ARGUMENRAKYAT.COM, AGAM – Belum reda dari percakapan publik atas jeratan maut yang merundung harimau Sumatra betina berusia 11 bulan di Pasaman Kamis lalu, konflik ruang antara manusia dan predator puncak kembali pecah. Kali ini, lanskap bergeser ke Jorong Batang Palupuah, Nagari Koto Rantang, Kecamatan Palupuah, Kabupaten Agam. Aktivitas antropogenik yang kian agresif mendesak zona penyangga hutan disinyalir menjadi pemantik utama sang raja rimba turun gunung demi bertahan hidup.
Rentetan teror bermula pada Selasa, 19 Mei lalu, saat warga dikejutkan oleh hilangnya ternak secara misterius. Ekskalasi ketegangan meningkat ketika beberapa peladang bersitatap langsung dengan sang karnivora di area perkebunan. Merespons kepanikan massa, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) segera mengonstruksi taktik defensif.
Langkah represif-konservatif pun diambil. Petugas memasang perangkap guna memitigasi risiko fatal bagi kedua belah pihak. “Setelah itu BKSDA melakukan penanganan dengan memasang kandang jebak,” ujar Ade Putra, Kepala BKSDA Resort Kab. Agam, saat diwawancarai argumenrakyat.com, Sabtu, 23 Mei 2026.
Melalui rapat evaluasi, kepastian nasib satwa tersebut akhirnya benderang. “Setelah itu, rapat pada Jumat 22 mei harimau masuk kandang jebak dengan kelamin betina dan berusia dibawah 2 tahun,” cetus Ade. Evaluasi klinis menunjukkan bahwa satwa terancam punah ini tidak mengalami cedera struktural akibat proses koersi tersebut. “Untuk kondisi dari Harimau Sumatra sekarang sehat,” tambah Ade, legawa. Demi menjamin pemulihan psikologis dan keselamatan jangka panjang, otoritas berwenang segera memindahkan satwa tersebut. “Dan sudah dievakuasi ke Kebun Binatang Kandih di Sawahlunto,” ungkap Ade.
Guna mencegah repetisi tragedi di wilayah agraris ini, pihak berwenang merilis maklumat preventif. Sembari memantau fluktuasi pergerakan satwa lain di koridor hijau Agam, Ade menggarisbawahi pentingnya kewaspadaan kolektif masyarakat lokal. “Kami dari BKSDA menghimbau masyarakat untuk tetap waspada dan hati-hati ketika beraktivitas di kebun atau sawah, dan juga dalam mengkandangkan ternaknya dengan aman, dan segera melaporkan apabila menemukan tanda-tanda kemunculan harimau ke petugas,” demikian Ade memungkasi penjelasannya.









