16 Tahun Tanpa Gus Dur: Menakar Kembali Kedewasaan Bangsa dalam Merawat Pluralisme

- Jurnalis

Selasa, 30 Desember 2025 - 22:01 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Gus Dur Manusia Multidimensional

Gus Dur Manusia Multidimensional

JAKARTA, ArgumenRakyat.com – Tepat hari ini, Selasa (30/12), bangsa Indonesia memperingati 16 tahun berpulangnya KH Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur. Tokoh bangsa, guru bangsa, sekaligus Presiden ke-4 Republik Indonesia ini wafat pada 30 Desember 2009, namun pemikiran dan semangatnya tentang pluralisme justru terasa semakin relevan di tengah dinamika sosial politik saat ini.

Di berbagai sudut tanah air, mulai dari pesantren di Jombang hingga komunitas lintas iman di Jakarta, doa bersama dan diskusi kebudayaan digelar untuk mengenang sosok yang dikenal dengan jargon khasnya, “Gitu aja kok repot.”

Lebih dari Sekadar Pemimpin Politik

Bagi banyak kalangan, Gus Dur bukan sekadar mantan presiden. Beliau adalah simbol perlawanan terhadap diskriminasi dan pembela kaum minoritas. ArgumenRakyat.com mencatat bahwa keberanian Gus Dur dalam melegalkan perayaan Imlek dan mengakui Konghucu sebagai agama resmi adalah tonggak sejarah yang mengubah wajah demokrasi Indonesia menjadi lebih inklusif.

Baca Juga:  Temuan BPK Picu Mundurnya Dua Dirjen di Kementerian PU, Audit Ungkap Potensi Kerugian Negara

“Gus Dur mengajarkan kita bahwa di atas politik, ada kemanusiaan. Warisan inilah yang harus kita rawat, terutama saat narasi intoleransi masih kerap muncul di media sosial,” ungkap salah satu tokoh lintas agama dalam acara Haul Gus Dur di Jakarta.

Pluralisme di Era Digital: Tantangan Baru

Memperingati 16 tahun kepergiannya, tantangan merawat pluralisme kini bergeser ke ranah digital. Jika dahulu Gus Dur berjuang melawan sekat-sekat fisik dan regulasi yang diskriminatif, kini generasi penerus “Gusdurian” dihadapkan pada arus disinformasi dan hate speech yang mampu memecah belah bangsa dalam sekejap.

Gerakan pemuda dan aktivis hari ini terus berupaya membumikan pemikiran Gus Dur melalui konten kreatif, menekankan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang menjadi fondasi berdirinya Indonesia.

Keteladanan yang Dirindukan

Di tengah persiapan menyambut tahun 2026, sosok Gus Dur tetap menjadi “kompas moral” bagi banyak orang. Kerendahhatiannya dalam menerima kritik serta selera humornya yang tajam namun penuh makna sering kali dirindukan oleh rakyat yang merindukan kesejukan di tengah panasnya tensi isu-isu nasional.

Baca Juga:  Comeback Politik: Ahmad Sahroni Resmi Kembali Jabat Wakil Ketua Komisi III DPR RI Usai Jalani Sanksi 6 Bulan

Hingga malam ini, kediaman Gus Dur di Ciganjur serta kompleks makam di Tebuireng masih terus didatangi peziarah dari berbagai latar belakang suku dan agama. Ini menjadi bukti sahih bahwa meski raga Gus Dur telah tiada, spirit keberagaman yang ia tanamkan telah mengakar kuat di hati sanubari rakyat.

Catatan ArgumenRakyat

Merawat warisan Gus Dur bukan sekadar merayakan seremonial setiap tanggal 30 Desember. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana setiap individu mampu mempraktikkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari, berani membela yang tertindas, dan tetap menjaga selera humor meski situasi bangsa sedang “repot”.

Berita Terkait

Wacana Kurikulum Ekologi 2026: Menakar Strategi Membangun Generasi Sadar Bencana
Pemerintah Isyaratkan 160 Ribu Formasi CPNS 2026, Fokus pada Talenta Digital dan Fresh Graduate
Negara Makin Kuat, Pasar Makin Dikontrol: Rakyat Diuntungkan atau Dibatasi?
BBM Tak Naik, Tapi Dompet Rakyat Tetap Tercekik: Ada Apa dengan Ekonomi Kita?
Isu Kenaikan BBM 1 April 2026 Mencuat, Pemerintah dan Pertamina Beri Klarifikasi
Pemerintah Pertimbangkan Pangkas Program Makan Gratis, Efisiensi atau Ancaman bagi Rakyat?
Dua Kapal Tanker Minyak Sempat Ditarik, Pemerintah Bertindak Cepat Amankan Pasokan Energi Nasional
Ekonomi Indonesia Diprediksi Melambat Setelah Lebaran 2026, Ini Penyebabnya
Tag :

Berita Terkait

Kamis, 23 April 2026 - 16:00 WIB

Wacana Kurikulum Ekologi 2026: Menakar Strategi Membangun Generasi Sadar Bencana

Kamis, 16 April 2026 - 12:34 WIB

Pemerintah Isyaratkan 160 Ribu Formasi CPNS 2026, Fokus pada Talenta Digital dan Fresh Graduate

Selasa, 7 April 2026 - 16:25 WIB

Negara Makin Kuat, Pasar Makin Dikontrol: Rakyat Diuntungkan atau Dibatasi?

Selasa, 7 April 2026 - 15:11 WIB

BBM Tak Naik, Tapi Dompet Rakyat Tetap Tercekik: Ada Apa dengan Ekonomi Kita?

Selasa, 31 Maret 2026 - 09:22 WIB

Isu Kenaikan BBM 1 April 2026 Mencuat, Pemerintah dan Pertamina Beri Klarifikasi

Berita Terbaru

Ilustrasi Foto Kartini 2026: Hak atas Sehat Jiwa, Emansipasi Wanita Modern.(Foto AI)

Kesehatan

Kartini 2026: Hak atas Sehat Jiwa, Emansipasi Wanita Modern

Selasa, 21 Apr 2026 - 14:00 WIB