Akan Seperti Apa Nyanyian Sony Sanjaya? Menanti Babak Baru Skandal Makan Bergizi Gratis

- Jurnalis

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sony Sanjaya dalam Sebuah Program Stasiun Televisi (YouTube GARUDA TV)

Sony Sanjaya dalam Sebuah Program Stasiun Televisi (YouTube GARUDA TV)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Langkah berani diambil oleh mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sanjaya. Di tengah pusaran pengusutan dugaan korupsi program unggulan  Makan Bergizi Gratis (MBG), Sony memilih mengajukan diri sebagai justice collaborator.

Langkah taktis ini diambil bukan sebagai bentuk pelarian, tapi sebuah ikhtiar hukum demi menyingkap tabir gelap aktor-aktor intelektual di balik penyelewengan dana publik tersebut. Penasihat hukum Sony, Krisna Murti, memberikan eksplanasi yuridis formal terkait keputusan kliennya saat diwawancarai di Kejaksaan Agung pada Senin (8/6). Krisna menegaskan, “Bukan menghindar dari permasalahan hukum tapi kami ingin mengungkap dan kooperatif mengungkap siapa saja yang terlibat di dalam program unggulan presiden ini,” jelas dia.

Meskipun Korps Adhyaksa belum merilis keputusan resmi untuk menerima atau menolak status tersebut, Sony tampaknya sudah mulai bernyanyi.

Secara meyakinkan, ia menyetorkan daftar hitam berisi 26 nama yang diduga kuat mengarsiteki korupsi massal ini. Krisna mengonfirmasi secara faktual bahwa deretan nama tersebut telah terdokumentasi dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) oleh penyidik Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus.

Baca Juga:  ​KPK Ungkap Dugaan Aliran Dolar Singapura ke Menhut, Berasal dari Pungutan Petani Kuansing

Pada Rabu (10/6), Krisna memaparkan perkembangan informasinya, “Sudah kita sampaikan ke penyidik, sudah ada di BAP,” kata Krisna. Skandal ini kian eskalatif karena melibatkan jejaring elite kekuasaan lintas sektoral. Tanpa merinci identitas spesifik, Krisna memetakan tipologi politik para pelaku yang disebutnya berasal dari ranah eksekutif, yudikatif, hingga legislatif. Krisna memberikan klasifikasi demografis para terduga seraya berujar, “Pokoknya dari eksekutif, legislatif dan yudikatif. (Paling banyak) legislatif. (Total jumlah nama) 26, kemungkinan bertambah, itu baru sebagian aja,” tutur Krisna.

Akurasi kesaksian Sony diperkuat oleh instrumen bukti digital berupa rekaman percakapan di dalam ponsel miliknya yang kini disita penyidik. Krisna mengimbau secara persuasif agar transparansi publik ditegakkan melalui pembukaan komunikasi tersebut. Ia menguraikan konstruksi pembuktian digitalnya, “Jadi semua bukti-bukti itu ada di dalam, semua bukti chat itu ada di dalam HP yang saat ini disita oleh penyidik,” ucap Krisna. Lebih lanjut, ia mengelaborasi detail interaksi tersebut, “Misalkan nama A berkomunikasinya dengan klien saya, si B juga, semua. Jadi semua bukti itu ada di dalam HP klien saya dan itu harus dibuka,” tegas dia.

Baca Juga:  Kortastipidkor Polri Beraksi: Geledah Delapan Lokasi Terkait Skandal Korupsi PLN, Asabri, dan Krakatau Steel

Dalam pusaran koersi tersebut, Sony mengaku berada dalam tekanan psikologis maupun politis yang masif. Kondisi asimetris inilah yang memaksanya memberikan legitimasi atas pembukaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menutup argumentasinya, Krisna menganalisis fenomena relasi kuasa tersebut, “Walaupun misalkan mereka tidak menggunakan tekanan, tapi bisa juga terjadi penekanan. Tapi anggap tidak ada penekanan, tapi pengaruhnya itu, menggerakkan pengaruhnya,” jelasnya.

Ia kemudian menambahkan sebuah konklusi yang bernada penuh penegasan hukum, “Pak Sony tahu siapa orang ini. Artinya dengan pengaruh menggerakkan aja Pak Sony tahu siapa orang ini gitu. Sudah masuk unsurnya,” tegas Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat JARI Jaringan Advokat Republik Indonesia itu.

Berita Terkait

Kades Bangkalan Aniaya Perawat Puskesmas gegara Salep
Operasi Patuh Jaya 2026 Dimulai, 2.938 Personel Dikerahkan
Polri-BNN Gagalkan Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin
Polisi Ungkap Perampokan Toko Emas Jember Terencana
KPK Geledah BPK Jateng, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah
Satu Ton Ketamine Diamankan di Perairan Belawan
Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami
LKPJ dan LPP: Pengawasan DPRD 50 Kota Disorot

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 10:39 WIB

Kades Bangkalan Aniaya Perawat Puskesmas gegara Salep

Senin, 26 Oktober 2026 - 10:34 WIB

Operasi Patuh Jaya 2026 Dimulai, 2.938 Personel Dikerahkan

Minggu, 25 Oktober 2026 - 11:52 WIB

Polri-BNN Gagalkan Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:58 WIB

Polisi Ungkap Perampokan Toko Emas Jember Terencana

Jumat, 23 Oktober 2026 - 10:33 WIB

KPK Geledah BPK Jateng, Sita Uang Ratusan Juta Rupiah

Berita Terbaru

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB

Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi. (Foto: Dok. Humas Polres Pariaman)

Daerah

Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:18 WIB