Purbaya Tegaskan Efisiensi Program Makan Bergizi Gratis demi Amankan Anggaran

- Jurnalis

Senin, 29 Juni 2026 - 11:22 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa (Dok. kemenkeu.go.id)

Foto: Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa (Dok. kemenkeu.go.id)

ARGUMENRAKYAT.COMJAKARTA – Menteri Keuangan Purbaya memberikan sinyal kuat bahwa tata kelola anggaran negara bakal diperketat, terutama terkait program-program raksasa pemerintah. Langkah ini diambil menyusul adanya laporan evaluasi mendalam mengenai efisiensi berkelanjutan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG).

ADVERTISEMENT

🎙️ Info Sponsorship
Iklan

SCROLL TO RESUME CONTENT

Purbaya menekankan pentingnya penghematan demi menjaga stabilitas fiskal, tanpa harus mengorbankan kualitas program yang ditujukan untuk masyarakat tersebut.
“Saya pikir cukup signifikan tapi nanti biar Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) yang mengumumkan,” ujar Purbaya Jum’at, 26 Juni 2026, di kantornya.

Pertemuan krusial yang berlangsung pada akhir Juni 2026 tersebut membedah ulang postur anggaran MBG yang semula direncanakan mencapai ratusan triliun rupiah. Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mendorong pemotongan alokasi pos-pos non-esensial dalam distribusi program agar tidak menjadi beban APBN.

Kendati enggan mendahului pengumuman resmi mengenai nominal pasti penghematan tersebut, mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu tidak menampik bahwa arah kebijakan fiskal saat ini menuntut pemangkasan yang agresif namun terukur.

Ketika didesak oleh awak media mengenai seberapa besar efisiensi yang ia harapkan secara pribadi dari program MBG ini, sang Bendahara Negara melontarkan pernyataan yang cukup menggelitik sekaligus tegas: “Kalau saya maunya nol, tapi enggak bisa kan. Dan kalau berhenti juga enggak benar karena programnya program yang bagus, tinggal implementasi hanya diperbaiki,” tururnya.

Baca Juga:  Muktamar ke-35 NU Ricuh, Pendukung Gus Yusuf Dobrak Barikade

Pria yang pernah menjadi Dosen Pascasarjana (S3) di bidang Ekonomi Bisnis di Universitas Indonesia (UI) itu menambahkan bahwa fokus utama Kemenkeu adalah mengamankan sirkulasi keuangan negara. “Cukup signifikan pengurangannya. Yang jelas anggaran kita menjadi lebih aman,” tegas Purbaya.

Kemenkeu pun menyatakan sepakat atas segala usulan pemotongan pos anggaran yang diajukan internal BGN, bahkan mendorong jika nominalnya bisa diperbesar lagi. “Saya setuju, apalagi kalau dipotong lebih banyak lagi… tapi biar programnya jalan,” imbuhnya.

Selain soal pos anggaran, Kemenkeu menyoroti lemahnya fungsi pengawasan implementasi program di tingkat daerah. Untuk mengatasi kebocoran distribusi, Purbaya mengambil langkah intervensi taktis dengan mengerahkan jaringan vertikal kementeriannya di daerah untuk memantau langsung Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG).

“Kalau gitu ya sudah, yang ngawasin daerah-daerah biar aja Kementerian Keuangan. Nanti orang-orang saya di daerah akan monitor SPPG-SPPG itu secara berkala,” ucap Purbaya.

Baca Juga:  Pelemahan Rupiah Ancam PHK Massal, Ini Kata Pengamat

Pengawasan ketat ini bahkan melibatkan opsi sanksi penghentian anggaran secara sepihak jika ditemukan ketidakberesan di lapangan. “Mereka juga setuju kalau enggak benar boleh tutup aja Pak, kita diskusikan seperti itu,” sambungnya.

Di sisi lain, alumnus Teknik Elektro (ITB) itu juga menerangkan, bahwa langkah efisiensi dan perombakan struktur ini merupakan bukti ketegasan Presiden Prabowo Subianto dalam membenahi tata kelola pemerintahan. Menurutnya, perbaikan manajemen internal ini ditujukan untuk memangkas birokrasi yang gemuk. “Fakta bahwa kepala yang sebelumnya masuk itu kan artinya apa? Pak Prabowo serius memperbaiki tata kelola dan efisiensi MBG dan efisiensi penggunaan anggaran. Jadi enggak main-main itu,” cetus Purbaya.

Kendati pos anggaran dipangkas secara masif, Menkeu memastikan bahwa pemotongan tersebut tidak akan mengurangi kualitas gizi atau porsi makanan yang diterima oleh anak-anak sekolah. Penghematan murni disisir dari optimalisasi rantai pasok, manajemen logistik, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Melalui formula baru ini, pemerintah berharap program prioritas nasional tetap berjalan optimal tanpa memicu risiko defisit anggaran yang membengkak di akhir tahun anggaran.

Berita Terkait

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029
Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina
DPR Setujui Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun untuk 2027
Longsor Tambang Ilegal Sumbawa Tewaskan 3 Penambang
Kemensos: KPM Makin Banyak Ajukan Sanggahan Data Bansos
Kebakaran Eks Gedung MNC TV Diduga Akibat Korsleting
Kadin: Dunia Usaha Harus Bergerak Kejar Pertumbuhan 6 Persen
KPK Periksa Ketua Komisi I DPRD Bengkulu Bambang Hermanto

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 10:15 WIB

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029

Rabu, 9 September 2026 - 10:08 WIB

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina

Selasa, 8 September 2026 - 10:10 WIB

DPR Setujui Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun untuk 2027

Selasa, 8 September 2026 - 10:05 WIB

Longsor Tambang Ilegal Sumbawa Tewaskan 3 Penambang

Senin, 7 September 2026 - 12:21 WIB

Kemensos: KPM Makin Banyak Ajukan Sanggahan Data Bansos

Berita Terbaru

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua. (Foto: CNN Indonesia)

Gaya Hidup

7 Ciri Anak Cerdas yang Jarang Disadari Orang Tua

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:25 WIB

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos. (Foto: CNN Indonesia)

Digital

Australia Usulkan Aturan Matikan Algoritma Medsos

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:20 WIB

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029. (Foto: Tribunnews)

Ekonomi

Utilisasi Industri Kopi Ditargetkan 86,6 Persen pada 2029

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:15 WIB

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina. (Foto: Tribunnews)

Nasional

Putin-Trump Telepon Bahas Upaya Akhiri Perang Ukraina

Rabu, 9 Sep 2026 - 10:08 WIB