ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Pelaku pasar modal kembali menghadapi tekanan pada perdagangan tengah pekan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke level terendah dalam sejarah.
Berdasarkan data pasar spot pada Rabu pagi pukul 09.05 WIB, rupiah dibuka melemah 37 poin atau drop 0,21 persen ke posisi Rp17.743 per dolar AS. Angka ini menjadi titik terendah baru mata uang Garuda.
Pelemahan ini terjadi di tengah adu narasi antara Bank Indonesia (BI) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Regulator tetap optimis, sementara sektor riil justru mulai kesulitan.
Angka Meleset dari Target APBN
Saat ini rupiah bergerak pada rentang Rp17.600 hingga Rp17.743 per dolar AS. Posisi ini berbanding terbalik dengan asumsi makro dalam APBN 2026. Pemerintah sebelumnya menetapkan target Rp16.500 per dolar AS, dengan batas aman Rp16.200 hingga Rp16.800.
Secara tahun berjalan (year to date), rata-rata nilai tukar sebenarnya masih berada di angka Rp16.900. Namun, rupiah terus tertekan sejak penutupan pekan lalu (Jumat, 15/5) di level Rp17.600. Kondisi ini kian parah karena indeks dolar global menguat ke posisi 99.378.
BI Klaim Faktor Musiman
Meskipun pasar bergejolak, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo meminta publik tetap tenang. Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR awal pekan ini (18-19 Mei), Perry menyebut tekanan ini hanya bersifat sementara atau musiman.
Menurut Perry, ada tiga faktor utama yang memicu tingginya permintaan dolar AS pada periode April hingga Juni. Faktor tersebut meliputi pembayaran dividen korporasi ke luar negeri, pelunasan utang swasta, dan kebutuhan valas musim haji.
Oleh karena itu, BI memproyeksikan rupiah akan berbalik menguat pada Juli hingga Agustus 2026. Guna memancing aliran modal asing (capital inflow), BI kini telah menaikkan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) ke level 6,41 persen.
Parlemen Tagih Janji Nyata
Namun, argumen BI mendapat penolakan keras dari Senayan. Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan bahwa parlemen mulai kehilangan kesabaran. Politikus Partai Golkar tersebut menagih janji BI terkait penguatan rupiah yang sempat dijanjikan pada kuartal dua ini.
Misbakhun mengungkapkan bahwa rupiah belum pernah menyentuh level aman Rp16.500 sejak awal tahun 2026. Akibatnya, industri manufaktur seperti sektor plastik mulai mengeluhkan lonjakan biaya bahan baku impor. Selain itu, beban impor BBM dan LPG juga ikut membengkak.
Oleh sebab itu, DPR mendesak BI segera mengambil langkah konkret. BI harus mengembalikan rupiah ke angka psikologis Rp16.500 per dolar AS agar dampak buruknya tidak meluas ke sektor masyarakat bawah.(**)









