Mentan: Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyerap Utama 165 Juta Petani

- Jurnalis

Kamis, 7 Mei 2026 - 13:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyerap Utama 165 Juta Petani. Source: Liputan6.com

Foto Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyerap Utama 165 Juta Petani. Source: Liputan6.com

ARGUMENRAKYAT.COM, JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan peran penting Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini kini menjadi penyerap utama hasil panen sekitar 165 juta petani Indonesia.

MBG merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto. Program ini menciptakan kepastian pasar. Hasil produksi petani pun terserap optimal. Petani tidak perlu khawatir kelebihan pasokan. Kelebihan pasokan biasanya menekan harga jual.

MBG Sebagai Offtaker 165 Juta Petani

“Itu MBG jangan lihat berdiri sendiri. MBG berdiri menjadi offtaker 165 juta petani Indonesia,” tegas Mentan. Beliau menyampaikan hal ini usai diskusi dengan perwakilan BEM di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Permintaan tetap dari program MBG memperpendek rantai pasok pangan. Aktivitas produksi, distribusi, dan konsumsi berjalan terintegrasi. Kondisi ini menstabilkan harga di tingkat petani. Hasilnya, kesejahteraan produsen lokal ikut meningkat.

Baca Juga:  Gerobak Kopi yang Mengubah Hidup: Kisah Sukses Kopi Ajoe dari Payakumbuh

Mentan Amran juga menjelaskan dampak program ini terhadap ekonomi desa. “Itu akan membuat anak-anak kita cerdas, penuh gizi. Kemudian ekonomi berputar di desa. Pasar ini hidup dan langsung yang merasakan rakyat,” ujarnya.

Skema MBG menyerap langsung hasil produksi petani ke dapur MBG. Dapur MBG disebut Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). SPPG tersebar di berbagai daerah. Program ini tidak hanya menyehatkan generasi penerus. MBG juga menjadi motor penggerak ekonomi kerakyatan. Program ini melindungi para produsen pangan lokal.

Pernyataan Mentan didukung data konkret. Badan Gizi Nasional (BGN) merilis angka-angka penting. Deputi BGN Tigor Pangaribuan menyampaikan rincian kebutuhan satu SPPG.

Dalam satu tahun, satu SPPG membutuhkan 40 ton beras dan 45–50 ton sayur.

Anggaran per SPPG mencapai sekitar Rp7 miliar per tahun. Sekitar 70 persen anggaran itu langsung untuk membeli bahan baku pangan. Pembeliannya dari petani dan pelaku usaha lokal.

Baca Juga:  Peluang Emas UMKM 2026: Cara Daftar Jadi Mitra Program Makan Bergizi Gratis, Anggaran Tembus Rp335 Triliun

Pemerintah menargetkan 30.000 SPPG. Jika target terwujud, perputaran ekonomi untuk pembelian bahan pangan sangat besar. Contohnya, dengan hanya 1.000 SPPG, potensi perputaran uang mencapai sekitar Rp7 triliun per tahun. Angka itu baru dari pembelian bahan pangan. Belum termasuk efek berganda di sektor logistik dan tenaga kerja.

Peningkatan kesejahteraan petani juga terlihat dari data resmi. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 mencapai 125,45. BPS mencatat angka ini sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah.

Program MBG juga terbukti menyerap tenaga kerja. Sekitar 800.000 tenaga kerja langsung bekerja di SPPG. Ribuan pemasok bahan pangan di seluruh Indonesia juga merasakan manfaatnya.(**)

Berita Terkait

Mualem Peringatkan Jakarta: Jangan Jadikan Aceh Penonton di Blok Andaman
Dony Oskaria Tegaskan Transparansi Danantara, Tepis Kekhawatiran Birokrasi Gemuk
Rupiah Merosot dan Buruh yang Terjepit Badai PHK
Wilmar dan Teka-Teki Pelarian Devisa Sawit
Dinamika Perekonomian Masyarakat Minangkabau: Mengenang Kejayaan Dagang Pariaman Abad XIX
Tren ‘Co-Working Space’ Alternatif:Kedai Kopi Lokal Bertransformasi Jadi Kantor Kedua Anak Muda
Bukan Cuma Iseng, Ini 3 Profesi Digital Baru yang Paling Diburu Industri Kreatif Tahun Ini
Memulai Bisnis Sampingan Tanpa Modal Besar: Strategi Memanfaatkan Keahlian Jasa

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 11:16 WIB

Dony Oskaria Tegaskan Transparansi Danantara, Tepis Kekhawatiran Birokrasi Gemuk

Sabtu, 30 Mei 2026 - 11:24 WIB

Rupiah Merosot dan Buruh yang Terjepit Badai PHK

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:39 WIB

Wilmar dan Teka-Teki Pelarian Devisa Sawit

Senin, 25 Mei 2026 - 15:30 WIB

Dinamika Perekonomian Masyarakat Minangkabau: Mengenang Kejayaan Dagang Pariaman Abad XIX

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:00 WIB

Tren ‘Co-Working Space’ Alternatif:Kedai Kopi Lokal Bertransformasi Jadi Kantor Kedua Anak Muda

Berita Terbaru