PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com – Fenomena kemunculan figur-figur pemimpin yang muncul secara mendadak tanpa rekam jejak organisasi yang jelas menjadi sorotan tajam dalam episode terbaru podcast Kusia Bendi. Menghadirkan tokoh organisasi kawakan Kota Payakumbuh, Haji John Rizal, diskusi ini menguliti krisis kepemimpinan yang tengah melanda tingkat daerah hingga nasional.
Dalam obrolan santai namun mendalam tersebut, Haji John Rizal mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren kontestasi politik saat ini, di mana kapasitas memimpin seringkali kalah oleh kapasitas finansial.
Fenomena Pemimpin “Simsalabim”
Haji John Rizal menyoroti adanya kelompok-kelompok yang sibuk mencari figur hanya berdasarkan kesuksesan finansial di perantauan, tanpa melihat kemampuan manajerial dan kepekaan sosialnya.
“Ada fenomena yang sangat miris. Ketika kontestasi tiba, orang kasak-kusuk mencari figur pengusaha sukses untuk dijadikan kepala daerah. Yang dilihat adalah kemampuan membiayai ajang kontestasi, bukan kemampuan memimpin,” ujar Haji John Rizal dalam video yang diunggah di kanal YouTube Dimensia Creative [05:45].
Ia mengistilahkan ini sebagai pemimpin “Simsalabim”—sosok yang berhasil secara ekonomi melalui proses panjang, namun tiba-tiba ditarik ke dunia politik tanpa melalui proses berjenjang (kaderisasi) yang matang.
Pentingnya Rekam Jejak dan Penjenjangan
Sebagai sosok yang besar di lingkungan organisasi, Haji John Rizal menekankan bahwa kualitas pemimpin lahir dari proses “Bajanjang Naik, Batanggo Turun”. Ia membandingkan kondisi saat ini dengan masa lalu, di mana pemimpin lahir dari kawah candradimuka organisasi seperti Karang Taruna, KNPI, hingga organisasi profesi.
“Pemimpin dulu itu militan dan jujur karena mereka berangkat dari bawah. Mereka tahu pahitnya kondisi masyarakat karena pernah merasakannya sendiri,” tegasnya [26:07]. Menurutnya, pemimpin yang instan cenderung bingung saat sudah menjabat karena tidak memiliki jiwa leadership dan hanya sekadar menjalankan petunjuk formalitas saja.
Kritik Terhadap Penempatan Jabatan (The Right Man on The Right Place)
Diskusi juga menyentuh isu lokal di Kota Payakumbuh, termasuk penempatan jabatan di lembaga formal maupun BUMD yang seringkali mengabaikan kompetensi demi kepentingan titipan atau kedekatan.
Haji John Rizal menyayangkan banyaknya talenta lokal berprestasi nasional yang justru “tidak lewat” dalam seleksi karena adanya intervensi kepentingan. “Secara teoritis lulus, tapi akhirnya berubah karena kepentingan. Ini yang saya sebut ‘Piang Tabua Ganti Nan Putuih’, aturan yang diubah demi meloloskan kepentingan tertentu,” tambahnya [43:48].
Harapan untuk Masa Depan
Mengakhiri diskusi, Haji John Rizal mengajak masyarakat untuk kembali melihat kriteria ideal pemimpin melalui filosofi Minangkabau: Tageh, Takah, dan Tokoh. Ia berpesan agar integritas tetap menjadi panglima dalam memilih pemimpin.
“Jangan hanya melihat kondisi finansial, tapi lihatlah background-nya. Pemimpin harus punya jiwa leadership dan peka terhadap arus bawah,” tutupnya [51:40].
Editor: Redaksi ArgumenRakyat.com Sumber: Podcast Kusia Bendi – Dimensia Creative









