Melihat Alasan Soeharto dalam Membubarkan PKI dan Loncatan Fatal Nasakom Bung Karno

- Jurnalis

Sabtu, 6 Juni 2026 - 12:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Soeharto, dengan gaya Colored Pencil Sketch Art

Soeharto, dengan gaya Colored Pencil Sketch Art

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Narasi sejarah republik acapkali terjebak dalam dikotomi kaku mengenai heroisme dan pengkhianatan. Namun, jika kita mengurai benang kusut transisi kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru, kita dipaksa melihat benturan tajam antara pragmatisme militer dan romantisme utopia politik.

Jejak inilah yang membentang lebar ketika Soeharto, berbekal Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), mengambil langkah drastis yang mengubah arah bandul politik Indonesia secara radikal: membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada 12 Maret 1966.

Untuk memahami rasionalitas di balik tindakan tersebut, lensa kita harus diarahkan pada kegagalan mendasar dari eksperimen politik Presiden Sukarno yang lazim dikenal sebagai Nasakom (Nasionalisme, Agama, Komunis).

Nah, gagasan ini sejatinya bukan barang baru. Jauh sebelum kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1926, Sukarno muda telah merumuskan konsep trias politik tersebut dalam tulisan monumentalnya mengenai sintesis ideologis melawan kolonialisme. Pada masa pergerakan, upaya menyatukan elemen-elemen ini dianggap sebagai sebuah diskursus intelektual yang lumrah dan wajar-wajar saja.

Namun, malapetaka kebangsaan mulai mengintai ketika Bung Karno melakukan modifikasi trias tersebut menjadi sebuah institusionalisasi politik formal dalam wujud Nasakom di era Demokrasi Terpimpin. Mengutip analisis mendalam Romo Magnis Suseno, langkah Bung Karno memodifikasi trias ini menjadi Nasakom di awal dekade 1960-an merupakan sebuah “loncatan ke dimensi yang lain”. Bung Karno melompat dari alam cita-cita idealistis ke dalam alam keras perebutan kekuasaan politik yang riil, tanpa menyadari risiko inheren yang terkandung di dalamnya.

Baca Juga:  Membedah Risalah "Introduksi tentang Soal-Soal Pokok Pokok Revolusi Indonesia" karya D.N Aidit

Kesalahan fatal dari kalkulasi politik Demokrasi Terpimpin adalah kegagalan dalam mengidentifikasi hakikat asli dari sebuah partai marxis-leninis tulen. PKI bukanlah sekadar pemain biasa di dalam arena kehidupan demokrasi yang bersedia tunduk pada konsep pluralisme demokratis. Doktrin Marxisme-Leninisme secara ideologis menolak pluralisme tersebut. Karakter dasar dari gerakan ini di belahan dunia mana pun adalah mengejar monopoli kekuasaan mutlak di bawah pimpinan partai yang eksklusif. Sifat pergerakan pki yang revolusioner memiliki watak utama: sekali mereka berhasil meraih dan memegang tampuk kekuasaan, mereka tidak akan pernah melepaskannya secara sukarela kepada entitas politik lain, dan tentunya ini adalah sebuah gejala.

Bung Karno, dengan obsesi besarnya terhadap persatuan nasional, berusaha mempersatukan unsur-unsur yang secara ideologis sebenarnya mustahil untuk disatukan. Dalam atmosfer politik yang kian terpolarisasi tersebut, PKI dengan cerdik memanfaatkan posisi strategis ini. Mereka menjadikan pelukan hangat Nasakom Bung Karno sebagai perisai politik sekaligus tameng pelindung dari ronggohan musuh-musuh politik mereka, terutama Angkatan Darat.

Eskalasi ketegangan ini mencapai titik nadir pasca-peristiwa berdarah Gerakan 30 September (G30S) 1965. Ketika Menteri Panglima Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani gugur di Lubang Buaya, terjadi kekosongan kepemimpinan (power vacuum) yang krusial di tubuh militer.

Baca Juga:  Mengenal Musso, Tokoh Radikal di Balik Peristiwa Madiun 1948

Berdasarkan tata laksana dan aturan internal Angkatan Darat yang berlaku saat itu, jika Panglima Angkatan Darat berhalangan, maka tongkat komando otomatis dipegang oleh Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad), yang saat itu dijabat oleh Soeharto.

Meskipun Bung Karno sempat menunjuk Jenderal Pranoto Reksosamodra sebagai pelaksana tugas, realitas politik di lapangan telah bergeser ke arah kendali Soeharto yang kemudian memegang mandat pemulihan keamanan dan ketertiban. Di tengah situasi makro ekonomi yang mengalami kebangkrutan parah pada tahun 1966 dan tekanan gelombang aksi massa yang menuntut Tritura (Tiga Tuntutan Rakyat), isu utama yang mengkristal di tengah masyarakat adalah satu: bubarkan PKI.

Bagi Soeharto, mengabaikan tuntutan publik untuk membubarkan PKI sama saja dengan memelihara bara dalam sekam yang mengancam stabilitas negara. Oleh karena itu, begitu mengantongi keabsahan yuridis formal melalui dokumen Supersemar, langkah pertama yang dieksekusi Soeharto keesokan harinya adalah memenuhi tuntutan konsensus masyarakat tersebut. Pembubaran PKI dipandang Soeharto sebagai prasyarat mutlak demi menciptakan stabilitas nasional, yang pada gilirannya menjadi fondasi utama bagi agenda pembangunan ekonomi jangka panjang Orde Baru. Eksperimen Nasakom yang utopis itu akhirnya runtuh, menyisakan sebuah pelajaran mahal tentang batas-batas kompromi ideologis di panggung politik kekuasaan. Dan terbitlah orde baru dengan segala gejala nya, begitupun otoritarianisme nya.

Berita Terkait

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia
Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh
Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi
Polisi Pariaman Ungkap 360 Liter Biosolar Subsidi
Mantan Bupati Gowa Ajukan Penangguhan Penahanan
Usai Tiga Hari Hujan, Asap Karhutla Balik ke Palembang
Imigrasi Grebek Vila di Bali, 17 WNA Diduga Jalankan Pinjol
Polisi Ungkap Pembunuhan Sadis Ibu dan Anak di Madiun

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:35 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:29 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Oktober 2026 - 11:23 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:45 WIB

Mantan Bupati Gowa Ajukan Penangguhan Penahanan

Selasa, 27 Oktober 2026 - 11:39 WIB

Usai Tiga Hari Hujan, Asap Karhutla Balik ke Palembang

Berita Terbaru

Advokat Hafis Alfarisi saat menjadi narasumber podcast Kusieh Bendi. (Foto: Dok. Podcast Kusieh Bendir)

Ekonomi

HGU Perusahaan vs Tanah Adat, Advokat Pilih Jalan Damai

Rabu, 28 Okt 2026 - 16:45 WIB

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Microsoft Tawarkan Resign Sukarela ke 60.000 Karyawan

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:38 WIB

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

TNI AL Amankan Kapal MV Global 88 Muat Rokok ke Malaysia

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:35 WIB

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Kamera Tersembunyi Ditemukan di Ruang Ganti RSUDZA Aceh

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:29 WIB

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi. (Foto: CNN Indonesia)

Nasional

Letda Kopassus Jadi Tersangka Kelalaian Penggunaan Senpi

Rabu, 28 Okt 2026 - 11:23 WIB