ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali melempar otokritik yang tajam saat berbicara di hadapan para akademisi, dan guru besar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di tengah impian menuju kesejahteraan, sang presiden mempertanyakan efisiensi energi kolektif bangsa yang kerap habis dalam pusaran konflik politik pasca-pemilu, ketimbang memikirkan lompatan teknologi dan kemandirian ekonomi domestik. Prabowo menyayangkan pola transisi politik di Indonesia yang kerap kali diwarnai riak ketidakpuasan destruktif.
Ia membandingkan situasi dalam negeri dengan dinamika global yang bergerak melaju cepat menuju kemakmuran. “Apa kita mau gaduh habis tiap pemilihan gaduh, tiap pemilihan gaduh, yang kalah ribut, yang kalah ribut, kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita?” Katanya di acara Sarasehan Kebangsaan sebagai bagian dari rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) itu.
Bagi mantan Danjen Kopasus tersebut, stabilitas adalah kunci utama sebelum negara melangkah pada penguasaan industri strategis. Gugatan terbesar sang presiden tertuju pada lambatnya hilirisasi dan kemandirian manufaktur nasional. Di hadapan para akademisi, Prabowo mempertanyakan mengapa Indonesia yang kaya akan sumber daya alam masih bergantung pada produk otomotif impor, padahal pasar domestik sangat masif. “Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri?” Tegasnya menghentak forum.
Ia juga menambahkan kegelisahannya atas ketergantungan kendaraan roda dua, “Kita beli 10 juta motor tiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan Indonesia?”.
Kendati demikian, nada bicaranya melunak saat mengapresiasi kontribusi dunia kampus dalam merintis kendaraan taktis lokal yang kini ia gunakan sebagai kendaraan resmi kepresidenan. Ia membagikan pengalamannya saat perdana menaiki mobil buatan dalam negeri tersebut pasca-pelantikan, meski diiringi candaan soal kendala teknis awal yang dihadapinya. “Waktu bulan-bulan pertama ya lumayan, kecuali kalau hujan keras… minimal kita mulai, kita harus berani mulai,” tutur Prabowo yang disambut tawa hadirin.
Di akhir sesi terbuka sebelum meminta awak media meninggalkan ruangan untuk berdialog dari hati ke hati dengan guru besar, Kepala Negara menekankan bahwa posisi Indonesia sebagai negara keempat terbesar di dunia harus linier dengan pengabdian para intelektual. Prabowo menegaskan, “Segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah,” ucapnya.
Sebuah pesan kuat agar kampus tak sekadar jadi menara gading, tapi adalah laboratorium wujud daripada kemandirian nyata.









