksanakan dengan memberikan simulasi resmi (try-out) tahapan seleksi TNI secara transparan, guna mengikis praktik penipuan oleh oknum luar dan memastikan bibit unggul daerah siap bersaing secara murni. Terakhir, Pengelola Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) bersama Dinas Kesehatan diharapkan mengoptimalkan distribusi Dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) dengan melibatkan suplai bahan baku lokal—seperti telur, beras, dan sayur-mayur dari petani binaan koperasi—sehingga mampu menyerap tenaga kerja lokal sekaligus mengentaskan stunting secara masif dan berkelanjutan.
Mari kita camkan bersama petuah luhur bahwa pengabdian sejati tidak pernah menuntut apa yang telah negara berikan kepadamu, melainkan apa yang bisa kau dedikasikan untuk negaramu. Harapan besar kita di masa depan adalah terwujudnya silih bergantinya generasi penerus Luak Limopuluah yang bermental baja, menguasai teknologi, namun tetap teguh memegang tauhid dan adat ketimuran. Melalui ketajaman pena jurnalistik dan konsistensi Redaksi Kusieh Bendi dalam mengabarkan gerak nyata TNI di komando teritorial, kita optimis bahwa ketahanan pangan, ekonomi, dan pertahanan daerah akan tegak berdiri di atas kaki sendiri. Ketika sinergi antara tulusnya pengabdian tentara dan luhurnya dukungan masyarakat telah menyatu, maka tanah luhak ini tidak akan pernah lagi menjadi sasaran empuk penjajahan modern dalam bentuk apa pun.
Artikel ini bagian dari rangkaian tulisan Kusieh Bendi Podcast Episode 7 bersama Letkol Inf. Ucok Namara — “Dandim & Kelok 9: 2,5 Jam Jadi 15 Menit!”. Video lengkapnya: youtu.be/OeDm_Xo6wpY.









