GILI TRAWANGAN, ARGUMENRAKYAT.COM – Sebuah insiden yang melibatkan keluhan wisatawan mancanegara (WNA) terhadap suara tadarus Al-Qur’an di kawasan Masjid Gili Trawangan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB), menjadi perhatian publik setelah peristiwa tersebut ramai dibicarakan di media sosial.
Informasi yang dihimpun ArgumenRakyat.com, keluhan tersebut terjadi pada malam hari di awal bulan Ramadan 1447 Hijriah. Sejumlah WNA disebut mendatangi pengurus masjid setempat dan menyampaikan keberatan terkait penggunaan pengeras suara saat kegiatan tadarus karena dianggap mengganggu waktu istirahat.
Belum Ada Tindakan Anarkis
Berdasarkan keterangan warga sekitar, peristiwa tersebut tidak disertai tindakan kekerasan maupun perusakan fasilitas umum. Dialog sempat terjadi antara pihak pengurus masjid dan wisatawan yang menyampaikan keluhan.
“Tidak ada keributan besar, hanya penyampaian keberatan soal volume suara. Warga mencoba menjelaskan bahwa tadarus merupakan bagian dari ibadah Ramadan,” ujar seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya, Minggu (23/2/2026).
Tradisi Ibadah dan Kawasan Wisata
Gili Trawangan dikenal sebagai destinasi wisata internasional yang setiap tahunnya dikunjungi ribuan wisatawan asing. Di sisi lain, pulau ini juga memiliki masyarakat lokal yang menjalankan aktivitas keagamaan, termasuk tadarus Al-Qur’an selama bulan Ramadan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pemerintah desa setempat maupun Dinas Pariwisata NTB terkait insiden tersebut. Aparat keamanan juga belum mengeluarkan keterangan tertulis apakah peristiwa ini memerlukan penanganan khusus.
Viral di Media Sosial
Isu ini kemudian meluas setelah sejumlah akun media sosial membagikan narasi terkait protes WNA tersebut. Namun, hingga saat ini belum ditemukan rekaman video atau dokumentasi resmi yang dapat mengonfirmasi secara detail kronologi kejadian dari kedua belah pihak.
Imbauan Dialog dan Saling Menghormati
Sejumlah tokoh masyarakat di Lombok Utara mengimbau agar peristiwa ini disikapi dengan kepala dingin serta mengedepankan dialog. Mereka menekankan pentingnya saling menghormati antara wisatawan dan masyarakat lokal demi menjaga kondusivitas kawasan wisata.
ArgumenRakyat.com akan terus berupaya mengonfirmasi pihak-pihak terkait, termasuk pengurus masjid, pemerintah desa, serta otoritas pariwisata, guna memperoleh informasi yang lebih lengkap dan berimbang.
Penulis: Redaksi Argumen Rakyat
Editor: Admin AR









