JAKARTA, ArgumenRakyat.com — Kebiasaan menunda pekerjaan di kantor sering dianggap kemalasan, padahal psikolog menilai itu bisa menjadi salah satu tanda kecemasan kerja yang jarang dibahas.
Psikolog klinis Cathy Ranieri mengatakan banyak orang belum menyadari sejauh apa sistem saraf berperan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, tubuh bereaksi lebih cepat daripada kesadaran ketika seseorang merasa terbebani oleh pekerjaan.
“Di tempat kerja, ketika kita merasa kewalahan, terlalu banyak bekerja, atau gugup, sistem saraf bereaksi dengan menilainya sebagai potensi ancaman terhadap keselamatan kita,” jelas Ranieri.
ADVERTISEMENT
Iklan Info Sponsorship →Respons Fight or Run di Meja Kerja
Bagi sebagian orang, kondisi itu memicu respons fight or run. Akibatnya, pekerja justru menghindari tugas yang seharusnya dikerjakan. Penundaan menjadi cara tubuh bertahan dari ancaman yang sebenarnya tidak berwujud fisik.
Pekerja sosial klinis di Florida, Amerika Serikat, Jordan White, menilai penundaan pekerjaan sebagai gejala kecemasan yang jarang dibicarakan. “Seseorang yang mengalami kecemasan akan menghindari topik atau tugas yang membuatnya cemas, karena mengerjakannya hanya akan menimbulkan kekhawatiran yang mendalam,” ujar White.
Persoalannya, menghindar tidak menyelesaikan beban. Tugas dan tanggung jawab tetap ada, sementara rasa cemas justru menumpuk karena pekerjaan yang ditinggalkan semakin banyak dan tenggat semakin dekat.
Cara Mengelola Kecemasan Kerja
Ada beberapa langkah sederhana yang bisa dicoba. Pertama, memecah pekerjaan besar menjadi bagian kecil supaya tidak terasa mengancam. Kedua, membuat jadwal harian sepekan agar beban kerja terlihat lebih terukur dan tidak menumpuk di satu hari.
Langkah lain adalah memberi jeda sejenak dari rutinitas untuk memulihkan diri. Jika kecemasan terasa berat dan berlangsung lama, berkonsultasi dengan profesional menjadi pilihan yang lebih aman daripada membiarkannya berlarut-larut.









