Kendari, ArgumenRakyat.com — Realisasi penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Pembiayaan Ultra Mikro (UMi) di Sulawesi Tenggara mencapai Rp3,77 triliun hingga akhir September 2026 dan menjangkau 63.335 debitur UMKM.
“Penyaluran KUR dan UMi hingga 30 September 2026 secara keseluruhan tumbuh positif. Total penyaluran mengalami peningkatan 23,72 persen secara tahunan, sementara jumlah debitur tumbuh 5,83 persen,” kata Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Sulawesi Tenggara Iman Widhiyanto di Kendari, Kamis.
Iman menyampaikan total pembiayaan tersebut disalurkan kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang tersebar di 17 kabupaten dan kota se-Sulawesi Tenggara. Angka itu mencakup penyaluran KUR, program Pembiayaan UMi, hingga skema pembiayaan perumahan dan kredit usaha lainnya.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →KUR Mikro Dominasi Penyaluran
Berdasarkan skema pembiayaan, KUR Mikro menjadi penyumbang terbesar dengan nilai Rp2,33 triliun bagi 42.357 debitur. Posisi kedua ditempati KUR Kecil yang terealisasi Rp1,06 triliun untuk 4.606 debitur, sedangkan program Pembiayaan UMi termasuk UMi Pro menyerap Rp91,12 miliar dan menjangkau 15.357 debitur.
Selain itu, terdapat penyaluran skema Supply Rumah Rp168,58 miliar untuk 48 debitur, Demand Rumah Rp101,64 miliar untuk 595 debitur, KUA Rp15,37 miliar untuk 29 debitur, serta SuperMI senilai Rp3,32 miliar bagi 343 debitur.
Kolaka Penyumbang Terbesar
Dari sebaran wilayah, Kabupaten Kolaka mencatat nilai penyaluran terbesar, yakni Rp543,91 miliar yang dimanfaatkan 7.663 debitur. Posisi berikutnya ditempati Kota Kendari dengan Rp536,61 miliar untuk 6.134 debitur dan Kabupaten Muna Rp500,07 miliar bagi 11.482 debitur.
Tiga daerah dengan nilai penyaluran terendah adalah Kabupaten Konawe Kepulauan Rp23,17 miliar untuk 983 debitur, Kabupaten Buton Tengah Rp19,82 miliar untuk 793 debitur, dan Kabupaten Muna Barat Rp9,02 miliar bagi 335 debitur.
Memasuki triwulan IV 2026, DJPb Sulawesi Tenggara mendorong perluasan akses pembiayaan di daerah yang penyalurannya masih rendah. “Ruang kebijakan kita ke depan adalah memperluas akses pembiayaan di wilayah-wilayah yang masih rendah, sekaligus mengintegrasikan serta menghubungkan KUR dan UMi dengan rantai pasok program-program prioritas pemerintah daerah maupun pusat,” tambah Iman Widhiyanto.
Modal sering disebut sebagai penghalang utama usaha kecil untuk tumbuh. Namun di banyak daerah, pelaku UMKM yang bertahan justru mereka yang berhasil membuat orang lain mengenal produknya. Seorang penjahit di kota kecil memulai dengan satu mesin jahit dan pesanan tetangga. Begitu ia mulai merekam proses kerja dan hasil karyanya dalam potongan video pendek, pertanyaan dari calon pembeli luar daerah datang satu per satu. Akses pembiayaan membantunya menambah bahan, sementara kanal digital membuat produknya dikenal lebih luas.
Pola itu kini lazim: dukungan pembiayaan memperkuat kapasitas produksi, sementara pemasaran digital memperluas pasar. Konten video bekerja seperti etalase yang tidak pernah tutup, dan hasilnya terus ditemukan orang berbulan-bulan kemudian. Agar benar-benar berdampak, konten perlu dirawat dengan digital marketing yang terarah, strategi konten yang konsisten, serta optimasi mesin pencari dan media sosial (SEO/GEO) supaya mudah muncul saat calon pembeli mencari produk serupa.
Dimensia Creative mendampingi pelaku usaha menyiapkan kanal digital tersebut, mulai dari produksi konten video, siaran langsung, hingga strategi digital marketing yang terukur. Sapa kami lewat WhatsApp 0812-6349-2788 atau kunjungi dimensiacreative.com.
Selain tampilan visual, kredibilitas juga dibangun dari cerita. Lewat podcast, pemilik usaha dapat berbagi perjalanan bisnisnya, tokoh daerah menyampaikan gagasan, dan narasumber memperkuat citra yang diingat publik. Panduan lengkapnya tersedia di dimensiacreative.com/proposal.









