Prabowo Sebut Candu Kegaduhan Politik: Energi Bangsa yang Habis di Kamar Pemilu

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 15:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Prabowo Subianto dan rombongan tiba di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026), pada acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (Dok. wapresri.go.id)

Foto: Prabowo Subianto dan rombongan tiba di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026), pada acara Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (Dok. wapresri.go.id)

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Presiden Prabowo Subianto kembali melempar otokritik yang tajam saat berbicara di hadapan para akademisi, dan guru besar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Di tengah impian menuju kesejahteraan, sang presiden mempertanyakan efisiensi energi kolektif bangsa yang kerap habis dalam pusaran konflik politik pasca-pemilu, ketimbang memikirkan lompatan teknologi dan kemandirian ekonomi domestik. Prabowo menyayangkan pola transisi politik di Indonesia yang kerap kali diwarnai riak ketidakpuasan destruktif.

Ia membandingkan situasi dalam negeri dengan dinamika global yang bergerak melaju cepat menuju kemakmuran. “Apa kita mau gaduh habis tiap pemilihan gaduh, tiap pemilihan gaduh, yang kalah ribut, yang kalah ribut, kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita?” Katanya di acara Sarasehan Kebangsaan sebagai bagian dari rangkaian Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) itu.

Baca Juga:  Presiden Prabowo Serahkan 6 Jet Tempur Rafale dan Alutsista Modern ke TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma

Bagi mantan Danjen Kopasus tersebut, stabilitas adalah kunci utama sebelum negara melangkah pada penguasaan industri strategis. Gugatan terbesar sang presiden tertuju pada lambatnya hilirisasi dan kemandirian manufaktur nasional. Di hadapan para akademisi, Prabowo mempertanyakan mengapa Indonesia yang kaya akan sumber daya alam masih bergantung pada produk otomotif impor, padahal pasar domestik sangat masif. “Kenapa Indonesia setelah 81 tahun tidak bisa bikin mobil buatan sendiri?” Tegasnya menghentak forum.

Ia juga menambahkan kegelisahannya atas ketergantungan kendaraan roda dua, “Kita beli 10 juta motor tiap tahun, kenapa tidak ada pabrik buatan Indonesia?”.

Kendati demikian, nada bicaranya melunak saat mengapresiasi kontribusi dunia kampus dalam merintis kendaraan taktis lokal yang kini ia gunakan sebagai kendaraan resmi kepresidenan. Ia membagikan pengalamannya saat perdana menaiki mobil buatan dalam negeri tersebut pasca-pelantikan, meski diiringi candaan soal kendala teknis awal yang dihadapinya. “Waktu bulan-bulan pertama ya lumayan, kecuali kalau hujan keras… minimal kita mulai, kita harus berani mulai,” tutur Prabowo yang disambut tawa hadirin.

Baca Juga:  Dua Kapal Tanker Minyak Sempat Ditarik, Pemerintah Bertindak Cepat Amankan Pasokan Energi Nasional

Di akhir sesi terbuka sebelum meminta awak media meninggalkan ruangan untuk berdialog dari hati ke hati dengan guru besar, Kepala Negara menekankan bahwa posisi Indonesia sebagai negara keempat terbesar di dunia harus linier dengan pengabdian para intelektual. Prabowo menegaskan, “Segala kepintaran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah,” ucapnya.

Sebuah pesan kuat agar kampus tak sekadar jadi menara gading, tapi adalah laboratorium wujud daripada kemandirian nyata.

Berita Terkait

Presiden Terima Surat Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo, Destry Damayanti Jadi Pjs
Sanksi Tutup Dapur Menanti: BGN Larang Keras Program Makan Bergizi Gratis Gunakan Barang Bersubsidi!
BUMN Obral Stok Hunian Mangkrak Lewat Danantara Housing, Ratusan Anak Usaha Mulai ‘Dibersihkan’
Pengamat Kebijakan UNPAD Sebut Pendirian Universitas Republik Indonesia Perlu Perencanaan Strategis Matang
Teka-teki Kipas Angin Rp 1,8 Triliun Koperasi Desa Merah Putih
Kapolri Buka Suara: Mengaku Pernah Ikut Tolak UU Cipta Kerja Diam-diam Bersama Buruh
Dua Ruas Tol di Jawa Disiapkan Jadi Landasan Jet Tempur
Nanik Sudaryati Mundur dari Kepala BGN karena Alasan Kesehatan, Sudaryono Ditunjuk Jadi Pengganti

Berita Terkait

Senin, 27 Juli 2026 - 21:36 WIB

Presiden Terima Surat Pengunduran Diri Gubernur BI Perry Warjiyo, Destry Damayanti Jadi Pjs

Senin, 27 Juli 2026 - 21:31 WIB

Sanksi Tutup Dapur Menanti: BGN Larang Keras Program Makan Bergizi Gratis Gunakan Barang Bersubsidi!

Senin, 27 Juli 2026 - 21:19 WIB

BUMN Obral Stok Hunian Mangkrak Lewat Danantara Housing, Ratusan Anak Usaha Mulai ‘Dibersihkan’

Minggu, 26 Juli 2026 - 18:57 WIB

Pengamat Kebijakan UNPAD Sebut Pendirian Universitas Republik Indonesia Perlu Perencanaan Strategis Matang

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:18 WIB

Teka-teki Kipas Angin Rp 1,8 Triliun Koperasi Desa Merah Putih

Berita Terbaru