50 KOTA – Sebuah narasi inspiratif datang dari Wakil Bupati 50 Kota, Ahlul Badrito Resha. Dalam perbincangan hangat di podcast Kusieh Bendi, mantan aktivis kampus ternama Universitas Gadjah Mada (UGM) ini membagikan filosofi hidupnya tentang pentingnya pengabdian di tanah kelahiran setelah menempuh pendidikan tinggi.
Pulang Kampung Pasca Wisuda
Ahlul Badrito Resha, yang merupakan mantan Ketua BEM Fakultas Hukum UGM dan Menko Eksternal BEM KM UGM, membuat keputusan mengejutkan dengan langsung pulang ke kampung halaman hanya dua hari setelah wisuda pada tahun 2011. Padahal, saat itu berbagai tawaran pekerjaan bergengsi dari lembaga hukum hingga KPK sudah menantinya di Jakarta.
“Kebanyakan generasi muda yang sudah menempuh pendidikan di luar malas pulang karena di kampung kekurangan lapangan pekerjaan. Tapi saya memutuskan, setelah tamat saya harus balik lagi ke kampung,” ungkap sosok yang akrab disapa Rito ini.
Menjadi Pengusaha Sebelum Birokrat
Sebelum terjun ke dunia politik, ia memulai kariernya sebagai pengusaha kuliner di Payakumbuh dan 50 Kota. Pengalaman ini membentuk mentalitasnya yang terbiasa dengan ritme kerja cepat. Namun, saat masuk ke birokrasi, ia menyadari bahwa membangun peradaban membutuhkan nafas panjang atau “maraton” dibandingkan “sprint” dalam bisnis.
Komitmen Pemerintahan Bersih dan Non-Transaksional
Sebagai wakil bupati muda, Ahlul Badrito Resha membawa semangat anti-korupsi yang ia timba selama menjadi aktivis. Ia menegaskan komitmennya bersama Bupati Safaruddin Dt. Bandaro Rajo untuk menciptakan pemerintahan yang bersih, termasuk pengisian jabatan eselon 2 yang dilakukan secara non-transaksional tanpa intervensi kepala daerah.
Visi “The Central of Agro”
Menyadari potensi besar daerahnya, pemerintahan saat ini mengusung visi The Central of Agro. Fokus utama ke depan adalah hilirisasi komoditas unggulan seperti gambir melalui sertifikasi indikasi geografis dan pembangunan pabrik agar petani mendapatkan harga terbaik tanpa melalui rantai tengkulak yang panjang.
Pesan untuk Generasi Muda
Menutup sesi podcast, ia berpesan agar generasi muda mempersiapkan diri menghadapi Indonesia Emas 2045 dengan memperdalam ilmu dan memperkuat mental.
“Kalau politisi berpikir tentang next election (Pilkada berikutnya), tapi kalau negarawan dia berpikir tentang next generation (generasi berikutnya). Dan itu yang saya pahami,” pungkasnya.
Sumber: Podcast Kusieh Bendi (Dimensia Creative)









