IHSG Tembus Level 7.179, Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Jadi Katalis Positif

- Jurnalis

Kamis, 7 Mei 2026 - 12:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi IHSG Tembus Level 7.179, Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Jadi Katalis Positif (Foto AI)

Ilustrasi IHSG Tembus Level 7.179, Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Jadi Katalis Positif (Foto AI)


ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – IHSG menguat signifikan pada perdagangan Kamis (7/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan dibuka di level 7.160,78. Setelah itu, IHSG terus merangkak naik. Puncaknya menyentuh level 7.179. Kenaikan ini mencapai sekitar 1,23% pada sesi awal perdagangan.

Apa penyebab penguatan ini? Para analis melihat dua pendorong utama. Pertama, data pertumbuhan ekonomi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal I-2026. Angkanya mencapai 5,61% secara tahunan (year-on-year). BPS mengumumkan data ini pada Selasa (5/5/2026). Capaian ini melampaui ekspektasi pasar.

Kedua, sentimen global ikut membaik. Ketegangan geopolitik mereda. Harga minyak mentah dunia pun turun. Kondisi ini mendorong optimisme investor. Data dari Kementerian Keuangan juga menunjukkan pertumbuhan positif. Hampir semua sektor ikut tumbuh. Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar. Sementara itu, sektor jasa pendidikan dan kesehatan mencatat pertumbuhan tertinggi.

Baca Juga:  Mentan: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyerap Utama 165 Juta Petani

Di mana transaksi berlangsung? Seluruh aktivitas jual beli saham berpusat di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. Sentimen positif berasal dari data makro domestik. Kantor BPS dan Kementerian Keuangan menjadi sumber utama kabar baik ini.

Mengapa berita ini penting? Kenaikan IHSG menjadi sinyal positif bagi perekonomian nasional. Namun, investor perlu mencermati satu hal. Aktivitas investor asing menyimpan catatan penting. Data bursa menunjukkan aksi jual bersih (net sell) pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Nilai net sell mencapai Rp484 miliar di seluruh pasar. Tekanan jual ini terutama terjadi pada saham-saham perbankan besar.

Baca Juga:  Rekor Pecah! Harga Emas Antam Tembus Rp2,58 Juta Per Gram Akibat Gejolak Geopolitik Global

Bagaimana prospek ke depan? IHSG berpeluang menguji level resistance berikutnya. Namun, stabilitas nilai tukar rupiah menjadi kunci utama. Stabilitas rupiah akan menarik aliran dana asing kembali ke pasar saham. Pelaku pasar juga akan mencermati hasil review MSCI. Selain itu, para investor menunggu kebijakan suku bunga Bank Indonesia ke depan. Secara keseluruhan, fundamental ekonomi tetap solid. Pemerintah optimistis target pertumbuhan tahun ini dapat tercapai.(**)

Berita Terkait

Mualem Peringatkan Jakarta: Jangan Jadikan Aceh Penonton di Blok Andaman
Dony Oskaria Tegaskan Transparansi Danantara, Tepis Kekhawatiran Birokrasi Gemuk
Rupiah Merosot dan Buruh yang Terjepit Badai PHK
Wilmar dan Teka-Teki Pelarian Devisa Sawit
Dinamika Perekonomian Masyarakat Minangkabau: Mengenang Kejayaan Dagang Pariaman Abad XIX
Ekspor CPO hingga Batu Bara Kini Wajib Lewat BUMN, Prabowo: Biar Rakyat Sejahtera!
Rupiah Tembus Rekor Terendah Rp17.743, BI Sebut Musiman tapi DPR Menagih Janji
Pelemahan Rupiah Ancam PHK Massal, Ini Kata Pengamat

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 11:16 WIB

Dony Oskaria Tegaskan Transparansi Danantara, Tepis Kekhawatiran Birokrasi Gemuk

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:24 WIB

Rupiah Merosot dan Buruh yang Terjepit Badai PHK

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:39 WIB

Wilmar dan Teka-Teki Pelarian Devisa Sawit

Senin, 25 Mei 2026 - 15:30 WIB

Dinamika Perekonomian Masyarakat Minangkabau: Mengenang Kejayaan Dagang Pariaman Abad XIX

Rabu, 20 Mei 2026 - 13:10 WIB

Ekspor CPO hingga Batu Bara Kini Wajib Lewat BUMN, Prabowo: Biar Rakyat Sejahtera!

Berita Terbaru