JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Sebagian orang tua menyekolahkan anak sejak usia tiga tahun agar cepat mengenal huruf dan angka, namun dokter menilai sekolah dini tidak otomatis membuat anak lebih pintar.
Dokter spesialis anak subspesialis neurologi anak, Arifianto, mengatakan sekolah sejak usia dini tidak serta-merta berdampak buruk, asalkan metode belajar disesuaikan dengan tahap perkembangan dan minat anak.
“Jadi memang tidak bisa disimpulkan seperti itu, tapi tidak berarti juga sekolah yang lebih dini akan menghasilkan dampak yang lebih buruk, enggak juga,” kata Arifianto.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Korteks Prefrontal Belum Matang
Menurut Arifianto, perkembangan anak dapat dipantau melalui buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang memuat tahapan kemampuan sejak lahir hingga usia lima tahun. Meski perkembangan otak berlangsung pesat, anak usia tiga sampai empat tahun belum tentu siap mengikuti pembelajaran terstruktur seperti anak sekolah dasar.
Salah satu bagian otak yang masih berkembang adalah korteks prefrontal, yang berperan dalam pengambilan keputusan, pengaturan emosi, dan kemampuan mempertahankan perhatian. Karena itu, anak belum ideal bila dituntut duduk diam dan berkonsentrasi dalam waktu lama.
“Kalau pendekatannya masih belum berkembang dengan baik, tentu pembelajaran yang membuat anak harus fokus sampai sekian jam, mungkin lebih dari 15 menit, itu tidak ideal,” ujarnya.
Belajar Lewat Bermain
Arifianto menyarankan pembelajaran berbasis bermain atau play-based learning, yaitu kegiatan belajar melalui permainan, aktivitas fisik, dan aktivitas singkat yang bervariasi. Satu kegiatan sebaiknya tidak berlangsung lama, misalnya maksimal 15 sampai 20 menit, lalu bergantian dengan kegiatan lain.
Ia juga menepis anggapan bahwa sekolah pada usia tiga tahun memperlambat perkembangan otak. Menurutnya, interaksi dan stimulasi justru membentuk jalinan antarsel saraf atau synaptogenesis yang jumlahnya bisa mencapai triliunan dan terus bertambah seiring rangsangan yang diberikan kepada anak.









