PAYAKUMBUH, ArgumenRakyat.com — Sineas muda Nabil Anjabi menilai festival film menjadi pintu masuk realistis bagi pembuat film daerah untuk menembus industri layar lebar. Salah satu contohnya film Makmum yang berawal dari tugas kuliah berdurasi satu menit.
Sebagai mahasiswa, Nabil menilai jalur bioskop hampir tak terjangkau karena slot tayang dan biaya promosi dikuasai pemain besar. Karena itu ia memilih festival film sebagai ruang menguji karya, belajar dari mentor, dan memperluas jaringan. Ia mengaku pernah menjuarai festival film pendek dokumenter di Padang.
Film Satu Menit yang Berbuah Layar Lebar
Nabil mencontohkan film Makmum yang berangkat dari tugas kuliah berdurasi satu menit. “Film makmum itu cuma tugas kuliah dari dosen Nabil, direkturnya itu dosen Nabil, Mas Riza Pahlevi,” katanya. Karya pendek itu lantas diikutkan festival film satu menit.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Dari festival itulah, kata Nabil, tim produksi komersil melihat peluang dan mengembangkannya menjadi film layar panjang. Ia terlibat sebagai bagian dari kru, dan pengalaman itu menurut dia menjadi salah satu jalan masuk ke industri yang lebih besar sebelum akhirnya ia memproduksi karya sendiri.
Jaringan di Festival dan Batasnya
Menurut Nabil, festival mempertemukan kreator pemula dengan sutradara, produser, dan aktor senior tanpa sekat kasta. “Festival film itu juga salah satu tempat kita buat networking,” ujarnya. Ia menyebut pengalaman mengikuti Jogja Asian Film Festival membuka relasi lewat sesi berbagi pengalaman dan tukar kartu nama.
Namun ia mengingatkan jalur festival tidak otomatis mengantar ke jalur komersil. Film festival, katanya, memiliki pembagian kelas A dan kelas B yang bergantung pada pengelolaan anggaran, sedangkan film komersil dituntut memikirkan berapa tiket yang akan terjual.
Di Sumatera Barat, Nabil menyoroti festival film Minangkabau yang digelar di Bukittinggi dengan peserta dari sejumlah daerah. Festival semacam itu, menurutnya, turut membangun ekosistem ekonomi kreatif daerah sekaligus menaikkan branding sineas muda yang belum punya akses ke jalur produksi besar.
Pembahasan lengkap soal ini bisa disimak dalam episode podcast Kusieh Bendi di kanal YouTube Dimensia Creative.









