Skandal ‘Kambing Hitam’ di Balik Mundurnya Pejabat PU: Bersih-Bersih atau Proteksi Pemain Lama?

- Jurnalis

Selasa, 17 Maret 2026 - 00:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Kabar mengejutkan datang dari lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Belum genap setahun menjabat, sejumlah Direktur Jenderal (Dirjen) dikabarkan mengundurkan diri di tengah munculnya laporan temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang mencapai angka triliunan rupiah. Fenomena ini memicu spekulasi tajam di masyarakat: apakah ini murni proses hukum, ataukah sekadar upaya mencari “kambing hitam” untuk melindungi aktor utama di balik skandal tersebut?

Dalam podcast terbaru di kanal Dimensia Creative bersama narasumber ahli hukum, Wendra Yunaldi, terungkap berbagai kejanggalan terkait mundurnya pejabat-pejabat strategis seperti Dirjen Cipta Kerja dan Dirjen SDA.

Kejanggalan Jabatan Seumur Jagung

Wendra Yunaldi menyoroti bahwa pejabat yang mundur tersebut, seperti Dewi Kosmiriana (Cipta Kerja) dan Dwi Purwantoro (SDA), baru menjabat dalam hitungan bulan di tahun 2025. Namun, mereka harus berhadapan dengan surat temuan BPK terkait anggaran yang kemungkinan besar dijalankan oleh pejabat sebelumnya.

“Pertanyaannya, apakah betul dia mundur karena surat temuan BPK, atau ada hal lain? Jika alasannya temuan BPK, dia baru dilantik Januari, bahkan belum bekerja penuh, anggaran pun mungkin belum digunakan. Apakah adil jika mereka menanggung beban dari periode jabatan sebelumnya?” ujar Wendra dalam diskusi tersebut [07:40].

Baca Juga:  Tajuk Berita: Kisah di Sebalik Kepulangan Jasad Tan Malaka: Perjuangan Ferizar Ridwan dan Panggilan Spiritual dari Kediri ke 50 Kota

Budaya “Makan Bubur” dan Proteksi Aktor Utama

Wendra juga menyinggung fenomena penegakan hukum kasus korupsi di Indonesia yang ia ibaratkan seperti “makan bubur di pinggir-pinggir saja”. Menurutnya, banyak kasus besar yang hanya menyentuh pelaku di lapisan bawah atau samping, namun tidak pernah sampai ke titik tengah atau pelaku utama [00:15].

“Pelaku utama seringkali memiliki proteksi politik, ekonomi, dan kekuasaan. Akibatnya, yang menjadi korban adalah mereka yang kecil-kecil, yang tidak punya kekuatan finansial atau jabatan yang cukup kuat untuk membela diri,” tambahnya [12:18].

Dilema Pejabat dan “Munafik Bernegara”

Diskusi ini juga mengungkap sisi gelap birokrasi, di mana pejabat terkadang terpaksa melakukan tindakan koruptif bukan karena keinginan memperkaya diri sendiri, melainkan karena tekanan sistem atau perintah atasan. Wendra menyebut istilah “munafik bernegara” untuk menggambarkan situasi di mana sistem memaksa orang menjadi korup demi menjalankan operasional yang tidak terakomodasi anggaran resmi [08:51].

Baca Juga:  Isu VCS di Lingkaran Kekuasaan 50 Kota Memanas, Pengamat: Jangan Hanya Sembunyi di Balik Kata ‘Edit’

“Ada pejabat yang harus masuk pidana padahal ia tidak menikmati uang tersebut. Ia hanya menjalankan perintah atasan untuk mencari dana jamuan tamu pusat karena anggaran daerah sudah habis,” ungkapnya [09:36].

Dampak Terhadap Proyek di Daerah

Ketidakpastian di level pusat ini dikhawatirkan akan berdampak pada proyek-proyek besar di daerah, termasuk di Sumatera Barat seperti pembangunan Flyover Sitinjau Lauik dan revitalisasi Pasar Payakumbuh. Meski demikian, Wendra berharap pergantian pejabat ini tidak menghambat pembangunan yang sudah direncanakan sejak lama.

“Kita berharap pembangunan tetap berjalan, dan yang paling penting adalah pengakuan terhadap hak masyarakat lokal atau tanah ulayat dalam proses tersebut,” tutupnya [20:14].

Hingga berita ini diturunkan, publik masih menunggu langkah nyata dari Kementerian PU dan aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas temuan BPK tersebut tanpa menjadikannya ajang cuci tangan bagi para “pemain lama”.

Berita Terkait

Gambir Revolution: Strategi Jitu Sumbar Menguasai Pasar Global!
Hati-Hati! Saldo Bisa Ludes dalam Hitungan Detik, Rico Desmon Bongkar Modus Hacker di Podcast Kusia Bendi
LKM Sumbar Perjuangkan Perda Adat: Sanksi Sosial Bakal Ditingkatkan Jadi Sanksi Pidana Bagi Pelanggar Norma
Kisah Inspiratif Siska, Anggota DPRD 50 Kota: Dari Utang Miliaran dan Nyaris Bunuh Diri Hingga Menjadi “Megawati” di Parlemen
Haji John Rizal di Podcast Kusia Bendi: Kritisi Fenomena “Simsalabim” Pemimpin Instan dan Krisis Integritas
Payakumbuh Pernah Menangis: Mengenang Tragedi Kebakaran Hebat Melalui Alunan Lagu Minang
Isu VCS di Lingkaran Kekuasaan 50 Kota Memanas, Pengamat: Jangan Hanya Sembunyi di Balik Kata ‘Edit’
Dari Aktivis UGM Pulang Kampung Membangun Luak 50: Kisah Inspiratif Wabup Ahlul Badrito Resha

Berita Terkait

Selasa, 12 Mei 2026 - 10:00 WIB

Gambir Revolution: Strategi Jitu Sumbar Menguasai Pasar Global!

Sabtu, 25 April 2026 - 17:37 WIB

Hati-Hati! Saldo Bisa Ludes dalam Hitungan Detik, Rico Desmon Bongkar Modus Hacker di Podcast Kusia Bendi

Sabtu, 25 April 2026 - 17:09 WIB

LKM Sumbar Perjuangkan Perda Adat: Sanksi Sosial Bakal Ditingkatkan Jadi Sanksi Pidana Bagi Pelanggar Norma

Sabtu, 25 April 2026 - 17:06 WIB

Kisah Inspiratif Siska, Anggota DPRD 50 Kota: Dari Utang Miliaran dan Nyaris Bunuh Diri Hingga Menjadi “Megawati” di Parlemen

Sabtu, 25 April 2026 - 17:02 WIB

Haji John Rizal di Podcast Kusia Bendi: Kritisi Fenomena “Simsalabim” Pemimpin Instan dan Krisis Integritas

Berita Terbaru

Foto: Vinicius Junior (Instagram @vinijr)

Sport

Vinicius Junior Memilih Setia di Chamartín

Sabtu, 13 Jun 2026 - 14:26 WIB