Payakumbuh Pernah Menangis: Mengenang Tragedi Kebakaran Hebat Melalui Alunan Lagu Minang

- Jurnalis

Minggu, 12 April 2026 - 00:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAYAKUMBUH, Argumenrakyat.com – Sebuah lagu bukan sekadar deretan nada dan lirik, melainkan sebuah arsip sejarah yang merekam emosi dan peristiwa besar. Hal inilah yang mendasari lahirnya lagu fenomenal “Payakumbuh Menangis”, sebuah karya yang lahir dari empati mendalam terhadap musibah kebakaran hebat yang pernah melanda jantung Kota Payakumbuh.

Dalam sesi podcast Kusieh Bendi di kanal Dimensia Creative, tokoh birokrat sekaligus seniman senior Sumatera Barat, H. Usin Daruhan, SH, M.Si, Dt. Mangkuto, membagikan kisah haru di balik terciptanya lagu tersebut. Ia mengenang bagaimana raungan kesedihan masyarakat saat melihat ratusan kios di Pasar Payakumbuh hangus terbakar menjadi inspirasi utama karyanya.

Lahir dari Empati dan Tahajud

Usin Daruhan mengungkapkan bahwa proses kreatif pembuatan lagu-lagunya seringkali berawal dari momen spiritual. “Saya biasanya membuat lagu itu ketika bangun pagi dan setelah salat tahajud. Di situlah lirik-lirik yang penuh kiasan dan makna muncul,” ujarnya dalam video tersebut [06:07].

Baca Juga:  Tolak Fasilitas Mobil Dinas, Bupati Safni Sikumbang Alihkan Dana untuk Alat Berat Jalan Usaha Tani

Lagu “Payakumbuh Menangis” sendiri diciptakan setelah ia turun langsung ke lokasi kebakaran. Ia melihat betapa hancurnya hati para pedagang yang kehilangan satu-satunya sumber penghidupan, bahkan ada yang baru saja meminjam modal dari bank sehari sebelum kejadian [18:39]. Liriknya menggambarkan suasana pilu: “Pagi Salasa menjelang subuh… datang tando… abis sadonyo,” yang merekam detik-detik api melahap ratusan toko [19:13].

Menjaga Marwah Musik Minang

Selain membahas sejarah lagu tersebut, Usin Daruhan yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Pemusik Republik Indonesia (PAPPRI) Sumatera Barat, menyoroti fenomena musik Minang saat ini. Ia merasa prihatin dengan banyaknya lirik lagu modern yang dianggap terlalu kasar atau kehilangan jati diri kiasan khas Minangkabau.

“Orang Minang itu punya kiasan, ada kata mendaki, melereng, dan mendatar. Musik sekarang banyak yang mengejar viral dengan kata-kata kasar,” kritiknya [13:15]. Ia mengajak generasi muda untuk kembali mencintai budaya daerah dan menjaga kualitas karya agar tetap abadi seperti era Tiaramon atau Elly Kasim.

Baca Juga:  10 Tahun Keliling Indonesia Naik Mobil Tua! Denny & Beda Temukan Jejak Minang dari Kalimantan hingga Ternate

Harapan untuk Kesejahteraan Seniman

Melalui media argumenrakyat.com, Usin juga menyampaikan pesan kuat kepada pemerintah daerah agar lebih memperhatikan nasib para pelaku seni. Ia menyoroti isu hak cipta dan royalti yang seringkali tidak sampai ke tangan pencipta lagu, sementara penyanyinya sudah menikmati hasil yang besar.

Ia berharap pemerintah melalui regulasi seperti SK Gubernur dapat membantu melindungi hak-hak ekonomi para seniman lokal. “Seniman juga masyarakat yang butuh biaya hidup. Jangan sampai pencipta lagu hanya mendapat ‘peluh keringat’ sementara yang lain mendapat harumnya,” tegasnya [27:11].

Tragedi kebakaran Payakumbuh mungkin sudah berlalu bertahun-tahun silam, namun melalui lagu, ingatan akan ketabahan warga kota ini akan terus hidup dari generasi ke generasi.


Tonton video selengkapnya di sini: KUSIEH BENDI – Payakumbuh Pernah Menangis

Berita Terkait

Advokat Payakumbuh: Dikepung 300 Massa, Ilmu Hukum Tak Jalan Tanpa Keberanian
KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda
Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat
Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri
Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif
Nabil Anjabi: Film Bagus Tak Harus Mahal, Relevansi Cerita yang Menentukan
Pejabat Zaman Now: Ngonten untuk Transparansi, Bukan Sekadar Personifikasi Citra
Kopi Bukan Cuma Penahan Kantuk: Prof. Rince Alfia Fadri Bicara 28 Antioksidan

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:02 WIB

Advokat Payakumbuh: Dikepung 300 Massa, Ilmu Hukum Tak Jalan Tanpa Keberanian

Minggu, 18 Oktober 2026 - 21:06 WIB

KNPI Payakumbuh: Efisiensi Disebut ‘Pisau Bedah’ yang Menghantam Aktivitas Pemuda

Minggu, 11 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Ketua Tim Advokasi: SHP Pasar Blok Barat Tak Berdasar Akta Adat

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:10 WIB

Advokat Payakumbuh: Putusan Kerapatan Adat Sering ‘Mentah’ di Pengadilan Negeri

Kamis, 1 Oktober 2026 - 21:38 WIB

Mantan Anggota DPRD 50 Kota: Dewan Sering Hanya Jadi ‘Tukang Stempel’ Eksekutif

Berita Terbaru

Advokat Hafis Alfarisi saat menjadi narasumber podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendir)

Ekonomi

HGU Perusahaan vs Tanah Adat, Advokat Pilih Jalan Damai

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:45 WIB

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB