Wow! Lapas Jadi Dapur MBG, Napi Dapat Kerja. Giliran Sarjana S1?

- Jurnalis

Kamis, 14 Mei 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lapas Jadi Dapur MBG, Napi Dapat Kerja. Giliran Sarjana S1?. Source: Google/DetikNews

Lapas Jadi Dapur MBG, Napi Dapat Kerja. Giliran Sarjana S1?. Source: Google/DetikNews

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA- Pemerintah resmi menggandeng Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) sebagai penggerak Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah daerah. Langkah ini membuka akses kerja bagi para pidana, namun menyisakan pertanyaan pahit bagi ribuan sarjana S1 yang masih sulit mendapatkan pekerjaan.

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Babakan, Kota Tangerang, resmi mempekerjakan warga binaan Lapas Kelas 1 Tangerang. Mereka bertugas di dapur program MBG.

Head Chef SPPG Babakan, Chef Kuming, menegaskan bahwa pihaknya tidak memilih tenaga kerja sembarangan. “Mereka (warga binaan) ini sudah dites psikolog, dites kesehatan, dan segala macam secara ketat,” ujarnya.

Para napi hanya diperbolehkan mencuci dan membersihkan kemasan. Mereka sama sekali tidak dilibatkan dalam proses memasak atau memegang benda tajam. Sebanyak empat hingga lima orang sipir selalu berjaga di pintu depan, belakang, hingga area jendela selama jam operasional.

Pemerintah merancang program ini sebagai sarana pembinaan. Napi bisa tetap produktif sambil menjalani masa tahanan. Mereka juga mendapat keterampilan sebelum kembali ke masyarakat.

Baca Juga:  Media Wahyudi Askar Kritik Target Penerima Makan Bergizi Gratis: Sebut Kebijakan Tidak Berbasis Data

Nasib Sarjana S1 Justru Terkatung-katung

Di sisi lain, nasib para sarjana S1 di luar sana sangat berbeda. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2026 mencapai 4,68 persen. Total pengangguran mencapai 7,24 juta orang.

Deputi Kemenko PM Abdul Haris mengungkapkan data mengkhawatirkan. Setiap tahun, perguruan tinggi menyumbang hampir 1 juta pengangguran baru. “Jangan sampai kampus hanya menjadi fabrikasi pengangguran,” tegasnya dalam forum diskusi di Surabaya.

Mengapa para sarjana sulit merebut posisi kerja? Pengamat ketenagakerjaan Tadjuddin Noer menyebut sektor formal hanya mampu menyerap 40 persen angkatan kerja. Sisanya, 60 persen, terlempar ke sektor informal atau prekariat. Akibatnya, banyak sarjana terpaksa menjadi ojek online.

Sekjen Kemendiktisaintek Badri Munir Sukoco juga menyoroti ketimpangan kurikulum. Setiap tahun, Indonesia meluluskan 490.000 sarjana pendidikan. Namun kebutuhan pasar untuk guru baru hanya sekitar 20.000 orang per tahun. Terjadi surplus besar-besaran.

Era digital juga menuntut kompetensi spesifik. Kecerdasan buatan, data analitik, dan ekonomi hijau menjadi kebutuhan industri. Sayangnya, banyak kampus belum mengajarkan hal itu secara maksimal.

Baca Juga:  Rekor Pecah! Harga Emas Antam Tembus Rp2,58 Juta Per Gram Akibat Gejolak Geopolitik Global

Ironi di Tengah Program MBG

Program MBG yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto memang telah menciptakan hingga 1,5 juta lapangan kerja. Namun publik bertanya: mengapa alokasi tenaga kerja itu justru masuk ke Lapas?

Mengapa tidak diberikan kepada lulusan S1 fresh graduate yang kelimpungan mencari pekerjaan? Pengamat kebijakan publik menilai, pemerintah punya urgensi memenuhi target produksi MBG. Mereka butuh tenaga kerja yang tersedia tanpa rekrutmen dan pelatihan panjang.

Sayangnya, kelompok tenaga kerja yang paling tersedia adalah warga binaan. Mereka sudah berada di lokasi dan terstruktur. Kondisi ini jelas mengkhawatirkan.

Jika kampus tidak segera menyesuaikan kurikulum dengan pasar, dan pemerintah terus memprioritaskan sumber daya manusia non-terdidik, maka ke depannya akan semakin banyak sarjana kehilangan arah. Mereka akhirnya banting setir ke profesi apa pun demi bertahan hidup—bahkan jika harus bersaing dengan napi di dapur MBG.(**)

Berita Terkait

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS
Video Commerce Dinilai Jadi Peluang UMKM Perkenalkan Produk
Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029
DPR Setujui Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun untuk 2027
Kemensos: KPM Makin Banyak Ajukan Sanggahan Data Bansos
Platform AI Bantu Pelaku Usaha Layani Pelanggan via WhatsApp
Kadin: Dunia Usaha Harus Bergerak Kejar Pertumbuhan 6 Persen
RAPBN 2027: Ekonomi Tumbuh 6 Persen, Inflasi 2,5 Persen

Berita Terkait

Sabtu, 12 September 2026 - 10:14 WIB

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS

Rabu, 9 September 2026 - 10:15 WIB

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029

Selasa, 8 September 2026 - 10:10 WIB

DPR Setujui Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun untuk 2027

Senin, 7 September 2026 - 12:21 WIB

Kemensos: KPM Makin Banyak Ajukan Sanggahan Data Bansos

Jumat, 4 September 2026 - 10:26 WIB

Platform AI Bantu Pelaku Usaha Layani Pelanggan via WhatsApp

Berita Terbaru

13 Jenis Hamster yang Bisa Dipelihara Pemula. (Foto: CNN Indonesia)

Tips

13 Jenis Hamster yang Bisa Dipelihara Pemula

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:24 WIB

Chip AI China Melonjak Harga, Ini Faktor Kelangkaan. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Chip AI China Melonjak Harga, Ini Faktor Kelangkaan

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:19 WIB

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS. (Foto: iNews.id)

Ekonomi

Prabowo Tiba di India Hadiri KTT BRICS

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:14 WIB

Dentuman Keras Gegerkan Warga Gorontalo Dini Hari. (Foto: Dok. ANTARA)

Nasional

Dentuman Keras Gegerkan Warga Gorontalo Dini Hari

Sabtu, 12 Sep 2026 - 10:08 WIB