Yusril Sebut Penahanan Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Mutlak Kewenangan Penyidik

- Jurnalis

Minggu, 19 Juli 2026 - 17:39 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Yusril Ihza Mahendra (Dok. KOMPAS.com/Kristian Erdianto)

Foto: Yusril Ihza Mahendra (Dok. KOMPAS.com/Kristian Erdianto)

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, angkat bicara mengenai belum dilakukannya penahanan terhadap mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah.

Febrie sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi dan tindak pidana pencucian uang (TPPU) terkait PT ASABRI. Terkait kondisi tersebut, Yusril menegaskan bahwa status penahanan seorang tersangka merupakan ranah subjektif dari aparat penegak hukum yang berwenang.

Yusril mengatakan keputusan untuk melakukan penahanan merupakan kewenangan penyidik dengan mempertimbangkan ketentuan yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).

“Penyidik itu punya kewenangan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu untuk melakukan penahanan atau tidak melakukan penahanan. Dan kalaupun dilakukan penahanan, dapat juga diuji praperadilan ke pengadilan,” kata Yusril usai menghadiri peresmian Cetiya Tian Shi Hua Guan Di Jing Se di PIK, Jakarta Utara, Minggu (19/7/2026).

Meski hukum acara memberikan ruang diskresi kepada penyidik, Yusril mengingatkan bahwa asas transparansi dan kontrol sosial dari publik tetap diperlukan dalam mengawal proses peradilan pidana ini.

Baca Juga:  Satori Mangkir dari Panggilan KPK Kasus CSR BI-OJK

“Dan karena itu kita awasi dan kita cermati apa yang dilakukan oleh penyidik Kejaksaan Agung dalam mengungkap atau melakukan penyidikan lanjutan terhadap kasus mantan Jampidsus kita ini,” tegas pria yang baru saja berhasil meraih gelar Doktor pada Program Studi Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia tersebut.

Yusril juga menambahkan, bahwa perkembangan proses penyidikan masih sangat dinamis. Oleh karena itu, upaya paksa berupa penahanan badan bisa saja diterapkan di kemudian hari.

“Ya karena mungkin masih tahap-tahap awal ya. Kita lihat saja perkembangannya. Dalam perkembangan bisa saja dilakukan tindakan penahanan,” kata Yusril.

Lebih lanjut, pemerintah berkomitmen penuh pada supremasi hukum yang memberikan kepastian serta keadilan bagi masyarakat melalui penguatan sinergitas antarlembaga penegak hukum.

Dalam perkara ini, Korps Adhyaksa turut menetapkan seorang advokat bernama Don Ritto sebagai tersangka. Berbeda dengan Febrie, Don Ritto saat ini langsung menjalani masa penahanan. Hingga kini, pihak Kejaksaan Agung belum memaparkan delik spesifik serta tata cara perbuatan pidana (modus operandi) secara detail yang melibatkan kedua tersangka.

Baca Juga:  Ahmad Khozinudin Singgung Silfester yang Sampai Hari Ini Belum Ditahan

Kendati demikian, serangkaian tindakan pro justitia berupa penggeledahan telah dilakukan di beberapa titik, termasuk money changer KOIN, kafe de’Clan, hingga sebuah hunian di Sentul, Bogor. Penyidik menyita barang bukti berupa uang tunai dan emas batangan.

Kuasa hukum Don Ritto, Handika Honggowongso, menyatakan pembelaan dengan menegaskan bahwa temuan uang Rp 67,2 miliar di kawasan Cipete tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan materi gugatan atau klaster korupsi yang dituduhkan.

Sementara itu, kuasa hukum Febrie Adriansyah, Hotman Paris Hutapea, mengajukan eksepsi secara publik. Hotman menilai perkara PT ASABRI sejatinya telah memiliki kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) sebelum kliennya menjabat sebagai Jampidsus, sehingga amar putusan terdahulu harus menjadi rujukan utama dalam melihat konstruksi hukum perkara baru ini.

Berita Terkait

Dua Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Nduga
Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami
KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir
Asap Karhutla Masuk Jakarta, DKI Siapkan PJJ dan WFH
KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar
MK Perintahkan Revisi UU Peradilan Militer, TNI Merespons
KPK OTT di BNPB, 14 Orang Ditangkap Termasuk Sestama
DPR Desak Karhutla Ditetapkan Jadi Bencana Nasional

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:23 WIB

Dua Anggota KKB Tewas dalam Kontak Tembak di Nduga

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:35 WIB

Motif Penembakan Polisi di Pondok Cabe Masih Didalami

Minggu, 18 Oktober 2026 - 10:25 WIB

KPK Jemput Paksa Nusron Wahid Usai Dua Kali Mangkir

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:38 WIB

Asap Karhutla Masuk Jakarta, DKI Siapkan PJJ dan WFH

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 10:33 WIB

KPK Duga Bupati Klaten Terima Rp2,08 Miliar

Berita Terbaru

Peneliti Google DeepMind Mundur Tolak AI untuk Militer. (Foto: Wikimedia Commons)

Teknologi

Peneliti Google DeepMind Mundur Tolak AI untuk Militer

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:49 WIB

Mantan Bupati Gowa Ajukan Penangguhan Penahanan. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Mantan Bupati Gowa Ajukan Penangguhan Penahanan

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:45 WIB

Usai Tiga Hari Hujan, Asap Karhutla Balik ke Palembang. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Usai Tiga Hari Hujan, Asap Karhutla Balik ke Palembang

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:39 WIB

Imigrasi Grebek Vila di Bali, 17 WNA Diduga Jalankan Pinjol. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Imigrasi Grebek Vila di Bali, 17 WNA Diduga Jalankan Pinjol

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:34 WIB

Polisi Ungkap Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Polisi Ungkap Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun

Selasa, 27 Okt 2026 - 11:28 WIB